Buku Rekomendasi

Sebuah Refleksi Beragama di Kehidupan Sehari-hari

Foto : Salwa Nida’ul Mufidah

Narasi: Salwa Nida’ul Mufidah

 

Judul Buku: Merasa Pintar, Bodoh Saja tak Punya

Penulis      : Rusdi Mathari 

Tahun        : 2016

Tebal          : 226 Halaman

Penerbit    : Buku Mojok

 

Bacaekon.com-Seperti orang gila, begitulah Rusdi Mathari menggambarkan sosok Cak Dlahom dalam buku “Merasa Pintar Bodoh Saja tak Punya”. Dialog metafora dari Cak Dlahom dan Mat Piti sukses membuat pembaca melongo bahkan berpikir dua kali untuk mencerna makna dari kalimat-kalimat tersebut.

Alur cerita dan nilai kehidupan yang out of the box dalam buku ini dikemas apik. Apalagi sang tokoh utama yang dianggap tidak waras oleh masyarakat membuat kita bisa melihat dari sudut pandang yang lain.

Dalam buku ini diceritakan bahwa Cak Dlahom kadang dijumpai di pinggir kali, meracau sendirian pada air. Kadang ia memanjat pohon dan mengaji keras-keras. Kadang ia tidur di kandang sapi milik Pak Lurah, menciumi kambing-kambing itu lalu menangis. Kadang ia juga mendatangi masjid, hanya berdiri memandangi orang-orang yang shalat. Sebab itulah masyarakat di kampung menyisihkannya. Tetapi, ada satu orang yang memprioritaskan Cak Dlahom, yaitu Mat Piti. Walaupun dianggap tidak waras, tetapi ia senang mendengarkan Cak Dlahom berbicara. Baginya, ada pesan tertentu di balik ocehan Cak Dlahom yang belum tentu dipahami oleh semua orang di kampungnya.

Buku ini sangat ringan untuk dibaca tetapi memiliki makna yang sangat dalam jika kita memahaminya. Cerita yang diangkat merupakan gambaran kehidupan kita sehari-hari. Bahkan hal-hal yang mungkin tidak kita sadari tetapi sering kita lakukan dan kita percayai bahwa hal itu sudah ‘benar’. Sebagai contohnya perihal ‘syahadat’. Seperti yang telah kita ketahui, syarat sah masuk Islam adalah dengan mengucap kalimat syahadat. 

Dilansir dari Republika.co.id,  syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat syahadat. Yaitu, “Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Lalu bagaimana nasib orang-orang yang mengaku Islam sejak lahir? Apakah sudah disebut sah masuk Islam? Padahal saat kita lahir hanya bisa menangis, boro-boro mengucapkan dua kalimat syahadat. 

Hal tersebut juga dibahas dalam dialog Cak Dlahom bersama Mat Piti. Pada hari kedua bulan Ramadhan, Cak Dlahom bertanya “Kapan kamu baca syahadat masuk Islam?” Mat Piti pun menjawab jika ia sudah membaca syahadat sejak kecil dan setiap shalat walaupun tanpa diniatkan sebagai syahadat masuk Islam. “Syahadat itu hal yang paling dasar dalam Islam, Mat. Fondasi. Itu sebab, orang yang masuk Islam, pertama, harus baca syahadat. Disaksikan banyak orang.” Dari kalimat Cak Dlahom tersebut terdapat sebuah pesan yang mungkin telah menyadarkan kita. Apakah selama ini kita telah benar-benar masuk Islam?

Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, buku ini membawa kita pada kesadaran yang mampu mengguncang akal dan akhlak di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan di beberapa bab, saya merasa malu pada diri sendiri karena selama ini telah merasa benar melakukan suatu hal yang ternyata hal itu salah. Menarik sekali membaca buku fiksi yang mengupas dasar-dasar beragama Islam dengan bahasa yang ringan.

Rusdi Mathari sedikit banyak telah memberikan gambaran betapa pentingnya memperbaiki dan memelihara hubungan baik antara manusia dengan Tuhan. Ia sangat piawai mengemas dasar-dasar beragama Islam dalam dialog yang ringan dan nagih untuk para pembacanya.

 

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

211 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *