Ekspresi

Tentang Perjalanan

Foto : Arul

Oleh : Khairul Raziq

Armada laut itupun menyandarkan haluan dan buritannya di dermaga tua.

Penantian setelah beberapa waktu segera terbayar lunas.
Menantinya cukup untuk menghabiskan beberapa botol air minum guna mengganti peluh yang mengucur. Bolak-balik pedagang asongan, teriakan buruh-buruh pelabuhan, lalu-lalang supir-supir angkot, hingga lansia yang berkawan dengan gerobak menapaki pahit-manisnya hidup, kian memperelok suasana arus balik mudik di kampungku.

Bismillah

Tali kapal pun ditarik oleh anak buah kapal, menandakan kapal siap untuk meninggalkan dermaga. Ramai sahutan dan tarikan para petugas heboh menaikkan tali tambang yang berat itu. Lepas sudah badan kapal ini dari dermaga, kini yang tersisa hanya tinggal kenangan semata. Jangkar kapal pun seolah berbisik, selamat tinggal, nantikan aku kembali, sebentar saja, tidak akan lama, asalkan dikau dapat menunggu dan bersabar menanti.

Dek tiga, menjadi wadah tempatku untuk menduduktidurkan badan ini selama dua hari dua malam. Udara yang panas, bau oli mesin kapal, dan aroma-aroma tidak diinginkan dari gelantungan trashbag bakal menjadi teman perjalanan dalam mengarungi samudra ke depan.

Petugas berseragam biru datang bergantian dengan sapu lidi dan pengki. Mempunyai karakteristik yang tangguh dan sigap untuk menyusuri setiap dek di kapal ini. Hari-hari ia menyibak kerumunan para penumpang, bersih-bersih lantai, membilas toilet kering tapi pesing. Kapal inilah hidup mereka, bersama armada laut ini tubuh mereka dibawa menerjang indah dan mengerikannya lautan. Berpindah dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam begitu saja seterusnya, hingga garis daratan melambai. Sebulan pergi pulang sudah berapa keliling bumi yang mereka arungi?

Derasnya ombak yang menghantam lambung kapal, tak menyurutkan niat sang kapten untuk memutar kemudinya ke arah berlawanan agar dapat menghantarkan para penumpang untuk sampai ke tujuan.
Diriku Pun mulai mengadu doa-doa kepada-Nya, saling sahut-menyahut dengan suara ombak laut lepas. Terbesit sedikit pemikiran nakal, jikalau raga ini lepas di tengah lautan, akan bagaimanakah nasib ribuan perantau di atas kapal ini? Seberapa siapkah diri ini menghadap Sang Ilahi? Bekal apa saja yang sudah dipersiapkan sebagai cadangan di kehidupan setelah mati? Entah.

Syukurnya, kapten berhasil menaklukan derasnya ombak dengan usaha dan bantuan-Nya tentunya. Armadanya telah berhasil menapaki satu dermaga lainnya, Tanjung Perak-Surabaya, Jawa Timur.

Cerah mentari di siang ini, mengantarkan diri ini kembali untuk mengadu nasib di tanah rantau. Nampaknya burung-burung tengah bersenang-senang ria bermain di udara, mengepakkan sayapnya melambung tinggi di birunya angkasa siang itu.

Tak henti, diri ini harus terus melangkah. Perjalanan masih panjang, kaki masih harus kuat untuk sampai tujuan. Mata masih harus cukup banyak melihat susah senangnya kehidupan. Telinga ini masih harus diuji mendengar segala jenis ucapan, teriakan sampai umpatan. Mulut ini belum selesai untuk senantiasa berdoa kepada-Nya. Serta kedua tangan yang harus senantiasa rela membantu sesama di tanah rantau.

Pecah sudah bibir ini, serasa hampir ambruk kepala ini, perjalanan berikutnya baru akan dimulai. Knalpot bis kota mulai mengeluarkan asap hitamnya, pikirku berlagak sok tahu dalam hati mungkin olinya belum diganti.
Pak supir mulai nyeni dengan kemudinya. Nampaknya aspal makin panas dibakar oleh sinar matahari dan diasah dengan tajamnya roda-roda kendaraan. Aku siap melanjutkan perjalanan untuk melabuhkan diri di tempat merajut mimpi.

Cadangan air dan makanan sudah habis. Tinggal lah seonggok daging dengan gadget dan buku di atas bis kota, dengan tas ransel yang dijinjing sebagai media penyimpanan, sekaligus media sandaran bagi kepala yang sudah cukup oleng dibuat oleh si ahli kemudi

Sejatinya perjalanan panjang ini akan usai, tergantung bagaimana diri ini menikmati setiap proses perjalanan. Roda-roda kehidupan akan terus berputar, waktu akan terus berjalan, dan keduanya tidak akan berhenti.

Sejatinya kehidupan ini akan terus-menerus memaksa kita untuk senantiasa bergerak mendobrak segala batas-batas . Jangan biarkan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan terbuang sia-sia. Berakhir sudah langkah kaki ini, sampai sudah di tujuan. Entah besok hendak ke mana, dengan siapa, dan bagaimana ceritanya.

Hari kian meredup, disambut lampu-lampu kota yang menyala, mengganti sinar mentari yang berbaik hati seharian penuh menyinari kota pelajar tanpa henti. Garis akhir makin terpampang nyata karena sinar lampu yang terang benderang. Berlabuh sudah jiwa dan raga ini di tujuan. Alhamdulillah!

Selamat malam, Yogyakarta!


Editor : Ikrar



198 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *