32.3 C
Yogyakarta
Saturday, September 19, 2026
HomeBeritaDari Menteri Kembali Jadi Trader? Mengupas ‘Hubungan’ Purbaya dengan Pasar

Dari Menteri Kembali Jadi Trader? Mengupas ‘Hubungan’ Purbaya dengan Pasar

Purbaya Yudhi Sadewa hanya memiliki waktu sekitar satu tahun untuk menduduki kursi Menteri Keuangan. Hingga Senin, 14 September 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatannya dan menunjuk sekaligus melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru. Pergantian jabatan ini dinilai sangat mendadak dan langsung mendapat perhatian pasar. 

Pencopotan jabatan ini menyoroti kembali sosok Purbaya yang sejak lama dikenal dekat dengan dunia pasar keuangan. Sesaat setelah Purbaya dicopot, putranya, Yudo Sadewa, mengunggah pernyataan mengenai sang ayah. Ia menyebut Purbaya kini dapat kembali menjalani aktivitasnya sebagai trader.

“Guys, akhirnya bapak bisa tidur nyenyak guys, aduh. Jadi trader lagi guys bapak. Tidak jadi itu lagi, tidak jadi menteri lagi. Balik jadi trader,” ujar Yudo dalam unggahan Tiktoknya (14/9/2026).

Dalam unggahan Instagram Story, Yudo juga menulis, “Pensiun aja dari politik, enak jadi trader gajinya miliaran per bulan. Jadi menteri gaji kecil, kerjanya nonstop ngurusin negara yang bawahannya korup,” tulis Yudo (14/9/2026).

Pernyataan tersebut membuka kembali rekam jejak hubungan Purbaya dengan dunia pasar keuangan. Jauh sebelum menduduki jabatan Menteri Keuangan, Purbaya telah lama memiliki rekam jejak panjang di sektor keuangan, sejalan dengan latar belakang akademiknya di bidang ekonomi. Setelah menyelesaikan pendidikan teknik elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB), Purbaya melanjutkan studi ekonomi hingga meraih gelar master dan doktor dari Purdue University. 

Rekam jejak tersebut menjadi langkah awal Purbaya sebelum menjadi Menteri Keuangan. Purbaya merupakan ekonom yang telah berkarir di sektor keuangan sejak awal 2000-an. Ia pernah menjadi ekonom di Danareksa Research Institute dan kemudian menjabat sebagai Presiden Direktur di PT Danareksa Securities. Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi di pemerintahan sebelum akhirnya menjadi Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tahun 2020–2025.

Kedekatannya dengan pasar keuangan bukan sekadar persepsi. Sehari setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan, saat IHSG melemah 1,28 persen ke level 7.766,84, Purbaya secara terbuka menegaskan rekam jejak dan pengalamannya di pasar keuangan. “Mungkin pasar tidak tahu saya orang pasar. Saya di pasar sejak tahun 2000, 15 tahun lebih,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip dari ANTARA (8/9/2025).

Kedekatan Purbaya terhadap pasar keuangan terlihat dari sejumlah pernyataannya selama menjabat. Pada awal 2026, Purbaya bahkan memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 10.000. “Tahun ini (IHSG) 10.000, itu bukan angka yang mustahil untuk dicapai,” kata Purbaya seusai pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2026, dikutip dari ANTARA (2/1/2026).

Optimisme tersebut tidak berhenti di awal tahun saja. Ketika IHSG justru melemah begitu tajam pada bulan Maret, Purbaya tetap mempertahankan proyeksinya. “To the moon, tetap 10.000 (di akhir tahun) masih bisa,” kata Purbaya, dikutip dari ANTARA (16/3/2026).

Cara Purbaya berkomunikasi juga menjadi sorotan publik. Sejak awal menjabat, ia dikenal dengan gaya bicara yang blak-blakan, lugas, dan minim bahasa birokratis. Gaya tersebut bahkan sempat disebut sebagai gaya komunikasi “cowboy” dan membuat Purbaya cepat menjadi figur yang ramai diperbincangkan publik maupun media. 

Namun, komunikasi yang terbuka tersebut juga memiliki konsekuensi ketika sentimen pasar mulai memburuk. Setelah bertemu dengan sejumlah investor global di Amerika Serikat pada April 2026, Purbaya mengungkapkan bahwa investor tersebut memberikan masukan agar pemerintah Indonesia memperkuat komunikasi dengan pasar internasional. “Mereka bilang, fiskal kita sebenarnya sudah benar, cuma komunikasinya harus lebih baik,” ujar Purbaya, dikutip dari BeritaSatu (April 2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana Purbaya memandang pasar saham sebagai refleksi dari fundamental ekonomi. Ia beberapa kali menekankan bahwa yang perlu dijaga pemerintah saat ini bukan indeksnya secara langsung, melainkan kondisi ekonomi yang menjadi fondasi pasar.

Beberapa bulan kemudian, Purbaya bahkan mengakui bahwa komunikasi menjadi salah satu kelemahan pemerintah ketika sentimen negatif mulai menekan rupiah dan IHSG. “Cuma kelemahan kita adalah apa, kita kurang cukup baik menjelaskan ke publik mungkin,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, dikutip dari Suara.com (8/6/2026).

Pendekatan Purbaya sebagai Menteri Keuangan juga cenderung pro-pertumbuhan. Salah satu kebijakan awalnya adalah menempatkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah pada sejumlah bank umum untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong penyaluran kredit. Kebijakan tersebut menunjukkan keyakinan Purbaya bahwa likuiditas perlu segera masuk ke sistem keuangan agar aktivitas ekonomi bisa bergerak. Namun, selama masa jabatannya, pasar tetap menghadapi tekanan yang cukup besar.

Pada 2026, rupiah dan pasar saham Indonesia mengalami tekanan akibat kombinasi berbagai faktor domestik maupun eksternal. Fitch bahkan merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Maret 2026, hal ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi bauran kebijakan.

Di sisi fiskal, proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 juga semakin melebar. Pemerintah memperkirakan defisit sekitar 2,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) mendekati batas 3 persen yang ditetapkan oleh undang-undang.

Artinya, masa jabatan Purbaya sebagai Menteri Keuangan berlangsung di tengah tarik-menarik antara upaya mendorong pertumbuhan, menjaga ruang fiskal, dan mempertahankan kepercayaan investor. Di sinilah optimisme Purbaya menarik untuk dibandingkan dengan angka pasar.

Saat Purbaya dilantik pada 8 September 2025, IHSG ditutup di level 7.766,84. Sementara pada saat ia dicopot dari jabatannya, 14 September 2026, IHSG melemah di sekitar 6.534,69. Dengan demikian, IHSG berada sekitar 15,9 persen lebih rendah dibandingkan level saat Purbaya mulai menjabat.

Padahal, pada Januari 2026 Purbaya menargetkan IHSG 10.000. Target tersebut membutuhkan kenaikan sekitar 28,7 persen dari level IHSG ketika ia mulai menjabat, tetapi hingga akhir masa jabatannya justru indeks berada di bawah level awal tersebut.

Angka tersebut tentu tidak secara otomatis membuktikan bahwa kebijakan Purbaya dapat menyebabkan pelemahan IHSG karena pasar dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, geopolitik, arus modal asing, hingga sentimen terhadap kebijakan pemerintah.

Namun, angka tersebut tetap memberikan satu kontras yang sulit diabaikan, Purbaya memasuki Kementerian Keuangan sebagai sosok yang mengaku “orang pasar”, membawa optimisme terhadap IHSG, bahkan menargetkan indeks 10.000. Namun, Ia meninggalkan jabatan tersebut ketika IHSG justru berada pada level yang lebih lemah dibandingkan saat ia masuk.

Pada akhirnya, kedekatan Purbaya dengan dunia pasar keuangan dan investor memang memiliki dasar yang kuat dalam rekam jejak profesionalnya, sehingga pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi apakah Purbaya memahami pasar, melainkan seberapa jauh pemahaman Purbaya mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang dapat dipercaya oleh pasar.

Penulis : M. Jimly Nurdzaki

Editor : Atika Yuliana Dewi

Ilustrator : Rovi Edgar Jeconea

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
LPM Ekonomika FBE UII

Terpopuler