Sudahkah Berniat Dengan Sempurna?

Sudahkah Berniat Dengan Sempurna?

(sumber foto : http://pa-nurulislam.blogspot.co.id/)

Oleh : Immellita Budiarti

Bacaekon.com-Oase. Ada berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing orang di muka bumi ini selama sehari semalam. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mulai dari aktivitas sehari-hari hingga aktivitas di luar agenda sehari-sehari. Dari hal yang penting hingga tidak penting. Setiap aktivitas yang dilakukan tentu memiliki tujuan atau niat masing-masing.

Meski demikian, sebagian orang masih belum begitu mengerti niat dari aktivitas yang dilakukan. Niat sendiri secara bahasa bisa disebut keinginan atau tekad. Sedangkan secara istilah adalah keinginan yang berhubungan dengan perbuatan yang sedang dilakukan. Sehingga tidak sedikit orang yang salah dalam meniatkan suatu hal. Padahal segala perbuatan yang dilakukan dinilai berdasarkan niat. Seperti yang disebutkan dalam hadist Arba’in Nawawi ke-1:

عَنْأَمِيْرِالْمُئوْمِنِيْنَأَبِيحَفْصٍعُمَرَبْنِالْخَطَّابِرَضِيَاللَّهُعَنْهُقَالَ: سَمِعْتُرَسُوْلَاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُوْلُ: إِنَّمَا

الأَعْمَالُبِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَالِكُلِّامْرِئٍمَانَوى، فَمَنْكَانَتْهِجْرَتُهُإِلَىاللَّهِوَرَسُوْلِهِفَهِجْرَتُهُإِلَىاللَّهِوَرَسُوْلِهِ، وَمَنْكَانَتْهِجْرَتُهُ

لِدُنْيَايُصِيْبُهَاأَوِامْرَأَةٍيَنْكِحُهَافَهِجْرَتُهُإِلَىمَاهَاجَرَإِلَيْهِ

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al-Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullahshallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkan. Siapa yang hijrahny akarena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan rasul-Nya .Dan barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya (akan bernilai sebagaimana) yang diniatkan.

(Riwayat dua imam hadist, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukharidan Abu Al-Husain, Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An Naisaaburi di dalam duakitab Shahih, yang merupakan kitab paling shahih yang pernah dikarang).

 

Hadist di atas biasa dijadikan cermin atas aktivitas yang kita lakukan selama ini. Untuk apa kita tidur? Untuk apa kita makan dan minum? Untuk apa kita belajar? Untuk apa kita bekerja? Dan masih banyak lagi aktivitas yang perlu dipertanyakan niatnya. Sepele saja, namun penting. Apabila kita makan maka kita mendapat kenyang. Namun apabila kita niatkan untuk memperoleh ridha-Nya, bukan hanya kenyang tapi juga pahala.

 

Karena sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah. Bahkan bukan hanya manusia, tetapi makhluk lain seperti jin yang terter adalam Al-Qur’an surat Adz- Dzariyatayat 56:

وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالإنْسَإِلالِيَعْبُدُون

Artinya:”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Manusia, seringnya berniat untuk kepentingan dunia semata, untuk hal-hal yang bersifat memuaskan nafsu manusia. Padahal, kesalahan dalam berniat bisa berakibat fatal. Misalnya berniat hanya untuk kepentingan dunia bisa disebut juga syirik, dan syirik merupakan perbuatan dosa. Selain itu, kesalahan dalam niat juga menodai ibadah dan amal kebaikan kita. Imam ibnulqayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya) lautan luas yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka, barangsiapa selain wajah Allah, meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya.

Maka sudah seharusnya segala aktivitas yang kita lakukan diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Apabila kita meniatkan segala sesuatu untuk Allah, tidak hanya mendapatkan badan yang fit  setelah tidur misalnya, atau kenyang setelah makan, nilai setelah ujian, uang setelah bekerja, tetapi juga pahala dari Allah SWT sebagaimana yang kitaniatkan.

Menyempurnakan niat tidak mudah, seperti yang diucapkan imam sufyan bin sa’idats-tsauri berkata: tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas). Namun, apabila kita berusaha dalam diri, dengan mengingat akhir hidup kita, perlahan kita mampu menyempurnakan niat kita. Niat hanya mengharap ridha Allah.

 

1019 Total Views 2 Views Today

Related Post

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

(Foto : Islampos.com) Oleh : Nabila Ramadhani “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *