26.1 C
Yogyakarta
Friday, January 16, 2026
HomeResensiRekomendasiRESENSI FILM GIE (2005)

RESENSI FILM GIE (2005)

Identitas Film

  • Judul Film: Gie
  • Sutradara: Riri Riza
  • Penulis Naskah: Riri Riza
  • Tahun Rilis: 2005
  • Genre: History/Drama Politik
  • Durasi: 2 jam 27 menit

Sinopsis Singkat

Film ini mengisahkan biografi  Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa Universitas Indonesia yang berdarah Tionghoa yang berani melawan ketidakadilan yang berkaitan dengan politik lewat tulisannya. Dalam film ini menggambarkan bagaimana perjuangan Gie saat pergantian rezim dari orde lama ke orde baru, saat dimana kejadian pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis, serta ketegangan dimana banyak keturunan Tionghoa harus bersembunyi untuk keselamatan mereka. Dalam pelariannya dari hiruk politik, Gie gemar mendaki gunung dan mendirikan Mapala UI (Mahasiswa Pecinta Alam) pada tahun 1964, hingga sampai sekarang menjadi pelopor gerakan pecinta alam di Indonesia. Namun, dibalik mencari ketenangan di alam tersimpan kesepian yang mendalam yang dirasakan Gie. Sehari sebelum ulang tahun yang ke 27, Gie meninggal di Gunung Semeru, meninggalkan jejak pemikiran dan semangat perjuangan bagi generasi berikutnya.

Unsur-Unsur Film

Alur & Cerita

Alur campuran (maju-mundur), sesuai yang menggambarkan perjalanan hidup Soe Hok Gie sejak masa kecil hingga akhir hayatnya. Alur film disajikan dengan kuat secara emosional, memperlihatkan konflik batin seorang idealis yang mencari kebenaran di tengah situasi negara yang kacau.

Tokoh dan Penokohan

Nicholas Saputra yang memerankan tokoh Soe Hok Gie dengan baik digambarkan sebagai sosok idealis, jujur, berani, tetapi juga penyendiri. Tokoh pendukung seperti Herman Lantang, Ira, dan teman-teman lain memperkuat dinamika kehidupan mahasiswa di era itu dengan sosial dan emosional yang tepat. 

Akting

Penampilan Nicholas Saputra yang selalu dipercaya oleh sutradara, Riri Riza, untuk menggarap filmya sangat menyakinkan dan berkarakter. Ia berhasil menampilkan bagaimana ketegasan, kecerdasan, dan kegelisahan batin seorang Gie dengan akting yang natural. Selain Nicholas, para aktor dan aktris pendukung juga memberikan kontribusi kuat terhadap suasana film. Sita Nursanti sebagai Ira menambah nuansa romantis dalam hubungan dengan Gie, terutama pada adegan ketika mereka menyanyikan “Dona Dona” yang terasa hangat dan berkesan. Aktor pendukung lainnya pun tampil solid, terutama dalam adegan demonstrasi yang dilakukan dengan sangat natural 

Sinematografi

Pengambilan gambar yang pas walaupun syuting dilaksanakan di tahun 2005, sang sutradara Riri Riza berhasil membawa penonton kembali ke tahun 1960an. Pemandangan alam terutama saat Gie mendaki gunung, komposisi warnanya dikerjakan dengan baik sehingga menunjukkan suasana yang sunyi dan ketenangan diatas gunung. 

Musik dan Sound

Musik ditata dengan lembut dan emosional sehingga mendukung setiap adegan tanpa berlebihan. Lagu “Gie” yang dibawakan oleh Eross Candra featuring Okta terasa sangat menghangatkan hati, terutama ketika dipadukan dengan adegan Soe Hok Gie membacakan puisinya.

Dialog dan Naskah

Dialog film ini penuh makna dan banyak diambil dari catatan asli Soe Hok Gie didalam buku “Catatan Seorang Demonstran”. Kalimat yang dipilih sangat kuat dan filosofis, menggambarkan pemikiran kritis dan idealisme dari Gie. Naskah disusun dengan baik sehingga mampu membawa penonton masuk kedalam pikiran Gie.

Analisis & Interpretasi

Tema atau pesan moral yang ingin disampaikan

Film Gie mengangkat tema “Perjuangan Melawan Ketidakadilan”. Pesan moral yang disampaikan, yaitu bagaimana tetap memegang prinsip dan suara hati meskipun di tengah tekanan politik dan sosial. Film ini juga mengajak penonton untuk cinta tanah air dan kepedulian sesama manusia.

Relevansi dengan isu sosial/budaya/ kehidupan sehari-hari

Relevansi kehidupan saat ini dalam konteks kebebasan berpendapat, keteguhan prinsip, serta diskriminasi etnis dan politik. Film ini mengingatkan untuk berani memberikan opini, bersikap jujur, berpikir kritis terhadap kekuasaan, dan peduli terhadap kondisi masyarakat sekitar. 

Gaya khas sutradara atau keunikan film

Kisah hidup Soe Hok Gie diangkat dengan indah oleh Riri Riza, sutradara yang dikenal melalui gaya penyutradaraan bernuansa sastra dan puitis. Setelah sukses dengan film “Ada Apa dengan Cinta?”, ia kembali menghadirkan karya yang memadukan unsur dokumenter dengan sentuhan sastra. Melalui narasi yang diambil dari buku catatan harian Gie, film ini berhasil membangun nuansa emosional yang kuat. Keunikan visualnya terletak pada penggunaan alam sebagai simbol kebebasan dan pelarian batin, serta diperkuat dengan sinematografi yang indah dan penuh makna.

Kelebihan & Kekurangan

Poin Positif

Alur dan karakterisasi yang kuat serta emosional berhasil menggambarkan kehidupan Gie secara mendalam. Akting Nicholas Saputra yang natural menampilkan ketegasan, idealisme, dan kesepian yang dirasakan tokoh utama dengan natural. Visual sinematografi yang indah menggambarkan keadaan tahun 1960-an yang pas dan terutama adegan alam serta pendakian gunung yang mengajak penonton untuk mengeksplor keindahan alam negara kita. Musik yang ditata dengan lembut. Naskah yang paling berkesan diambil langsung dari catatan harian Gie “Catatan Seorang Demonstran” menjadikan pesan moral tersampaikan dengan kuat.

Poin Negatif

Meski kuat secara artistik, film Gie tetap memiliki beberapa kelemahan yang mungkin dirasakan sebagian penonton. Beberapa adegan politik dan sejarah yang cukup rumit bagi penonton yang tidak familiar mungkin akan merasakan kesulitan memahaminya. terutama bagi penonton yang tidak familiar dengan peristiwa pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru. Alur yang menampilkan berbagai tokoh, isu politik, serta konflik sosial terkadang bergerak cepat, sehingga membuat penonton awam perlu usaha lebih untuk memahami latar situasinya. Selain itu film dengan durasi dua jam lebih ini akan terasa lebih lambat. Bagi sebagian penonton, ritme yang tenang dan fokus pada monolog batin dapat terasa melelahkan atau kurang dinamis.

Kesimpulan & Rekomendasi

Penilaian Umum

Secara keseluruhan, film Gie layak ditonton karena menyajikan kisah nyata yang inspiratif, menyentuh nilai-nilai idealisme, dan keberanian melawan ketidakadilan. Ceritanya yang emosional, akting kuat, sinematografi yang indah, serta musik, dan naskah yang mendukung pesan moral, membuat pengalaman penonton menjadi lebih mendalam dan bermakna. Film ini tidak hanya relevan bagi remaja hingga dewasa yang tertarik pada sejarah Indonesia, aktivisme, atau dunia kepecintaalaman, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin memahami perjalanan seorang tokoh idealis menghadapi tekanan zaman. Gie menutup kisahnya dengan meninggalkan pesan moral yang mendalam bahwa suara kritis dan hati yang jujur selalu memiliki tempat dalam perubahan.

Rating Pribadi

3/5

Narasi: Arum Novita Sari
Editor: Yohana

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
LPM Ekonomika FBE UII

Terpopuler