Ada Apa dengan Mahabarata?

Ada Apa dengan Mahabarata?

(sumber foto : http://www.instagram24.com/tag/astronaughty)

Oleh : Restin Septiana

Bacaekon.com-Kampus. Management Festival atau Pekan Manajemen yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) hampir selalu dilaksanakan setiap tahunnya. Berbagai rangkaian kegiatan biasanya digelar, mulai dari kuliah umum, lomba karya tulis ilmiah hingga kegiatan hiburan.

Bertajuk Mahabarata Luminousphere yang akan dihelat di Stadion Kridosono pada Sabtu, 16 Mei 2015 mulai pukul 16.30 WIB hingga selesai. Beragenda food and beverages, color splash party, dan community tersebut kian menarik perhatian khalayak civitas akademik FE UII. Namun dibalik kegaduhan desus yang berkembang, Selasa (21/4) tampak perwakilan dari HMJM atau yang lebih dikenal sebagai Management Community (MC) tersebut tampak menyambangi kantor Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FE UII pada sore hari. Rapat tertutup yang diadakan di kantor DPM FE UII tersebut berkaitan dengan pengkajian ulang acara Mahabarata yang dihelat oleh MC.

Polemik berkembang terkait pengkajian ulang acara Mahabarata yang telah lolos verifikasi baik di tingkat Lembaga Ekskutif Mahasiswa (LEM) FE UII bahkan hingga DPM FE UII. Setiap kegiatan yang telah lolos verifikasi sejatinya tinggal menghitung hari pelaksanaan kegiatan tersebut. Begitulah realita yang kerap terjadi. Lantas apa yang menyebabkan pengkajian ulang acara Mahabarata Luminousphere tersebut? Alhasil mahasiswa kembali mempertanyakan wakil-wakil mereka sebagai pihak pengambil keputusan kelayakan sebuah proposal kegiatan hingga dapat lolos dalam forum yang mengatasnamakan verifikasi.

“Maaf ya kita gak bisa, mau pergi,” ungkap Nawa mahasiswi jurusan manajemen yang mewakili MC, saat hendak dikonfirmasi terkait acara Mahabarata dan pembahasan rapat tertutup bersama DPM FE UII. Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPM FE UII Dimas Wibisono, “Nanti saja langsung sama Ketua (DPM FE UII), ini belum beres masih dikaji ulang.”

Tidak putus asa tim LPM Ekonomika lantas menyambangi kantor LEM FE UII, mencoba meminta konfirmasi dari ketua LEM FE UII. Sebab verifikasi proposal kegiatan yang pertama ialah melewati ketua LEM FE UII. “Ya nanti langsung saja ke ketua DPM (FE UII). Saya tahu ini (informasi) kebutuhan mahasiswa tapi gimana kalo sebagai narasumber saya meggunakan hak saya untuk tidak mau angkat bicara,” ujar Maftuhi Firdaus selaku ketua LEM FE UII. Sementara ketua DPM FE UII tidak terlihat berkantor pada Rabu (22/4).

Hingga berita ini diterbitkan ketiga pihak terkait (baca: MC, LEM FE UII, DPM FE UII) masih enggan memberikan konfirmasi. Patut disesalkan sebab masiswa tengah menunggu jawaban dan kepastian.

 

Reporter : Ageng, Kandera, Restin

 

LPM Ekonomika menerima hak jawab dari setiap pihak yang terkait dalam pemberitaan.

3069 Total Views 2 Views Today

Related Post

6 Comments

  • Sedikit meralat yaa, DPM tingkat fakultas kepanjangannya Dewan Perwakilan Mahasiswa, sedangkan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa adalah DPM tingkat universitas. Singkatannya sama tetapi kepanjangannya beda.

    Reply
  • Rusak sekali sistem legalitas kampus ini. Mudah-mudahan PEMILWA tahun ini melahirkan sosok-sosok kredibel yang bisa mengawal dan membangun dinamika berlembaga di kampus yang lebih sehat dan kompetitif. Amiin.
    Maju terus KM FE UII.
    Maju terus LPM Ekonomika.

    Reply
  • Kita tidak bisa menyimpulkan baik/ buruk dari sistem yang sedang berkembang saudara Scanlesfw. Adanya celah maupun kelalaian, hal tersebut masih manusiawi. Namun bagaimana isu ini berlanjut, bagaimana narasumber diatas memberikan statement-nya, hal tersebut merupakan tugas kami sebagai agent of control (jurnalis). Terima Kasih saudara Scanlesfw sudah peduli dengan perkembangan isu di kampus kita yang tercinta. Semoga PEMILWA tahun ini menghasil sosok-sosok yang lebih dan lebih baik lagi.

    Reply
  • “Untuk itu, amat heran jika ada sebagian kalangan petinggi negeri ini yang selalu memojokkan umat Islam berkenaan dengan sikap tegas mereka terhadap umat lain, semisal larangan umat Islam untuk tidak mengucapkan Selamat Natal kepada umat Nashrani, sering dianggap intoleransi. Padahal yang jelas-jelas intoleransi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *