30.2 C
Yogyakarta
Wednesday, June 24, 2026
HomeBeritaSaat Modal Asing Kabur dan Rupiah Tertekan, Gejolak Pasar Saham, dan Beban...

Saat Modal Asing Kabur dan Rupiah Tertekan, Gejolak Pasar Saham, dan Beban Hidup Masyarakat yang Kian Berat

Perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berlapis. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi Rp 18.171 pada 8 Juni 2026 dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 5.324 akibat aksi jual oleh investor asing. Tekanan ini mengancam daya beli masyarakat Indonesia, hal ini kian diperparah oleh kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu lonjakan inflasi ke 3,08%. Kombinasi pemburukan indikator makroekonomi ini memaksa otoritas moneter untuk segera merumuskan langkah intervensi guna menahan depresiasi rupiah yang kian melebar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah saat ini terjadi lebih dalam dibandingkan proyeksi bank sentral sebelumnya. “Nah, dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat, kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu. Karena itu, langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah perlu dilakukan,” kata Perry, dikutip dari Kompas (23/6/2026). Sebagai respons nyata untuk menstabilkan kurs dan mengendalikan inflasi, BI langsung mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Langkah darurat bank sentral ini dipicu oleh pergerakan mengkhawatirkan pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terpantau merosot dari level Rp17.673 per dolar AS pada 21 Mei 2026 menjadi Rp18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026. Meskipun sempat menguat tipis ke level Rp17.868 per dolar AS pada 23 Juni 2026, posisi ini dinilai masih rentan menaikan biaya impor industri nasional serta menambah tekanan harga pada komoditas yang bergantung pada bahan baku luar negeri.

Tekanan nilai tukar rupiah juga mendorong pemerintah untuk menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. PT Pertamina sebelumnya juga telah menaikkan harga Pertamax Turbo dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter, Dexlite dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter pada 18 April 2026. Kenaikan ini turut mendorong inflasi pada biaya transportasi sebesar 2,3% dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,94% berdasarkan data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026.

Tekanan kenaikan komoditas energi dan bahan pokok mulai dirasakan masyarakat. “Inflasi tahunan Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen mulai memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan,” ujar Rizal, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dikutip dari Kompas (23/6/2026). 

Dampak rambatan dari lonjakan harga dan pengetatan moneter ini mulai mengurangi rasa optimisme konsumen di dalam negeri. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 terpantau turun dari 123,0 pada April menjadi 120,9. Penurunan ini didorong oleh melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) ke level 112,2 akibat merosotnya tiga komponen utama, terutama Indeks Penghasilan Saat Ini dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama yang turun secara signifikan.

Meski optimisme masyarakat mulai goyah, BPS mencatat fundamental perekonomian nasional pada Triwulan I-2026 sebenarnya masih tumbuh, yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sangat besar terhadap PDB. Namun, data tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan penuh mengingat produk domestik bruto (PDB) nasional sudah mencatatkan kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya, yang mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan ekonomi mulai melambat menjelang pertengahan tahun.

Penulis : Muhammad Yusuf Dithiessa Akbar

Editor : Haneef Ar Rafi 

Ilustrasi : Meli Amaliyah

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
LPM Ekonomika FBE UII

Terpopuler