Berita Kampus

Standardisasi Baru Pembelajaran FE UII, Sudah Siapkah?

Foto : Rachmad

Oleh : Tinezia Hairunisya & Utami Adityaningrum*

Ujian Tengah Semester (UTS) telah berlangsung sejak 21 Oktober 2019 lalu, tetapi ada yang berbeda pada soal UTS kali ini, yaitu penambahan konten baru di lembar soal berupa Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan sub CPMK.  Perbedaan tersebut disadari oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, salah satunya Ami Putri Utami, mahasiswa Manajemen angkatan 2018. “Sadar sih bedanya, soalnya lebih banyak karena adanya CPMK,” tutur Ami. Pencantuman CPMK dalam UTS berlaku di seluruh Fakultas Ekonomi. Hendy Mustiko Aji, dosen Fakultas Ekonomi, mengungkapkan bahwa CPMK yang diterapkan merupakan ketentuan dari bauran akreditasi. “Yah dari Fakultas lah, tetapi bentuk CPMK berbeda-beda di setiap prodi yang ada di Fakultas Ekonomi,” ujar Hendy.

Perubahan pada UTS ini dikonfirmasi oleh Ratna Roostika, selaku tim verifikasi dari Prodi Manajemen. Ia mengatakan bahwa perubahan yang terjadi pada UTS kali ini merupakan ketentuan dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). “Sebenarnya itu kan perintah dari Dikti yang disosialisasikan ke setiap universitas. Bahwa apa yang diajarkan terencana sesuai RPSnya (Rencana Pembelajaran Semester -red), bahkan sampai soal-soal ujian pun sesuai dengan RPSnya,” tutur Ratna. Mahmudi, Kepala Program Studi (Kaprodi) Akuntansi, menambahkan bahwa Kemenristekdikti hanya memberikan pedoman kepada setiap universitas. Badan Penjamin Mutu Universitas Islam Indonesia lah yang membuat standardisasi dan membuat lembar assessment untuk dicantumkan informasi ke dalam RPS.

Perintah penerapan CPMK dalam pembelajaran sudah dikeluarkan sejak beberapa tahun terakhir. Namun perlunya sosialisasi kepada dosen-dosen menyebabkan penerapan CPMK pada pembelajaran dan soal UTS baru dilakukan mulai semester ini. “Itu kan persiapannya banyak to, sosialisasi-sosialisasi dari Dikti ke universitas. Universitas harus menyesuaikan, kan RPS nya harus dibuat dulu, harus punya dulu.” ungkap Ratna.

Sayangnya, sosialisasi di tingkat dosen tidak berbanding lurus di tingkat  mahasiswa yang menimbulkan permasalahan pada pengerjaan soal ujian. Ami mengatakan banyak waktu terbuang untuk membedakan sub CPMK dan soal ujian. Selain itu, Muhammad Farid Iffat, Mahasiswa Akuntansi 2018 juga merasakan soal yang lebih sulit setelah penetapan CPMK. “ Lebih susah karena harus menyesuaikan dengan CPMK yang ada,” ujar Farid. Mahmudi mengkonfirmasi keterbatasan waktu menyebabkan sosialisasi kepada mahasiswa yang belum optimal. “Jadi belum optimal dalam sosialisasinya dan juga sosialisasi dosennya pun belum semua melakukan ke mahasiswa,” ujarnya.

Masalah yang muncul tentang CPMK ini bukan hanya di tingkat mahasiswa melainkan juga di tingkat dosen. Hendy mengatakan dengan adanya CPMK ini penilaian kepada mahasiswa dari dosen menjadi lebih sempit yaitu hanya diukur dengan hasil ujian padahal saat ini metode yang digunakan dalam pembelajaran di Universitas Islam Indonesia adalah Student Study Learning (SSL). 

Menanggapi kesulitan yang dialami oleh dosen, Ratna  menyadari masih banyak dosen yang perlu menyesuaikan dengan CPMK. Hal ini membuat tidak ada sanksi yang diberikan kepada dosen yang belum menggunakan CPMK dengan tepat. “Nggak, kalo pertama ini nggak  karena kita masih belajar, ya kita memang sampel dulu. Kan dulu ada sampel juga, masih ada beda-beda dulu. Belum ada yang benar-benar betul, kita masih belum bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah,” tutur Ratna. Hal ini didukung oleh pernyataan Mahmudi yang menyatakan bahwa kesalahan terjadi dikarenakan dosen belum terbiasa dengan CPMK. 

Berbeda dengan Kaprodi IE, Sahabudin Sidiq mengatakan bahwa dosen yang tidak menerapkan CPMK tentu akan mendapatkan konsekuensi sendiri. “Adakan namanya nilai kinerja mengajar, disitu dilihat apakah sudah menggunakan CPMK tersebut, jika tidak nanti nilai dosen itu kan menurun, hal itu akan berpengaruh pada kinerja nilai dosen,” ujar Sahabudin.

Untuk mengurangi masalah yang ada saat pembuatan soal UTS yang sesuai CPMK  maka dibentuk tim verifikasi di setiap prodi. Sahabudin menjelaskan bahwa untuk Prodi Ilmu Ekonomi terdiri dari kepala prodi, wakil kepala prodi, dan dosen kelas paralel. Begitu pula pada Prodi Akuntansi. Berbeda dengan kedua prodi tersebut, tim verifikasi Prodi Manajemen ditunjuk oleh kepala prodi yang berisi tiga dosen yang dibagi per gugus mata kuliah. Tim verifikasi setiap prodi bertanggung jawab menyeleksi lebih dari 200 unit soal, yang disesuaikan dengan indikator CPMK.

Meskipun sudah dilakukan sosialisasi dan adanya tim verifikasi, tetapi penerapan CPMK di soal UTS ini masih banyak kendala. Ratna berharap kedepannya ada kesesuaian soal dengan standar yang diberikan. “Ya, pertama desain soal bagaimana yang nyaman buat mahasiswa. Terus juga sosialisasi, supaya ga bingung, entah mau dipisah antara ketentuan CPMK dengan soal, jadi tetap bisa fokus sama soal nya,” jelas Ratna. Farid berharap penerapan CPMK dapat memberikan pemahaman nantinya. “Yang saya harapkan dengan adanya CPMK adalah bagaimana sistem ini dapat memberikan pemahaman tentang tujuan (capaian pembelajaran -red) dari kita sebagai mahasiswa mengerti dan memahami apa yang kita pelajari dari mata kuliah itu,” tutup Farid. 

Reporter : Adis, Dini, Rachmad, Tinezia dan Utami

Editor: Retno

*Penulis adalah anggota magang LPM Ekonomika

320 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *