Identitas Buku
Judul : Negeri Para Bedebah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 978 – 979 – 22 – 8552 – 9
Tebal Buku : 440 halaman
Penulis ternama di Indonesia yang dikenal dengan nama pena Tere Liye, merilis buku pada tahun 2012 dengan judul “Negeri Para Bedebah”. Buku ini merupakan seri pertama dalam rangkaian buku serial aksi karya Tere Liye. Cerita dibuka dengan gambaran dunia ketika sedang dilanda krisis ekonomi global yang merambat ke berbagai negara, seperti ditulis Tere Liye, sejak zaman Firaun, “solusi menghadapi krisis dunia hanya tiga kata: rekayasa, rekayasa, dan rekayasa.” Pernyataan ini memberi gambaran besar tentang alur cerita dalam buku ini bahwa dibalik krisis ekonomi seringkali tersembunyi permainan kekuasaan dan rekayasa sistem yang justru hanya menguntungkan penguasa.
Tokoh utama dalam buku ini bernama Thomas diceritakan sebagai seorang konsultan keuangan ternama dengan reputasi internasional. Namun, dibalik kesuksesannya, ia terseret dalam pusaran manipulasi ekonomi dan korupsi besar yang mengguncang Bank Semesta milik pamannya. Melalui perjalanan Thomas, buku ini mengajak pembaca menelusuri betapa rapuhnya sistem ekonomi ketika dikuasai oleh “musang berbulu domba” yang merasa berkuasa karena kekayaan yang dimiliki membuatnya tidak pernah puas akan sumber daya yang dikonsumsi. Hal ini menjerumuskan mereka ke dalam permainan ekonomi-politik yang kotor karena mengesampingkan moralitas dan kesejahteraan rakyat. Di sinilah Thomas akan menuntaskan ketidakadilan yang terjadi dan menghadirkan harapan bahwa di antara para bedebah, masih ada orang yang berjuang untuk kejujuran.
Hal yang menjadi keunggulan buku ini adalah keberanian Tere Liye dalam mengemas kritik sosial dan ekonomi melalui rangkaian cerita aksi yang seru dan menegangkan. Salah satu kutipan mengenai kritik sosial yang disampaikan Tere Liye menunjukkan bahwa akar dari rusaknya tatanan sosial adalah keserakahan penguasa atas sumber daya alam yang berujung pada ketimpangan ekonomi yang ekstrim.
“Ya, kau bayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi tangan kanannya yang tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka” ujar Thomas.
Kutipan tersebut terasa sangat realistis dengan kehidupan kita, ketika sistem ekonomi seringnya berpihak pada “mereka” yang memiliki modal besar. Pandangan kritis mengenai makna uang yang dituangkan melalui percakapan Thomas dan seorang jurnalis ekonomi bernama Julia menyindir bagaimana sang penguasa memperlakukan uang sebagai Tuhan (uang adalah segalanya).
“Padahal kita lupa, semua hanya kertas, bukan? Secara riil, kekayaan dunia tidak berubah sejak uang pertama kali ditemukan. Jumlah cadangan emas yang menjamin uang hanya itu-itu saja. Kau tadi bertanya apa, Julia? aku tidak peduli kemiskinan, peduli setan karena daya rusaknya itu-itu saja, busung lapar, kurang gizi, tetapi kekayaan, daya rusaknya mengerikan. Bahkan uang yang berlimpah itu membuat orang tidak peduli wabah, kelaparan, perusakan alam, dan tragedi kemanusiaan lainnya.”
Pernyataan yang diberikan Thomas untuk menggambarkan bahwa uang di era modern bukan hanya sekadar alat transaksi untuk tukar-menukar, tetapi juga sebagai alat kekuasaan. Lebih jelasnya, nilai uang tidak lagi terletak pada nominal yang ada di kertas, melainkan siapa yang memegang kendali atasnya. Ironisnya, realita juga menunjukkan hal yang sama, banyaknya kejadian penegakan keadilan yang tidak berjalan seharusnya karena uang dijadikan sebagai senjata kekuasaan seolah bisa menentukan siapa yang berhak melanjutkan hidup dalam kemewahan dan siapa yang harus menanggung penderitaan.
Melalui “Negeri Para Bedebah”, Tere Liye ingin mengingatkan bahwa daya rusak yang ditimbulkan oleh kekayaan jauh lebih berbahaya daripada kejahatan yang timbul akibat kemiskinan. Hal ini karena kejahatan yang timbul dari kemiskinan sangat terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, berupa kriminalitas ringan yang terus berulang seperti pencurian dan kerugiannya terasa langsung, hal inilah yang membuat masyarakat geram. Berbanding terbalik dengan daya rusak yang ditimbulkan oleh kekayaan. Jika menelaah lebih dalam, kekayaan yang tak terbatas dan kekuasaan yang semakin luas dapat menimbulkan masalah moral yang lebih serius mengenai kerakusan manusia yang menjadikan uang di atas segala-galanya tanpa mempertimbangkan kerusakan yang terjadi.
Tere Liye berhasil menyederhanakan isu ekonomi yang rumit menjadi kisah yang dekat dengan kehidupan nyata yang terjadi di sekitar kita, sehingga pembaca dapat memahami maknanya tanpa merasa digurui. Namun, alur cerita yang terkadang berpindah terlalu cepat dari satu tempat ke latar tempat lainnya, dari satu konflik ke konflik lain terkadang membuat pembaca bingung. Selain itu, beberapa istilah dalam ilmu ekonomi dan keuangan yang muncul mungkin sulit dipahami bagi pembaca yang tidak familiar dengan dunia ekonomi.
Secara keseluruhan, “Negeri Para Bedebah” adalah karya yang dapat menjadi cermin bagi Indonesia saat ini bahwa iming-iming untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanya berlindung di balik “kebijakan pembangunan nasional”. Namun, kebijakan tersebut nyatanya mengabaikan kesejahteraan rakyat sehingga menimbulkan ketimpangan sosial-ekonomi di masyarakat menjadi lebih ekstrim. Pesan implisit yang disampaikan di sini adalah untuk membenahi masalah perekonomian yang harus diperbaiki tidak semata-mata soal menstabilkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi menumbuhkan kembali moralitas dan empati agar tidak bersikap serakah terhadap sumber daya alam.
Melalui buku ini, Tere Liye berhasil menyampaikan kritik tajamnya tentang kompleksitas sistem ekonomi dan memberi pemahaman, serta menyadarkan pembaca tentang wajah asli sistem kekuasaan dan uang. Sebagai seri pertama yang menjadi pembuka menuju petualangan selanjutnya dalam buku aksi serial Tere Liye, “Negeri Para Bedebah” berhasil menggugah pembaca untuk terus mengikuti perjalanan Thomas di serial aksi selanjutnya.
Narasi : Fayyaza Aquila Regina
Editor : Yohana
Ilustrasi : Adila Alifia


