Buku Rekomendasi

Self Improvement “Filosofi Teras”, Menjadi Diri Yang Tangguh

Foto : http://gerai.kompas.id/

Narasi : Ronna Shinta Kirana

Pengarang       : Henry Manampiring

Halaman          : 346

Penerbit           : Kompas

Bacaekon – Filosofi Teras (2019) sebuah buku self Improvement tentang filsafat atau mazhab Yunani-Romawi kuno yang dimana dapat membantu diri sendiri untuk mengatasi emosi negatif dan membentuk mental yang tangguh dalam menghadapi permasalahan hidup.

Dalam penerapan kehidupan sehari-hari Filosofi Teras dapat ditujukan untuk berbagai kalangan seperti diantaranya, generasi milenial dan gen-z yang ingin menjadikan dirinya tangguh, menjadi seorang entrepreneur, mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan dan memiliki kualitasnya tersendiri, dan siapapun yang bertanya-tanya mengenai Filosofi Teras ini.

Filosofi Teras jauh dari kesan filsafat sebagai topik yang sangat berat, akan tetapi, justru malah bersifat praktis. Tidak lekang oleh waktu dan tidak berlawanan dengan ideologi lain. Buku ini lebih mengacu tentang permasalahan kehidupan manusia yang perlu adanya suatu gebrakan, yang dapat membantu kita untuk mengatasi emosi kita. yaitu, dengan membentuk mental yang tangguh untuk menghadapi permasalahan hidup. Maka dari itu, butuh solusi untuk menyelesaikan permasalahan hidup kita, seperti dalam Stokisme dianggap dapat menyembuhkan penyakit akut zaman now yang diantaranya stres, depresi, gampang marah ? Jawabannya hanyalah hal sederhana yaitu mengontrol emosi negatif kita sendiri. 

Stokisme dijelaskan dapat membuat seseorang menjadi tidak dapat terpengaruh dengan apa yang orang lain katakan, dalam filosofi stoisisme didefinisikan “Daya tahan terhadap rasa sakit atau kesulitan tanpa banyak mengeluh.” Stoisisme cenderung  dapat mengelola penilaian diri, bersikap realistis, menyeimbangkan diri, dan berdamai dengan dirinya sendiri. “Hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete) atau hidup bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.”(hal.33). Dengan itu, perbedaan stoa dengan filsafat lain dari segi sifat praktisnya yaitu dengan hidup seperti seharusnya menjadi manusia.

Mengenai berbagai permasalahan pada tiap-tiap kehidupan. Kita diajarkan untuk mencari kedamaian hidup melalui diri sendiri bukan berekspektasi pada apa yang ada di luar kendali kita. Prinsip utamanya adalah kita sebagai manusia tidak sepantasnya melawan sabda alam, harus hidup selaras dengan alam untuk bersikap ikhlas atau lapang dada serta fokus pada apa yang dapat dikendalikan. Seperti dalam kehidupan sehari – hari, kita telah bersiap untuk pergi hangout dengan teman dan sudah dandan rapi mengenakan pakaian favorit, namun hujan turun dan kita tidak jadi berangkat pergi. Apakah dengan hal itu kita harus marah-marah, mengutuk diri, atau menyalahkan cuaca? mungkin sebagian dari kita akan melakukan hal itu, akan tetapi dengan stoikisme kita akan menyadari bahwa turunnya hujan adalah di luar kendali kita. kita tidak bisa menyalakan hujan, cuaca maupun hal lainnya. Jadi untuk itu, fokuskan saja diri kita pada solusi dan hadapi dengan tenang.

Pada intinya kita harus pusatkan energi pada sebuah solusi dan berhenti mengutuk keadaan, karena emosi negatif yang keluar hanya akan menambah masalah dan beban pikiran sendiri. Sederhananya, menurut stoa bahagia adalah ketika kita terbebas dari emosi negatif dan segala perasaan yang mengganggu. 

Kita perlu mengatur emosi, supaya dapat mengatur suatu reaksi pada diri sendiri yaitu dengan mengontrol diri, dengan pengendalian dikotomi. Dengan ini terdapat dua pengendalian dikotomi, yaitu : Pertama, apa yang dapat dikendalikan oleh diri sendiri seperti halnya persepsi, pikiran, opin diri sendiri dan hal lainnya. Kedua, hal yang tidak dapat dikendalikan oleh diri sendiri seperti : penilaian orang, cuaca, kesehatan, dan hal lainnya. 

Menurut stoikisme, hal-hal yang dapat membuat sedih, marah, kecewa, dan emosi negatif lainnya. Merupakan kebahagiaan yang kita gantungkan pada sesuatu di luar kendali kita “Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak dibawah kendali (tidak bergantung pada) kita.” (hal.46). Bila kita terlalu fokus dengan apa yang dapat kita kendalikan, maka itu akan membuat kita merasa bahagia. sedangkan ketidakbahagian kita justru dari suatu hal yang di bawah kendali kita. Dengan itu, manusia harus dapat melatih dirinya sendiri untuk membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi supaya lebih siap dalam menghadapi kenyataan di masa yang akan datang. 

Buku yang berjudul Self Improvement “Filosofi Teras”, dapat direkomendasi bagi orang yang sering merasa khawatir, cemas, mudah tersinggung, mudah marah dan lainnya, karena ternyata resep mengontrol emosi dari zaman dulu bisa dibawa dan diterapkan pada kehidupan manusia saat ini.

Editor : Sri Tina Sabilla

262 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *