21.9 C
Yogyakarta
Saturday, July 25, 2026
HomeBeritaKetika Forum Aspirasi Berubah Menjadi Ajang Adu Emosi

Ketika Forum Aspirasi Berubah Menjadi Ajang Adu Emosi

Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang semula digagas oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (DPM FBE UII) sebagai panggung dialektika kritis dan apresiatif mendadak kehilangan marwahnya. Niat baik menghidupkan ruang diskusi yang aktif dan sehat justru berubah ketika ruang argumen bergeser menjadi ajang adu emosi, dipicu oleh tindakan emosional di luar forum yang dinilai melampaui batas etika berorganisasi. 

RDP sendiri merupakan forum dialektika dua arah yang memfasilitasi DPM FBE UII, Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (LEM FBE UII), serta seluruh pimpinan lembaga mahasiswa di bawahnya untuk menyalurkan aspirasi, menyelaraskan garis waktu, dan membedah program kerja secara transparan yang dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Juli 2026 dengan pembahasan mengenai rancangan Semangat Ta’aruf (SEMATA), Event Keluarga Mahasiswa (KM) FBE UII, dan sejumlah agenda lainnya, mulai dari arah keuangan untuk Triwulan 2 (TW 2), prosedur dana taktis, dan alokasi dana. Dalam RDP kali ini, DPM FBE UII bermaksud ingin membangun atmosfer yang aktif dan kritis. Sebuah inisiatif terobosan yang dirancang untuk mengintegrasikan acara antarlembaga demi memperkuat konsolidasi internal serta daya saing eksternal kampus. 

Pada awalnya, RDP berlangsung lancar dan interaktif sesuai dengan rancangan DPM FBE UII yang menginginkan dinamika diskusi yang aktif dan kritis. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Artanto selaku Komisi 2 DPM FBE UII, “Dari awal itu memang RDP berjalan lancar dan untuk aturan segala macam memang semua sudah berjalan sesuai bagaimana RDP yang harus dilakukan,” ujarnya. Namun, suasana mulai memanas menjelang akhir sesi ketika perwakilan dari International Program Forum (IPF) FBE UII memberikan pertanyaan terkait kejelasan Satuan Kredit Partisipasi (SKP) bagi panitia untuk event baru KM FBE UII. 

Perwakilan IPF FBE UII tersebut menegaskan bahwa pertanyaan tersebut bersifat personal dan ditujukan kepada pihak DPM FBE UII guna mengonfirmasi kepastian administrasi dalam perekrutan sumber daya manusia yang akan didelegasikan dari masing-masing organisasi. “Ini merupakan pertanyaan personal dari saya, saya hanya bertanya apakah di event kali ini itu mendapatkan SKP. Karena di event sebelumnya, SKP saya belum cair,” ujarnya ketika menanyakan terkait pembahasan SKP di forum RDP kemarin. Menanggapi hal itu, Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) 1 LEM FBE UII juga sekaligus Sekretaris dalam event yang disebutkan menjelaskan bahwa keterlambatan pencairan SKP dalam event periode sebelumnya terjadi akibat masa transisi birokrasi di tingkat Dekanat. Namun, diskusi mengenai administrasi ini ditanggapi secara sensitif hingga menjadi pemantik awal timbulnya ketegangan di antara kedua belah pihak. 

Puncak ketegangan justru meledak tepat setelah forum resmi ditutup dan para peserta bersiap untuk sesi foto bersama. Wasekum 1 LEM FBE UII yang saat itu telah melepas jas almamaternya mendatangi jajaran pengurus IPF FBE UII dengan melontarkan kata-kata kasar secara terbuka. Perbuatan tersebut ditujukan kepada perwakilan IPF FBE UII yang menanyakan perihal SKP, tetapi pihak yang bersangkutan sudah terlebih dahulu meninggalkan lokasi untuk menghadiri agenda rapat lain, sehingga membuat delegasi IPF FBE UII yang berada di tempat terkejut. “Di momen ketika pelaku melakukan konfrontasi dia melabrak IPF dengan melontarkan kata-kata kasar mencari saya, dan itu terjadi di depan semua lembaga. Oleh karena itu, dari sudut pandang saya, itu yang pertama sudah tidak etis,” tegas perwakilan IPF FBE UII tersebut. 

