24.8 C
Yogyakarta
Wednesday, June 17, 2026
HomeBeritaMAHASISWA UII GELAR AKSI, DESAK REFORMASI KEBIJAKAN EKONOMI DAN HUKUM

MAHASISWA UII GELAR AKSI, DESAK REFORMASI KEBIJAKAN EKONOMI DAN HUKUM

Aliansi mahasiswa yang dipelopori oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika (DPM FBE), mengadakan konsolidasi terbuka pada Minggu (14/6) pukul 16.00 WIB di Lapangan Sorak FBE UII. konsolidasi tersebut dihadiri oleh beberapa perwakilan lembaga mahasiswa dan mahasiswa umum FBE UII. Tujuan dari diadakannya konsolidasi adalah memfasilitasi dan menyatukan pemikiran mahasiswa dalam penyampaian aspirasi terkait isu-isu yang sedang terjadi di Indonesia. “Strateginya mengadakan konsolidasi terlebih dahulu untuk menyatukan pemikiran dan pandangan terkait keresahan mahasiswa mengenai isu ini untuk kita arahkan ke aksi selanjutnya, ” ujar Kepala Departemen Politik dan Jaringan Lembaga Eksekutif Mahasiswa FBE UII, Fahmi Safarael.

Aksi demokrasi ini merupakan kolaborasi antara Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FBE UII dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum (DPM FH) UII, yang diinisiasi melalui konsolidasi lanjutan terbuka kedua fakultas tersebut yang dilaksanakan di gedung fakultas hukum UII pada Minggu (14/6) pukul 20.00 WIB. Melalui aliansi taktis ini, mahasiswa dari kedua fakultas tersebut berhasil merumuskan enam tuntutan isu krusial yang dinilai saling berhubungan, mulai dari persoalan ekonomi seperti urgensi evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), ancaman krisis akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, hingga rencana kenaikan harga BBM. Sementara dari aspek hukum, kolaborasi ini memperjuangkan penolakan terhadap draf revisi UU Polri yang berpotensi memicu dwifungsi aparat serta menguatnya praktik militerisme di ruang sipil, dan perbaikan pola komunikasi pemerintah ke masyarakat

 Berdasarkan keputusan terhadap hasil konsolidasi dan teknis lapangan, Pihak DPM FBE UII dan DPM FH UII bersama dengan massa mahasiswa menyelenggarakan aksi lanjutan, berupa gerakan demonstrasi pada Senin (15/6) dimulai pukul 10.00 di Titik Nol Kilometer Yogyakarta sebagai bentuk pernyataan sikap atas berbagai persoalan yang dinilai meresahkan masyarakat didasarkan pada isu-isu yang telah disepakati dalam konsolidasi.

Koordinator aksi, Ketua Umum DPM FBE UII, Tanriq, menjelaskan bahwa aksi demonstrasi ini merupakan langkah yang diambil setelah mahasiswa mempertimbangkan berbagai bentuk advokasi lainnya. Menurutnya, mekanisme seperti kajian, maupun audiensi seringkali membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan respons dari pihak yang berwenang. Oleh karena itu, aksi massa dinilai menjadi cara yang dipilih sebagai sarana untuk mempertegas suara masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan bangsa. “Kenapa kami tidak pernyataan sikap saja? Karena menurut kami masih terlalu jauh atau masih terlalu lama untuk suara itu didengar. Dan bukti kami turun ke jalan adalah bukti kami peduli terhadap masyarakat,” ujar Tanriq.

Aksi demonstrasi ini juga mendapat dukungan dari Ketua Kemahasiswaan FBE UII, Rizki Hamdani, yang sangat mengapresiasi langkah taktis lembaga mahasiswa FBE UII dalam berkolaborasi dengan lembaga mahasiswa FH UII untuk menjalankan aksi damai ini. Beliau menilai pergerakan dari keberangkatan hingga kepulangan massa berjalan dengan mulus dan lancar. Menurut pandangan beliau, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa UII ini bukanlah sebuah gerakan yang menonjolkan kerusuhan atau sekadar mencari kehebohan semata, melainkan sebuah aksi yang memiliki nilai perjuangan yang jelas. Gerakan ini hadir untuk memberikan suntikan semangat kepada warga masyarakat. “Momentum seperti inilah yang penting bagi mahasiswa untuk mengeluarkan nalar kritisnya sehingga dapat membela masyarakat di luar sana, karena kalau hanya masyarakat saja yang menyuarakan itu akan terasa sulit. Sebagai kelompok independen, mahasiswa memiliki daya gedor yang paling kuat untuk menyuarakan aspirasi masyarakat sampai terdengar ke telinga pemerintah,” Ujar Rizki Hamdani.

Lebih lanjut, gerakan ini ditegaskan bukan sekadar bentuk penolakan pasif tanpa arah yang jelas. Mahasiswa FH UII, Shulton, menyatakan bahwa mahasiswa tidak akan selalu bergantung pada aksi demonstrasi dan penyampaian di jalanan saja. Kedepannya, aliansi mahasiswa telah menyiapkan serangkaian strategi lanjutan yang mencakup konsolidasi internal yang lebih mendalam, diikuti dengan pembahasan serta audiensi lebih lanjut bersama pihak-pihak berwenang. Langkah-langkah ini dirancang untuk mengoptimalkan dan mengobjektifkan arah perjuangan agar tujuan utama gerakan dapat tercapai secara konkret. Shulton juga menggarisbawahi bahwa mahasiswa membawa dua misi sekaligus secara beriringan yaitu menuntut reformasi kebijakan peraturan dan melindungi hak serta keselamatan masyarakat. “Aspirasi ini membawa dua misi sekaligus secara beriringan, yaitu mereformasi kebijakan dan melindungi hak masyarakat. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena setiap regulasi yang merugikan secara otomatis akan mengancam keselamatan serta kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, pemerintah harus mengganti kebijakan tersebut dengan peraturan yang lebih optimal dan berpihak pada kesejahteraan publik,” ujar Shulton. 

Melalui gerakan ini, koordinator aksi, Ketua Umum DPM FBE UII, Tanriq, menyatakan bahwa mahasiswa menuntut pemerintah untuk memberikan tanggapan yang baik dan bersikap kooperatif. Ia menyoroti poin tuntutan keenam ini, mereka mengkritik kecenderungan pemerintah yang terlalu banyak mengelak dan mengabaikan berbagai persoalan mendasar di tengah masyarakat. Harapan para mahasiswa sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar seluruh poin tuntutan yang mereka bawa segera ditanggapi, ditindaklanjuti, dan dibenarkan demi kebaikan publik.

Harapan besar ini dipertegas oleh Rizki Hamdani yang meminta pemerintah, terutama Presiden, membuka mata dan telinga untuk mendengarkan setiap kritik yang mengalir dari masyarakat dan mahasiswa. Beliau mengingatkan pihak berwenang agar tidak asal menyangkal situasi yang terjadi di lapangan atau sekadar memberikan pembelaan lewat pidato. Baginya, kritik yang dilayangkan di jalanan maupun ruang akademis bukan lah bentuk makar atau kebencian, melainkan sebuah wujud cinta yang tulus dari warga negara terhadap tanah airnya. Sebaliknya, sikap apatis dan mendiamkan masalah yang justru dinilai menjadi akar dari kehancuran sebuah bangsa. Melalui keterpaduan langkah ini, seluruh elemen mahasiswa UII berkomitmen penuh untuk mengawal perbaikan regulasi ekonomi dan hukum demi masa depan Indonesia yang lebih baik. 

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
LPM Ekonomika FBE UII

Terpopuler