Berita Kampus

Membaca Data, Menyehatkan Gerakan Massa

Foto : M. Abinaya Hadianto

Oleh : Utami Aditya Ningrum

Bacaekon.com-LPM Ekonomika membuka sesi pertama Leadership Camp 2020 pada Jumat, 11 Desember 2020. Dibuka dengan diskusi berjudul Cara Baru Menganalisis Gerakan Sosial melalui Digital.  Ismail Fahmi, founder Drone Emprit, yang merupakan pembicara pada acara tersebut memaparkan berbagai macam hal mengenai aktivisme di media sosial. Dilansir oleh Tempo.co,  Drone Emprit adalah sistem yang memonitor serta menganalisis percakapan di platform online berdasarkan big data. Seperti yang kita ketahui, pembahasan isu politik, ekonomi, lingkungan, dan sebagainya, saat ini masif terjadi di berbagai media sosial seperti Twitter, Tiktok, Facebook, dan Instagram. 

Ada banyak gerakan aktivisme yang dilakukan di media sosial. Hal tersebut  dinilai mampu dan mudah untuk mengorganisir pihak-pihak yang diklaim ada di posisi yang sama. Aktivisme di media sosial ini beriringan juga dengan terjadinya Pandemi Covid-19 yang banyak menggeser kegiatan ke dalam jaringan.

Dalam diskusi tersebut, Ismail Fahmi Memaparkan pentingnya memahami narasi utama dalam setiap gerakan massa di media sosial, hal ini untuk mengetahui substansi isu tersebut. Untuk mengetahui narasi utamanya, salah satu caranya adalah dengan melihat Most Retweeted Post (di Twitter). Sebelum beranjak mengetahui narasi utama, penting pula untuk mengetahui asal muasal isu tersebut. Drone Emprit memiliki sistem yang dapat menelusuri siapakah yang pertama kali menarasikan sebuah isu di media sosial. Kemudian diikutinya juga alur penyebaran narasi tersebut hingga menjadi sebuah gerakan digital yang besar.

Dalam pembahasan isu yang sedang hangat dibincangkan oleh publik, salah satu media sosial yang dominan dalam membahas sebuah isu adalah Twitter. Twitter menjadi tempat paling aktif bagi orang-orang untuk menyampaikan pendapat. Tiwi Sartika, peserta webinar, melontarkan pertanyaan. “Apa yang melatar belakangi sebuah informasi itu cepat sekali menjadi trending topic di Twitter, tidak seperti di lapak media sosial lainnya? bahkan media online pun membuat berita yang sumbernya dari Twitter yang sudah menjadi trending topic, seperti yang abang paparkan tadi,” ujar tiwi via pesan Zoom. Kemudian Ismail Fahmi menjawab, Twitter memiliki sistem trending topic sehingga memudahkan penggunanya. Twitter memiliki algoritma tersendiri: suatu isu dapat menjadi trending jika dinaikkan (membuat cuitan dengan kata kunci) bersama-sama dalam waktu yang konsisten. Kemudian perihal penggunaan trending topic sebagai sumber berita, menurut Ismail, hal ini dikarenakan diterapkannya Work From Home sehingga sulit bagi reporter untuk terjun langsung ke lapangan. Oleh karena itu trending topic menjadi salah satu bahan berita yang kemudian rawan dijadikan sebagai manipulasi opini publik.

Dengan sebuah data, proses reportase sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih mendalam. Ismail memaparkan bagaimana analisis unsur “when” dengan menggunakan data miliknya. Analisis dilakukan dengan membaca tren, sehingga dapat diketahui unsur “when” yang lebih akurat, serta dapat merekonstruksi kejadian digital dengan lebih baik.

Dengan mengamati beberapa tren, ada kemungkinan jika beberapa tren tersebut digabung akan menemukan suatu korelasi. Inilah yang disebut dengan Jaringan Analisis Digital. “Dalam gerakan sosial pasti ada yang menggerakkan,” maka dari itu, untuk mengukur kekuatan jaringan analisis diperlukan centrality yang menghimpun seluruh percakapan di media sosial. Dari hasilnya, gerakan di media sosial terbagi menjadi beberapa kelompok. Yang paling sederhana yang sering dijumpai adalah (misalnya) kelompok oposisi dan petahana. Dengan membaca data ini, dapat dibandingkan besarnya kekuatan massa antara kedua belah pihak.

Keberlangsungan demokrasi pun dapat ditinjau melalui penyebaran data. Ismail menjelaskan secara gamblang perbedaan distribusi informasi dahulu dan kini. Penyebaran data melalui berbagai media sosial dinilainya dapat menjadi satu instrumen untuk menegakkan demokrasi. Beliau juga meyakini betul dengan keterbukaan informasi, masyarakat kini dapat memilih berbagai metode dalam memperjuangkan demokrasi. Lebih lanjut beliau memaparkan, dengan media sosial semua orang memiliki peluang yang sama untuk demokrasi: memperjuangkan atau menjatuhkan demokrasi, “ini tugas kita, kita mau diam di media sosial atau bergerak untuk publik,” pungkasnya. 

Dalam praktiknya, penyebaran informasi yang masif juga cenderung diikuti dengan penyebaran hoaks. Penyebaran informasi tersebut dapat dikategorikan menjadi dua: Misinformasi dan Disinformasi. Misinformasi adalah sebuah praktik menyebarkan berita tanpa memverifikasi terlebih dahulu substansi dari berita tersebut. Sementara itu, disinformasi adalah penyebaran informasi yang telah diketahui realitasnya; salah atau benar. Hal tersebutlah yang dinilai menjadi permasalahan dalam penyebaran informasi di media sosial. Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa hoaks itu memiliki ragam jenis: ada yang berkaitan dengan tren waktu dan tidak. Beliau mencontohkan isu politik adalah salah satu isu hoaks yang berkaitan dengan waktu. Di satu sisi penyebaran informasi yang berbau konspirasi tidak terbatas dalam dimensi waktu karena dibutuhkannya pengembangan dalam proses penyebaran dan rangkaian alur konspirasi tersebut; vaksin Covid-19 misalnya.

Di era saat ini, data sudah selayaknya menjadi sebuah sumber daya. Menurut Ismail, data dapat menjadi sebuah hal yang berharga ketika diolah dan dipergunakan. “Jadi kalau kita dapat data dan kita nggak tau harus ngapain dengan data itu, ya data hanyalah data,” ucapnya. Di samping itu, saat ini data telah masif digunakan di berbagai sektor dan kepentingan. “Maka dari itu Anda butuh kemampuan membaca data,” kata Ismail.

*Berita ini telah diperbarui pada 15 Desember 2020 pukul 14.13 WIB

Reporter : Utami Adityaningrum

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

301 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *