Ekspresi

Tak Gentar

Ilustrasi: Hanan Afif Wirawan

Narasi: Lu’lu Atsna Nurfuadda*

Bacaekon Siang itu, istirahat kedua sedang berlangsung di SMP Duta Bangsa. Disaat siswa lainnya berlarian menuju kantin untuk berebut seporsi makan siang, aku memilih untuk berdiri diam di depan papan mading sambil memandangi poster berjudul “Lomba Tujuh Belasan”. Dalam rangka merayakan kemerdekaan Indonesia, sekolahku mengadakan beberapa lomba antar kelas. Dari sekian banyaknya daftar lomba yang akan diselenggarakan, pandanganku hanya tertuju pada lomba futsal karena nominal hadiah Juara 1 yang terlihat sangat menggiurkan bagiku. 

“Nominal 5.500.000 jika satu tim terdapat sebelas orang, maka masing-masing bisa mendapatkan 500.000. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membantu usaha ibu.” gumamku

Lamunanku seketika buyar setelah merasa ada tepukan di pundak. “Bayu, kamu mau ikut futsal gak?” ucap Andi, selaku ketua kelas VII. Kupandangi dirinya dengan tatapan lesu, seperti telah menyesali sesuatu, yang jelas Andi seolah menangkap arti dari tatapanku. 

“Kalau mau ikut, bilang ya. Soalnya nanti sore aku mau kasih list pesertanya ke BK” tambahnya. Karena aku tak kunjung menjawab, ia melanjutkan, setelah itu pergi. 

Selepas kepergian Andi, aku terdiam lama. Dari kecil, aku tak pernah absen sekalipun untuk berpartisipasi jika ada lomba futsal di daerah kampungku. Entah menjadi juara atau tidak, aku selalu menikmati permainan itu. Namun, sekarang rasa antusias itu pupus setelah melihat peraturan yang tertera dalam poster tersebut, “Seluruh pemain diwajibkan memakai sepatu”. 

Lihat saja sepatuku, sudah usang, beberapa bekas jahitan mulai nampak di bagian depan karena berulang kali sobek. Kalau sepatu ini aku pakai untuk bermain futsal, bisa-bisa saat selesai nanti sudah tidak berbentuk sepatu. Tentu tidak mungkin aku meminta ibu untuk membelikan sepatu baru. Penghasilan dari jualan gorengan sudah habis untuk membeli kebutuhan pokok lainnya, apalagi aku punya adik yang masih kecil, jelas kebutuhannya lebih banyak.

Tak lama setelah itu, aku melihat pak Taufik selaku guru PJOK berjalan menghampiri sambil menenteng paper bag lumayan besar. “Ini punya anak bapak, walaupun sudah tidak dipakai, tapi masih bagus. Sekarang sepatu ini sudah jadi rezekimu ya, nak Bayu.” Ucap beliau serta menyodorkan paper bag itu kepadaku. Mataku membelalak seketika, terkejut dengan hal yang sangat tiba-tiba ini. Langsung kucium tangan beliau lama dengan sesegukan, mulai kurasakan tangan yang mengusap-usap punggungku dengan hangat, “Terima kasih banyak, pak Taufik. Semoga rezeki Bapak lancar sejahtera,” ucapku sambil menahan tangis. 

Berterimakasih pun sesungguhnya tidaklah cukup untuk membalas perbuatannya. 

“Di dalam kehidupan, memang ada banyak alasan untuk menyerah, nak Bayu. Tapi Bapak berharap kamu juga punya banyak alasan untuk terus maju. Kalau jalannya buntu, kita cari jalan yang lain, yang banyak lampunya, biar gak salah ambil jalan lagi. Kalau jalannya banyak batu, kita singkirkan, biar kita tidak tersandung dan jatuh. Sehabis ini, cantumkan namamu untuk lomba futsal, bawa pulang hadiahnya, ya, nak Bayu. Bapak akan selalu dukung kamu.” Pak Taufik menjawab dengan penuh harapan yang disematkan padaku.

Editor: Naufal Rahendra 

*Penulis adalah magang LPM Ekonomika

229 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *