Posisi ekonomi Indonesia saat ini lebih kokoh dibandingkan masa awal kemerdekaan. BPS mencatat ekonomi nasional pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan dibandingkan triwulan I 2025. Namun, tantangan seperti inflasi, melemahnya daya beli, kesenjangan antarwilayah, dan tingginya pekerja bebas masih perlu diatasi. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,4–5,6 persen pada 2026 dengan menjaga konsumsi, mendorong investasi produktif, dan membuka lapangan kerja, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan masyarakat melalui harga stabil, pekerjaan layak, pendidikan yang mudah diakses, dan peluang usaha.Setelah 81 tahun merdeka, Indonesia telah menempuh jalan ekonomi yang panjang, berat, dan penuh pelajaran. Berawal dari negara muda dengan kas negara yang kosong dan inflasi yang tidak terkendali, Indonesia kini tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara. Meski demikian, pencapaian ini menyisakan satu pertanyaan mendasar, setelah lebih dari delapan dekade merdeka, sudahkah ekonomi Indonesia benar-benar berdiri diatas kakinya sendiri dan mensejahterakan seluruh rakyatnya?
Untuk menjawab tantangan itu, hilirisasi menjadi kunci. Kekayaan alam Indonesia mulai dari nikel, batu bara, tembaga, hingga kelapa sawit tidak akan cukup menghantarkan bangsa ini menjadi negara maju jika hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Hilirisasi harus diarahkan untuk melahirkan produk bernilai tambah tinggi, penguasaan teknologi, sekaligus perluasan lapangan kerja bagi tenaga kerja dalam negeri.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak berguna jika hasilnya hanya dinikmati segelintir pihak. Kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, antara kota dan desa, menjadi persoalan yang sampai saat ini masih belum tuntas. Pembangunan besar seperti hilirisasi memang penting, tetapi harus ikut mempertimbangkan kehidupan masyarakat kecil, agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh semua lapisan, bukan hanya oleh segelintir pelaku usaha besar.
Arah pembangunan ekonomi perlu didekatkan dengan denyut kehidupan masyarakat. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), nelayan, petani, dan pelaku usaha di berbagai daerah adalah penopang utama perekonomian bangsa. Mereka memerlukan kemudahan akses permodalan, pendampingan usaha, infrastruktur yang layak, serta jalan masuk ke pasar digital yang lebih luas. Fondasi ekonomi akan semakin kuat apabila pertumbuhannya lahir dari bawah, bukan hanya terpusat di atas.
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, perjuangan Indonesia tidak lagi sebatas mempertahankan kemerdekaan secara fisik, tetapi memastikan kekuatan ekonomi dapat dikelola secara mandiri dan dirasakan seluruh rakyat. Tantangannya adalah menciptakan pekerjaan yang layak, mengurangi ketimpangan, serta mendorong ekonomi yang tidak hanya bergantung pada konsumsi dan komoditas, tetapi juga bertumpu pada inovasi, industri bernilai tambah, kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan berkelanjutan.
Di usia 81 tahun kemerdekaan, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari tingginya angka PDB. Indonesia perlu memastikan pertumbuhan tersebut membawa kehidupan yang lebih layak, adil, dan sejahtera bagi masyarakat.
Narasi: Tim Redaksi
Editor: Haneef Ar Rafi
Ilustrasi: Muhammad Irzanul Akhfani