Isu yang semula berupa konfirmasi administrasi di dalam forum pun seketika bergeser menjadi konfrontasi personal di depan publik. Melihat situasi yang memanas, Ibnu Artanto selaku Komisi 2 DPM FBE UII mengambil inisiatif cepat dengan langsung menghampiri perwakilan IPF FBE UII di lokasi untuk melakukan mediasi antara kedua belah pihak. Menanggapi insiden konfrontasi verbal tersebut, Komisi 2 DPM FBE bersama pihak IPF FBE UII menyayangkan aksi pelabrakan ini dan menilainya sebagai bentuk pelanggaran etika berorganisasi yang mengurangi profesionalitas serta ruang aman dalam berpendapat. “Saya melihat itu sudah tidak pantas dan sudah terlalu jauh ketika beliau mendatangi teman-teman dari IPF dan mengucapkan perkataan kasar yang menyerang secara pribadi. Karena hal tersebut terjadi di forum tempat berkumpulnya para lembaga, saya mengajukan untuk dievaluasi secepatnya dan diberikan tindakan tegas,” Ujar Ibnu Artanto selaku Komisi 2 DPM FBE UII.

Mediasi pertama dilakukan pada malam itu juga di tempat terpisah sebagai inisiatif dari Komisi 2 DPM FBE UII bersama dengan ketua LEM FBE UII. Guna menjaga objektivitas dan profesionalisme. DPM FBE UII kembali menyelenggarakan mediasi lanjutan sekitar satu minggu setelah kejadian tersebut di kantor DPM FBE UII yang dihadiri oleh Wasekum 1 LEM FBE UII dan perwakilan IPF FBE UII secara bergantian untuk menyampaikan sudut pandangnya. 

Menindaklanjuti hasil mediasi ini, DPM FBE UII memutuskan untuk mengembalikan kewenangan pemberian sanksi kepada Ketua LEM FBE UII. “kita pantau terus dan follow up dari kami juga akhirnya memberikan keputusan yang mutlak, sehingga ketua LEM FBE UII mempunyai hak prerogatifnya untuk memberikan keadilan bagi pelaku seperti itu,” ujar Komisi 2 DPM FBE UII. Dari pihak IPF mengusulkan untuk penonaktifan selama satu sampai dua bulan, sedangkan DPM FBE UII justru memberikan angka yang lebih tegas, yakni selama empat bulan. Setelah dilanjutkan pembahasan di rapat pleno setelahnya disepakati berupa sanksi penonaktifan selama dua bulan bagi Wasekum 1 LEM FBE UII.

Setelah kejadian ini, DPM FBE UII menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh untuk jajaran inti LEM FBE UII dan juga DPM FBE UII sebagai lembaga pengawas. “Aku pengen ke semua lembaga. Ketika teman-teman berada di sebuah lembaga atau organisasi, cobalah untuk profesional. Disingkirkan egocentris-nya, disingkirkan emosional pribadinya. Harus teman-teman itu bisa menjaga emosional intelligence-nya. Ketika di forum, ketika di lembaga, apapun masalah yang membuat atau yang tercipta karena personal, itu tidak boleh dibawa ke lingkungan lembaga. Dan harapannya teman-teman di lembaga ketika mendapat kritik atau ketika mendapat masukan, itu diterima dan dijadikan pembelajaran,” tutur Tanriq Vario Bagasfatih selaku Ketua Umum DPM FBE UII. Bagi DPM FBE UII, lembaga mahasiswa akhirnya adalah wadah pengabdian, bukan panggung kekuasaan maupun ajang unjuk ego.

Penulis : Tim Redaksi 

Editor : Atika Yuliana Dewi 

Ilustrasi : Rovi Edgar Jeconea

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
LPM Ekonomika FBE UII

Terpopuler