Survive FE UII

Survive FE UII

(sumber foto : http://www.ciputraentrepreneurship.com/)

Oleh : Fardholi Sahrizal

Bacaekon.com-Opini. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII), salah satu kampus terasing dari induknya apabila kita lihat dari tempatnya. Lokasi gedung FE yang terpisah ini, tidak membuat insan-insan yang dinaunginya terasingkan juga. Manusia-manusia FE UII terbukti cukup eksis untuk tingkatan universitas. Ada yang jadi ketua lembaga, ketua kepanitiaan event, masuk UII cantik di media sosial instagram dan berbagai macam jabatan bergengsi lainnya. Tapi apakah eksistensi merupakan faktor penentu survive atau tidaknya seseorang di lingkungan kampus Condong Catur itu sendiri?

Hampir empat tahun kuliah di kampus parkiran penuh ini, saya cukup mengamati masalah eksistensi sebagai kebutuhan primer untuk sebagian mahasiswa. Mungkin sudah selayaknya, saya berbagi kiat-kiat untuk mahasiswa berkebutuhan eksistensi.

Pertama. Tentu kita harus menentukan pilihan, jalur eksistensi mana yang mau kita ambil. Jalur “hore”, jalur ” lembaga” atau jalur “akademisi”. Hal ini penting, untuk menyelaraskan kemampuan dan pilihan yang nanti diambil. Untuk yang tidak mau terlalu ribet mikir, tentu jalur “hore” lebih memaksimalkan perannya. Dan yang selalu dibikin ribet, jalur “lembaga” cocok dengan filosofisnya. Pesan saya, jangan sampai tertukar kedua ini. Selanjutnya, jalur “akademik” saya berkesimpulan, kita akan masuk ke jalur ini pada masanya. Meski, hanya untuk sekedar eksis berkeluh kesah tentang kompre dan skripsi.

Kedua. Terkadang pemilih jalur eksistensi “hore” dan “lembaga” ini bersatu dalam satu kepanitiaan event. Tidak heran, faktor utama eksistensi adalah pengakuan. Keduanya akan butuh pengakuan satu sama lain, setidaknya untuk diketahui kalau dia ada. Jadi, menonjolnya peran dikepanitiaan akan jadi modal penting untuk eksintensi diri kedepannya. Setelah kepanitiaan berakhir, insan-insan Tuhan ini akan mempertegas pilihan jalurnya.

Ketiga. Sebisa dan sesering mungkin untuk memajang muka di hall tengah dan sekitarnya. Karena tempat ini merupakan persimpangan yang mempertemukan makhluk hore dan lembaga. Dengan berbagai alasan, mereka berkumpul di sekitaran hall tengah, bandara dan pantai. Khusus yang berminat jadi pejabat DPM atau ketua LEM ini merupakan tempat recomended untuk membual dan mencari dukungan.

Terakhir. Untuk makhluk berkebutuhan eksistensi, dilarang masuk lembaga terlarang bagi mereka. Yaitu, Lembaga Pers Mahasiswa EKONOMIKA. Berbahaya, saat lembaga ini memberikan kebutuhan eksistensi yang berlebih. Layaknya istilah “overdosis” pada pecandu narkoba. Kisah klisenya, dibuat penasaran lalu jadi candu, akhirnya berlebihan, itu yang kadang manusia berkebutuhan eksistensi pada umumnya tidak bertahan.

 

 

 

 

996 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *