Jaka Sriyana: Segala Sesuatu Dimulai dengan Senang Dulu

Jaka Sriyana: Segala Sesuatu Dimulai dengan Senang Dulu

(Foto : Jihan)

Oleh : Sarah Asiyah Qolby Kadir

Bacaekon.com, Kampus-Pemilihan dekan telah dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII). Pemilihan dekan ini melahirkan sosok pemimpin yang baru di FE UII salah satunya ialah Jaka Sriyana. Pria kelahiran 1 April 1967 asal Sleman ini memulai karirnya sebagai dosen pada tahun 1994 di UII setelah menyelesaikan Strata-1 (S1) di Universitas Gadjah Mada (UGM). Jaka juga melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister di kampus yang sama yaitu UGM pada tahun 1998. Kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktoral di Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 2002 hingga 2005 dengan sebagian biayanya ditanggung beasiswa riset dari UII.

Dosen yang biasa dipanggil dengan Pak Jaka oleh mahasiswa beserta dosen lainnya di FE UII telah memiliki pengalaman menjadi asisten dosen di UII dan UGM pada saat masih mahasiswa S1 semester lima hingga delapan. Asisten dosen ia jalani karena cita-cita awal ingin menjadi dosen profesional. Menurutnya keinginan menjadi dosen sudah ada ketika ia duduk di bangku kuliah  semester empat. “Saya mendapat inspirasi, mendapat pencerahan, mendapat pengetahuan baru dari dosen-dosen saya gitu. Ya kemudian saya cermati lagi dosen-dosen yang memiliki pendidikan lebih luas di negara lain, itu punya wawasan luas, nah saya pengen cita-cita seperti itu,” tuturnya pada saat wawancara di kantor dekanat FE UII.

Menekuni profesi sebagai seorang dosen, pria yang sekarang ini menjabat sebagai dekan FE UII memiliki motivasi untuk melakukan pekerjaannya tersebut. Senang adalah motivasi yang diselipkan dalam aktivitasnya sebagai dosen. Rasa senang dan meyakini hal yang dijalani itu benar merupakan sesuatu yang dapat dilakukan untuk berbagi melalui profesinya. Berbagi melalui profesi ialah memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain. “Nah kalau kita senang dengan profesi kita itu, biasanya akan mendorong motivasi kita untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang apa harus kita lakukan untuk profesi itu. Segala sesuatu harus dimulai dengan senang dulu dan itu kita yakini adalah hal yang benar,” ujar Jaka.

Berprofesi sebagai dosen, Jaka tentunya pernah melakukan penelitian. Pada saat melakukan penelitian, kendala yang ditemukan yaitu harus menulis proposal yang baik serta kewajiban untuk menguasai Bahasa Inggris. Kendala yang dihadapi tidak menyurutkan semangatnya dalam melakukan pekerjaan tersebut seperti tetap mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya. Menurutnya kendala merupakan sebuah tantangan. Pilihan yang akan diambil yaitu ada dua, kita tinggalkan atau kita jadikan sebagai tantangan baru untuk diri  kita sendiri. Berhasil melewati tantangan yang ada akan membuat kita senang.

Jaka menceritakan masa-masa dimana ketika ia masih menjadi seorang mahasiswa. Ia mengikuti diskusi organisasi beberapa periode di UGM yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bernama Timbang. Jumlah peserta diskusi sekitar 15 sampai 20 orang, meskipun yang hadir hanya sedikit ia tidak merasa sedih karena yakin bahwa pionir tak datang dari banyak orang.

Pernyataan yang diberikan tentang pentingnya berorganisasi juga ia paparkan bahwa organisasi merupakan laboratorium hidup, karena memberikan suatu pembelajaran akan suatu empati, sopan santun, negosiasi dengan orang lain dan masih banyak lagi. “Ada hal-hal dalam hidup, dalam karir, dalam bermasyarakat itu yang kita pelajari tidak melalui tulisan. Saya pengen berenang tapi belum pernah ke kolam berenang ya nggak bisa renang. Istilah kalo laboratorium, hidup itu perlu dijalani dan salah satu hal dalam hidup kita berorganisasi.”

Kedepannya Jaka berharap semua mahasiswa memiliki “Harmonizing Heart, Head, and Hand”. Harmonizing yang berarti mengharmonisasikan. Heart adalah pemahaman akan UII yang nilai utamanya adalah Islam Principle. Head adalah ilmu pengetahuan yang ada di dalam kelas sebagai representasi yang telah dipelajari. Serta Hand yang merupakan skill yang bisa didapatkan di organisasi.

Diakhir tak lupa pula ia memberitahukan tentang tugas seorang mahasiswa di bidang akademik dan organisasi. Ia berpesan bahwa akademik dan organisasi tetap ada pada mahasiswa. Tugas utama seorang mahasiswa adalah di bidang akademik dan tetap mengasah kemampuan dengan cara berorganisasi. “Tambahan dari saya pesan untuk rekan-rekan mahasiswa itu yang pertama jangan lupa tugas utama di bidang akademik, yang kedua lebih ikut membangun kompetensi diri melalui keterlibatannya dalam berbagai organisasi itu penting,” tuturnya di akhir wawancara.

Reporter : Jihan, Nadifa.

27994 Total Views 454 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *