Tantangi Free Sex Remaja di Indonesia Lewat “BK”

Tantangi Free Sex Remaja di Indonesia Lewat “BK”

(Sumber foto : tulisanterkini.com)

Oleh : Kandera Rineko Nindya

Bacaekon.com-opini. Presentase seks bebas (free sex) di kalangan remaja Indonesia dapat dikatakan tinggi. Berdasarkan survei Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di 33 Provinsi dari Januari sampai dengan Juni 2008 didapatkan 62,7% remaja SMA tidak perawan lagi (KPAI, 2009). Survei BKKBN pusat (2009), menunjukkan 22,6% remaja pernah melakukan seks bebas. Hasil penelitian DKT Indonesia (2005), menunjukkan perilaku seksual remaja di empat kota yaitu Jabotabek, Bandung, Surabaya, dan Medan yaitu 82% remaja melakukan seks pranikah, dan 66% remaja hamil sebelum menikah. Tidak hanya itu, remaja secara terbuka menyatakan melakukan seks pranikah di Jabotabek 51%, Bandung 54%, Surabaya 47% dan Medan 52%. Angka-angka fantastis ini sungguh sangat memprihatinkan, di mana remaja nantinya akan menjadi bibit-bibit generasi penerus bangsa.

Mengkritisi hal tersebut, beberapa hari yang lalu Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Mufti Ali, mengusulkan dibentuknya peraturan daerah (perda) tentang perilaku yang baik dan terpuji. Di mana salah satu poin dalam perda itu mengatur tentang tes keperjakaan dan keperawanan sebagai salah satu syarat kelulusan siswa di tingkat SMP dan SMA. Ide tersebut muncul karena pada saat hearing,  ia menemukan di salah satu SMP Jember ternyata ada sejumlah siswi yang curhat kepada Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan mereka mengaku sudah berulang kali melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. (Kompas.com)

Berkaitan dengan itu, presentasi pernikahan pada usia remaja di Jember juga terbilang tinggi. Menurut data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Pemerintah Kabupaten Jember selama tahun 2011 tercatat jumlah pernikahan di Jember sebanyak 17014. Dari jumlah tersebut umur perkawinan di atas 20 tahun sebanyak 50,69%, usia perkawinan 26-30 tahun mencapai 18,76%, dan jumlah usia perkawinan diatas 30 tahun sebanyak 4,06%. (BP2KB Jember, 2012)

Tentu saja wacana tersebut langsung menuai kontrovesi seusai mengudara. Sebab tes keperawanan sama saja mengungkap aib orang lain. Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto mengatakan bahwa praktik tes keperawanan dapat merendahkan martabat perempuan. Karena tes tersebut tidak berlaku bagi laki-laki. Lagipula, secara medis ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang hilang keperawanannya. (REPUBLIKA.CO.ID)

Usulan atas tes keperawanan pun segera ditentang oleh anggota Komisi VIII DPR RI, Arzetty Bilbina. Arzetty menyatakan bahwa usulan tersebut tidak masuk akal dan hanya akan menimbulkan trauma bagi kaum perempuan. (Antara NEWS)

Menilik fenomena seks bebas di kalangan remaja Indonesia yang semakin membudaya wajar saja apabila wacana tentang tes keperawanan sebagai indikator kelulusan mencuat. Memang tujuannya baik, untuk memperbaiki moral Indonesia menjadi lebih baik lagi. Hanya saja Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, menyatakan bahwa regulasi juga harus bersifat umum, bukan diskriminatif. (Antara NEWS)

Mengkalifikasi permasalahan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jember, Ayub Junaedi Mukson, akhirnya mengatakan bahwa wacana tes keperawanan itu muncul secara sepontanitas dan hanya wacana pribadi anggota DPRD. Ayub memastikan tidak ada pembahasan terkait hal itu. Ayub juga meminta maaf apabila pemberitaan mengenai wacana tes keperawanan sebagai bagian dari syarat kelulusan siswa tersebut membikin bingung masyarakat  (Okezone.com)

Sebenarnya tak perlu sampai harus menyiapkan suatu tes keperawanan sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperbaiki moralitas bangsa Indonesia yang memang sangat mengenaskan ini. Pembentukan karakter lewat BK bisa dijadikan materi khusus dalam pembelajaran sedari seorang individu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Selama ini, kita mengenal pelajaran BK justru mulai dari SMP. Dalam konteks pemberian layanan BK, Prayitno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok. Jangan sampai seorang individu memang dari dasar saja sudah salah kaprah soal moralitas. Bagaimana kedepannya? Untuk itu layanan BK sejak SD sungguh sangatlah penting untuk memperbaiki moralitas bangsa Indonesia yang kian menurun ini. Dengan diterapkannya layanan BK sejak SD diharapkan moralitas bangsa Indonesia membaik dan free sex di kalangan remaja Indonesia menurun drastis.

 

3186 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *