Ekspresi

Sedu Sedan

Foto: harianterbit.co

Oleh : Adim Windi Yad’ulah*

 

Tak semua orang harus sama.

Setiap orang memiliki jalan hidupnya.

Dan setiap orang, pasti memiliki tujuan hidup masing- masing.

Ada yang mewarnai harinya dengan amarah, ada juga yang pandai melukis kisah dengan indah. Aku bahkan sampai lupa, kapan kisah indah menghampiri hidupku. Kuingat baik baik sedari terlahir ke bumi, hingga aku berdiri di bumi pertiwi. Tak ada memori indah yang terlintas sebentar di dalam memori ini. 

Entah, apakah aku amnesia?

Pagi buta. Mataku terpaksa untuk melihat dunia, sinar matahari merangsek masuk melalui celah-celah jendela kamar indekos. 

Sial, pagi ini aku lupa menyapa dan berkomunikasi dengan sang pencipta. Begitu angkuhnya diri ini tidak menyapa-Nya di pagi hari. Semoga engkau mengampuni raga ini.

Kubuka jendela untuk memastikan dunia baik-baik saja. Ternyata benar, hari ini tak ada yang berbeda dari hari lainnya. Ku tengok kearah jam yang berdetik, pukul tujuh pagi. Dalam hati meracau, “hari yang membosankan”. 

Segera kuambil gawai, untuk memastikan dunia maya tak se-membosankan dunia nyata. 

Ah sial, ternyata tak jauh berbeda. Ku melihat di berbagai sosial media, hanya ada hujatan dan makian orang yang terhasut oleh berita atau bahkan akun gossip yang tak ada makna. Apakah di zaman ini yang tersisa hanya maki dan dengki?.

Setelah bosan dengan layar gawai, tubuh ku memaksa kembali rebahan dalam empuknya kasur. Tangan menggeliat mencari pengontrol televisi, tombol merah kutekan. 

Suara berat seorang laki laki paruhbaya yang pertamakali terdengar dari dalam televisi. Debat kusir di pagi hari terjadi, mirisnya melihat acara yang di siarkan televisi. 

Ah,pagi hariku kembali dihiasi oleh obrolan yang memuakkan. 

Aku heran dengan pagiku ini, mengapa semua nampak membosankan? Tanya dan tanya, tak ada jawaban  yang pasti.

Pukul delapan pagi, ku bergegas menyusuri kota istimewa. Tiap sudut dan sisi kota kuperhatikan lekat-lekat. Kedamaian dan senyuman warga kota istimewa ikut mendamaikan dan menyejukkan hati setiap insan yang sedang bingung mencari suatu hal  menenangkan.

Ah, indahnya kota ini yang memberikan penuh kesehajaan dalam hidup.

Pukul sebelas, di hari senin. Ku susuri salah satu jalan kota istimewa, kulihat berbondong-bondong remaja membawa bermacam kertas yang tergoreskan pesan sindiran. Ku lihat seksama dan kubaca lagi sembari memastikan. Oh tidak, apakah mataku salah? Apakah tulisan itu bahan candaan? Tulisan yang dibawa oleh kerumunan remaja kembali ku baca dengan teliti untuk memastikan apakah benar yang kulihat adalah fakta?.

Ternyata apa yang kulihat benar, Kubaca kalimat yang berisi pesan menyindir, aku sebagai rakyat jelata pun malu membaca kalimat itu. Bagaimana perasaan orang yang di sindir dalam kalimat itu?.

Ku ikuti kerumunan remaja yang membawa kalimat sindiran itu hingga berhenti di suatu sisi jalan. Mereka semua bersorak lantang menuntut. Untungnya, tak seorang pun dari gerombolan manusia ini berbuat anarki. Aku sejenak tertegun akan pemandangan yang ku lihat didepan mata. Kota ini memang benar istimewa. Julukan itu tidak salah, dan tak pernah salah. 

Ku rogoh gawai dari saku celanaku, ku membuka jendela lini masa. Ku ketikkan salah satu media yang ku percaya. Apa yang terjadi di kota istimewa hari ini? Tak lama kemudian, gawaiku memberikan jawaban. Ternyata mereka menuntut banyak hal dari elit negeri ini. 

Sedangkan kulihat pagi tadi mereka sedang berdebat bagai menunjukkan drama komedi yang kuanggap lucu. Kulihat lagi di media lain. headline news kubaca, Isi berita pun tak kulewatkan. ternyata kejadian serupa juga terjadi di berbagai sudut kota di indonesia. aku tercengang, ada apa dengan negeri yang kucintai?.

Terdengar lantang dari kejauhan nyanyian lagu ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang hingga tergenang di sudut mata. Oh negeriku sebab apa yang membuatmu menangis? Sebab apa yang membuatmu seperti ini?.

Aku duduk termenung di bibir jalan. Apakah negeri ini sedang baik baik saja? Mengapa banyak maki dan dengki di media maya? Mengapa ada kerumunan remaja di dunia nyata?.

 Memang, setiap manusia memiliki pemikiran yang berbeda, setiap orang memang memiliki jalan yang tak sama. Tapi mengapa begitu tega menyebabkan ibu pertiwi menangis tersedu sedan begini? Aku yakin bahwa negeri ini indah, maka akan lebih indah jika kita mewarnai dengan tinta yang berwarna. 

Perbedaan warna bukanlah hal yang membuat apapun terlihat kontras. Akan tetapi, perbedaan warna akan membuat kesan indah bila dijaga dengan baik. Cepatlah pulih negeriku, ibumu tak boleh lagi menangis sedu sedan seperti ini.

Editor : Oliv

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Ekonomi UII angkatan 2018

171 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *