Supervisor adalah Jembatan

Supervisor adalah Jembatan

(sumber foto : http://www.citynetevents.com/)

Oleh: Ridho Haga Pratama

Bacaekon.com-Kampus. Supervisor sesungguhnya lebih dari sekedar suatu jabatan struktural dalam organisasi. Bukan merupakan fungsi strategis secara struktur, bukan pula jabatan ini berada di ranting operasi. Supervisor adalah peran yang tidak terikat dalam bingkai struktural.

“Supervisi itu adalah fungsi manajemen yang bertujuan untuk mendorong pencapaian tujuan organisasi melalui peningkatan profesionalitas dan performa orang-orang dalam organisasi,” kata Arif Hartono, dosen tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Islam Indonesia (UII). Pada sebuah kesempatan diskusi bertajuk Akademisi Berdiskusi (AKSI) yang dimotori oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FE UII dengan tema Effective Supervisory Skill  yang dimoderatori oleh mahasiswa angkatan 2013, Bayu Wijaya di ruang sidang lembaga FE UII, pukul 19.15-22.00 WIB, Kamis (16/4)

Pada acara ini, Arif Hartono membahas berbagai dimensi yang memandang fungsi supervisi dalam organisasi. Mulai dari supervisi sebagai suatu fungsi strategis dalam organisasi, hingga supervisi sebagai fungsi teknis dalam organisasi. Menurutnya, supervisi sebagai aktivitas yang memiliki fungsi baik pada tataran strategis maupun teknis ini sejatinya adalah peran in the middle  yang seharusnya memiliki sifat sebagai jembatan antara keduanya.

Lebih lanjut lagi ia menjelaskan, supervise dalam tataran strategis artinya berkemampuan memahami hal-hal abstrak seperti nilai, visi, misi, dan tujuan yang diperjuangkan organisasi menjadi aktivitas operasi seperti tugas dan timeline. Sementara pada saat yang sama, supervise dalam tataran praktis berarti juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan aktivitas-aktivitas operasi organisasi.

“Itulah kenapa Supervisi itu tidak hanya menilai dari sisi penyelesaian pekerjaan, tapi juga sebagai penjaga nilai yang meluruskan how to-nya,” lanjut Arif Hartono.

“Ini adalah tugas yang paling pertama sekaligus yang paling sulit sebagai supervisor,” lebih lanjut Arif Hartono menjelaskan.

Sebagai contoh, Arif Hartono menggunakan pengalamannya sebagai Ketua Komisi II Badan Perwakilan Mahasiswa FE UII tahun 1990-1992. Ia mengkritik kegiatan orientasi studi pengenalan kampus (ospek) pada masa itu yang identik dengan kekerasan tanpa ada kejelasan tentang nilai Islam apa yang diperjuangkan untuk ditanamkan pada kegiatan tersebut, sehingga tak jelas ke arah mana orientasinya. Arif Hartono mengatakan, “supervisor tidak hanya harus bisa mengarahkan, namun pertanyaanya apa yang mau dicapai pun harus terjawab.”

 

Reporter: Ridho Haga Pratama

1310 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *