Kenaikan Harga Plastik Picu Kekhawatiran, Tekanan Global dari Minyak Mentah Jadi Pemicu
Per April 2026, kenaikan harga plastik di Indonesia mulai memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha, khususnya pedagang dan sektor kuliner. Lonjakan harga bahan baku membuat pedagang tidak lagi leluasa memberikan kantong plastik secara gratis, bahkan mulai menetapkan batas minimum pembelian untuk mengurangi penggunaan plastik.
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia yang berdampak langsung pada industri petrokimia. Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya gangguan distribusi energi di Selat Hormuz, turut memperburuk ketidakpastian pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah yang kemudian merembet ke industri plastik secara global.
Plastik yang umum digunakan masyarakat, seperti kantong kresek dan wadah makanan, sebagian besar berbahan dasar polietilen (PE) dan polipropilena (PP), yang merupakan turunan langsung dari minyak bumi dan gas alam. Dalam proses pengolahan minyak mentah, dihasilkan nafta, bahan baku utama industri petrokimia untuk memproduksi plastik.
Kenaikan harga minyak mentah memberikan tekanan besar bagi industri manufaktur plastik, mengingat biaya bahan baku dapat mencapai 60–80 persen dari total biaya produksi. Akibatnya, harga produk plastik pun mengalami kenaikan signifikan.
Sejumlah laporan mencatat bahwa pada April 2026, harga produk plastik di Indonesia meningkat tajam. Kantong kresek mengalami kenaikan rata-rata sebesar 30–50 persen, bahkan beberapa produk plastik lainnya dilaporkan naik hingga 80 persen. Harga kantong kresek yang sebelumnya berkisar Rp12.000–Rp13.000 per pak kini meningkat menjadi Rp15.000–Rp20.000 per pak. Sementara itu, harga plastik per kilogram dilaporkan melonjak dari sekitar Rp30.000 menjadi Rp60.000.
Kenaikan ini juga berdampak pada berbagai jenis kemasan lain, seperti gelas plastik, wadah makanan (thinwall), hingga styrofoam, yang mengalami peningkatan harga signifikan. Dampak lanjutan dirasakan oleh pelaku usaha yang harus menyesuaikan harga jual agar tetap menutup biaya produksi tanpa mengurangi daya beli konsumen secara drastis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan industri plastik terhadap minyak mentah menjadikannya sangat rentan terhadap gejolak global. Jika tekanan harga energi terus berlanjut, bukan tidak mungkin kenaikan harga plastik akan semakin meluas dan berdampak pada berbagai sektor ekonomi, terutama usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik dalam operasionalnya.
Penulis: Yohana
Editor: Tim Redaksi
Ilustrator: Haya Z.A


