TAK SEKEDAR WISATA

TAK SEKEDAR WISATA

(Foto: Dina)

Oleh : Dina Artika Andeswari

Bacaekon.com-Rekomendasi. Ullen Sentalu merupakan singkatan dari kalimat dalam Bahasa Jawa yaitu ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning Lumaku. Berasal dari falsafah sebuah lampu blencong yang digunakan dalam pewayangan. Kalimat tersebut memiliki arti bahwa nyala lampu blencong diharapkan dapat menjadi petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.

Terletak di Jalan Boyong, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, museum ini berada di sebelah barat Taman Kaliurang. Museum Ullen Sentalu dikelola secara pribadi dan didirikan oleh Haryono, seorang bangsawan yang dikatakan sangat dekat dengan keraton Surakarta dan Yogyakarta. Pada pintu masuk terpasang larangan berfoto kecuali di beberapa lokasi tertentu. Sebelum masuk kami dipanggil secara bergiliran, tujuannya adalah agar membentuk rombongan berisi 20 orang yang kemudian dipandu oleh seorang pemandu dengan waktu kunjungan sekitar 50 menit.

Begitu masuk kami dibawa ke tengah hutan yang penuh pepohonan besar. Lalu kami masuk melalui sebuah lorong dengan dinding batu kali yang dinamai Gua Selo Giri dengan atap rendah. Dikatakan bahwa pada jaman dahulu atap sebuah rumah sengaja dibuat rendah yang menandakan bahwa seorang tamu harus hormat pada pemilik rumah. Lalu pada sisi kanan ruangan, kami dipertemukan oleh koleksi gamelan yang berasal dari keraton serta lukisan para puteri raja dengan ukuran raksasa. Tidak ada papan berisi penjelasan seperti di banyak museum lainnya, yang ada hanyalah tulisan larangan menyentuh di mana-mana.

Selanjutnya kami dituntun menuju sisi kiri ruangan yang sekaligus menuju pintu keluar. Di sini lebih banyak menjelaskan silsilah kerajaan Mataram Islam yang menduduki tanah Jawa. Pada masa itu, kerajaan tersebut pecah menjadi empat yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Praja Mangkunegaran, serta Kadipaten Pakualaman. Selama melewati lorong disuguhkan banyak lukisan tiga dimensi, sehingga jika diperhatikan maka sosok yang dilukis akan serong mengikuti kemana arah kita pergi. Beberapa lukisan menggambarkan sosok sedang memegang kunci gombyok (kunci–kunci dari ruang yang disakralkan) yang menandakan kekuasaan seorang ratu di Jawa.

Kami dibawa masuk ke area kedua, dinamai Kampung Kambang yang dibagi menjadi lima ruang. Sesuai namanya, area ini memiliki jalan sempit yang hanya muat untuk satu orang seperti diperkampungan lalu dibangun di atas kolam ikan. Pada ruang pertama disebut bilik syair Tineke yang merupakan adik dari Sunan Paku Buwana (PB) XIII, dipenuhi oleh surat dari kerabat beliau dari tahun 1939–1947. Pada masa itu beliau menyukai seorang pangeran, tetapi harus patah hati karena tidak mendapat restu ibundanya sendiri. Namun, akhirnya Tineke tetap menikahi pangeran pilihannya meski tanpa restu dari ibunda.

Selanjutnya kami memasuki ruang dari salah seorang putri Sultan Hamengku Buwana (HB) VII yang bernama Ratu Mas. Ratu mas ini menikahi Sunan PB X yang sangat kaya hingga menjadi orang Indonesia pertama yang memiliki mobil. Karena kekayaannya, setiap hari Kamis beliau keluar keraton untuk menyebarkan udhik-udhik (uang receh). Maka setiap hari Kamis rakyat berkumpul di depan keraton untuk menengadahkan tangannya. Dari sinilah muncul istilah pengemis yang berasal dari ngemis. Pada ruangan ke tiga dan empat berisi koleksi batik dari Surakarta (Solo) dan Yogyakarta. Batik Solo biasanya memiliki warna kuning kecoklatan atau warna sogan karena warna tersebut diciptakan dari kayu sogan. Pada batik Yogyakarta sendiri memiliki kecenderungan pada warna putih dan coklat tua. Biasanya batik ini memiliki simbol Gurdha (Garuda). Ruangan terakhir merupakan ruang khusus untuk puteri dambaan yang berisi koleksi foto Gusti Nurul (cucu Sultan HB VII) dari kecil. Disebut puteri dambaan karena memang Gusti Nurul sendiri menjadi pujaan banyak pangeran, bahkan tokoh besar seperti Soekarno serta Sultan HB IX pernah melamarnya.

Saat istirahat 10 menit, kami disuguhkan jamu awet muda berdasar resep dari Ratu Mas. di sini kami diijinkan untuk melakukan dokumentasi diri. Setelah itu kami dibawa menuju Selasar Reca Londho yang menjadi area ketiga. Pada area ini terdapat banyak koleksi arca peninggalan kerajaan yang sengaja diletakkan bersisian sepanjang teras. Dikatakan londho karena memang terpengaruh budaya Belanda, sehingga dapat ditemukan patung cupid bersama panahnya. Di dalam ruangan ini lebih banyak berkisah mengenai Kasultanan Yogyakarta pada era modern pemerintahan Sultan HB X. Bahkan terdapat lukisan Puteri Diana beserta Pangeran Charles saat menghadiri acara diplomasi monarki di Keraton Yogyakarta.

Pada area terakhir, terdapat replika dari salah satu relief pada Candi Borobudur. Relief ini miring. Katanya ini menjadi bentuk keprihatinan dari si empunya terhadap kurangnya kesadaran pemuda Indonesia dalam melestarikan budaya. Museum ini tidak hanya menawarkan kisah dalam keraton saja melainkan juga corak bangunan yang khas pada tiap areanya. Selain itu, terdapat barang peninggalan asli seperti pakaian yang dulu pernah dikenakan oleh Ratu Mas. Dekat pintu keluar museum terdapat restoran dengan interior Belanda bernama Beukenhof yang menyediakan menu western. Museum ini dibuka setiap hari dari pukul 09.00 – 15.30 WIB. Harga tiket masuk untuk usia 1 – 15 tahun sebesar Rp. 15,000 sedangkan usia di atasnya sebesar Rp. 30,000.

1039 Total Views 1 Views Today

Related Post

Jejak Petualang Seorang Diplomat Amerika

Jejak Petualang Seorang Diplomat Amerika

(Foto: ebooks.gramedia.com) Oleh: Ulfa Fajria Ayub Judul                  : Seperti Bulan dan Matahari, Indonesia dalam Catatan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *