Film Rekomendasi

Tilik yang Menggemaskan dan Sedikit Nyelekit

Foto : Kompas.com

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Penulis         : Bagus Sumartono

Sutradara     : Wahyu Agung Prasetyo

Tanggal rilis : 17 Agustus 2020 (di Youtube)

Pemeran     : Siti Fauziah, Brilliana Desy, Angelina “Punyk”, Dyah Mulyani, Luly  Syahkisrani, Hardiansyah Yoga Pratama, Tri Sudarsono Gotrek, Ratna Indriastuti.

Bacaekon.com-Perdesaan erat kaitannya dengan praktik kolektivitas dan komunalisme. Hal itu yang menjadi garis besar Film Tilik. Tilik (Bahasa Jawa) dalam Bahasa Indonesia berarti menjenguk, dalam hal ini adalah menjenguk kerabat yang sakit. Tilik mengisahkan sebuah perjalanan segerombol masyarakat desa untuk menjenguk kerabatnya di rumah sakit. Mereka mengendarai mobil truk terbuka beramai-ramai. Sesuatu yang sudah lazim ditemui di perdesaan Indonesia. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi kearifan lokal tersendiri di khazanah kebudayaan masyarakat desa yang wajib ‘ain untuk dilakukan. Seperti ada sesuatu yang membuatnya bersalah jika tidak dilakukan.

Karakter masyarakat desa itu menarik dengan segala karakteristik dan kebiasaannya. Dalam film ini, sesaat setelah mendapat kabar Bu Lurah yang jatuh sakit, seketika mereka langsung menyewa truk untuk berangkat saat itu juga. Kegiatan itu memberikan efek yang luar biasa bagi orang yang sakit. Dengan dijenguk oleh kerabat itulah seseorang dapat cepat memulihkan diri sendiri karena efek plasebo yang dialaminya. Para kerabat memberikan energi, kebahagiaan, dan keyakinan untuk sembuh kepada pasien. Sesuatu yang mahal harganya melebihi apapun yang dihitung dengan angka-angka.

Kebiasaan tilik menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi masyarakat desa. Sepertinya sudah sama seperti mau liburan; memakai baju terbaik, membawa banyak perbekalan, memakai perhiasan, dan bersolek sebagus mungkin. Kota merupakan suatu hal yang eksklusif bagi masyarakat perdesaan. Sesuatu yang dianggap gemerlap dan “wah”. Maka dari itu, jika berpergian ke kota, walaupun cuma menjenguk orang sakit, yo kudu tep dandan apik, yo to?

Infrastruktur desa yang belum siap untuk menerima digitalisasi membuat kabar hoax sangat mudah menggurita di masyarakat desa. Hal ini yang menjadi benang merah dalam film Tilik. Di sepanjang film penuh dengan ujaran kabar yang belum jelas kebenarannya. Diungkapkan gunjingan itu berdasar foto-foto yang ada di facebook, tanpa verifikasi tentunya.

Yang membuat film ini begitu menarik adalah tokoh Bu Tejo. Perannya lebay, sih. Saya rasa ibu-ibu nyinyir di desa juga tidak secerewet itu. Perannya cenderung dilebih-lebihkan untuk menunjukkan karakter ibu-ibu yang tidak siap akan digitalisasi itu sendiri.

Bu Tejo merupakan metafora dari sosok ibu-ibu desa yang ada di kepala masyarakat kebanyakan. Seorang ibu-ibu yang suka gosip, tipe-tipe yang mudah termakan hoaks grup Whatsapp, dan cerminan ibu-ibu sosialita yang sombong dan suka pamer perhiasan. Banyak hal terjadi selama perjalanan. Bu Tejo terlihat memegang kendali atas percakapan yang mempergunjingkan Dian, salah seorang kembang desa. 

Ada salah satu tokoh yang menjadi antitesis Bu Tejo, yaitu Yu Ning. Ia selalu membantah gunjingan yang diutarakan oleh Bu Tejo. Yu Ning adalah sosok ibu-ibu yang mencoba menghindari berita hoax, ia sudah teredukasi dengan baik mengenai cara bersosial media yang bijak. Namun, seperti manusia biasa pada umumnya, kerap kali yang benar justru disudutkan dan dikerdilkan. Dalam film Tilik tidak ada satu orang pun yang berbicara di pihak Yu Ning. Hanya ada satu, Yu Sam, yang mencoba netral namun cenderung terbawa komunikasi Bu Tejo untuk mempergunjingkan Dian.

Pada akhirnya, film ini pun menghadirkan plot twist yang cukup mengejutkan. Tetapi, sesuatu yang ingin disampaikan bukanlah twist dan kebenaran analisis gembelnya Bu Tejo, melainkan praktik gotong royong di sepanjang budaya Tilik. Walaupun memang dikemas dengan kebiasaan yang tidak mencerminkan cara berkomunikasi yang baik. 

Selain mempergunjingkan Dian, selama di perjalanan terdapat kejadian yang menunjukkan budaya gotong royong masyarakat desa. Terdapat satu scene yang menunjukkan sisi “kebaikan” Bu Tejo di samping bibirnya yang nyinyir. Ia berdiri paling depan untuk membela dan membantu saudaranya ketika terjadi masalah. Sesuatu yang juga mahal di samping kenyinyirannya yang tidak bisa ditahan itu. 

Sebelum rilis di Youtube, film pendek berdurasi sekitar 30 menit ini sebenarnya sudah rilis di tahun 2018 sebagai film festival. Tilik berhasil memenangkan Piala Maya 2018 kategori Film Pendek Terpilih, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official World World Cinema Amsterdam 2018. Menurut Joko Anwar, sutradara kondang yang dimiliki Indonesia, Tilik merupakan film yang sederhana namun menggigit. Kadang sesuatunya memang nampak real, kadang juga terkesan dilebih-lebihkan dan karikatural.

Sebenarnya tidak perlu pusing-pusing untuk mencari pesan moral dari film ini –karena dikatakan cenderung membenarkan sesuatu yang salah oleh beberapa pihak. Cukup menonton dengan manis dan menertawakan Bu Tejo merupakan sesuatu yang juga worth it untuk dilakukan. Tilik menawarkan visual yang cerah dan audio yang jernih sehingga membuat penontonnya nyaman. 

Editor : Retno

210 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *