Buku Rekomendasi

Sebelas Patriot, Memaknai Sepak Bola dengan Cara yang Berbeda

Foto : Suara USU

Narasi : Ikrar Arumi

Bacaekon.com-Sepak bola tidak sebatas benda bulat yang ditendang dan diperebutkan. Ia punya makna tersendiri bagi setiap orang yang menggemarinya.

Di tiap-tiap permainan sepak bola pasti diikuti dengan euforia para pendukungnya. Walaupun tak menyukai sepak bola, melihat suporter bola gigih mendukung tim jagoannya merupakan suatu hal menyenangkan.  Salah satu memori yang paling melekat mengenai bola adalah momen Piala Dunia 2010. Kala itu usiaku masih 10 tahun, setiap hari ku lihat ekspresi ayah, tetangga, dan saudara begitu sumringah. Terlebih lagi theme song-nya memang bagus. Masih relevan diputar di masa sekarang.

Beranjak sedikit dewasa, aku juga masih mengingat momen Euro 2016. Kala itu usiaku 16 tahun, sudah bisa ikut menikmati alur pertandingan sepak bola. Beberapa kali sempat ikut bertaruh, siapa yang kalah dia harus push-up 30 kali. Menyenangkan sih, itung-itung olahraga.

Membicarakan momen sepak bola selalu membawaku pada sebuah memori lama mengenai suatu buku, judulnya Sebelas Patriot. Sebuah tulisan dari Andrea Hirata yang menarasikan sepak bola dengan cara yang berbeda.

Ikal, seorang remaja yang amat menyukai sepak bola. Semua berawal ketika ia menemukan sebuah foto milik ayahnya. Dulu ayahnya adalah salah satu pemain terbaik yang dimiliki Indonesia saat masa penjajahan Belanda. Kepiawaian ayah Ikal dalam bermain bola merupakan ancaman bagi Belanda. Sebagaimana sepak bola adalah pengumpul massa, sepak bola kerap dikaitkan dengan politik, saat itu. Menggelikan jika tim sepak bola Belanda harus kalah dengan tim Indonesia. Maka dari itu, Belanda berusaha untuk mencegah ayah Ikal, dan dua saudaranya, untuk bermain bola. Banyak hal terjadi, tiga bersaudara itu disuruh kerja rodi, dipindahkan tempat kerja, diasingkan, dan selalu dijauhkan dari bola.

Setelah tiga saudara pulang dari pulau pengasingan, mereka bekerja di sebuah parit tambang. Kebetulan saat itu ada pertandingan bola. Tiga bersaudara dan delapan orang lainnya bermain menjadi satu tim melawan tim bola Belanda. Pertandingan pun dimenangkan tim parit tambang, tentu saja membuat Belanda geram. Selepas kemenangan itu, ayah Ikal dikurung, kemudian ia pulang dengan keadaan kaki yang pincang. Ia tidak dapat lagi bermain bola –sebuah kegiatan yang amat dicintainya.

Mengetahui cerita pahit ayahnya, Ikal semakin bertekad untuk menjadi pemain PSSI. Namun ia gagal, tetapi tak mengapa, prestasi tertinggi seseorang adalah kebesaran jiwanya. Ikal mengikatkan diri menjadi pendukung setia PSSI. Menjadi patriot PSSI. Hingga ketika ia merantau ke Sorbonne, Prancis, ia tetap menjaga PSSI di dalam jiwa dan raganya. Sepak bola adalah nyawa Ikal kemanapun ia melangkah.

Di Sorbonne, Ikal mengenal seorang perempuan. Ia adalah Adriana, penggemar klub Real Madrid. Adriana membuka perspektif baru buat Ikal, bahwa ternyata sepak bola tidak mengenal gender. Adriana, seorang perempuan, pun bisa tergila-gila dengan bola. Adriana memiliki pemaknaan tersendiri tentang bola. Baginya mencintai sepak bola bukanlah peduli ketika timnya berhasil mencetak gol. Mencintai sepak bola adalah mencintai bidang itu sendiri. Merasa lebih hidup ketika klub favoritnya sedang bertanding.

Mencintai sepak bola juga tidak semata mencintai bola itu sendiri, bisa juga sebagai ekspresi kecintaan kepada bangsanya. Sepak bola bukan hanya tentang olahraga dan permainan, tetapi juga menjadi representasi bagi suatu wilayah. Tidak hanya skala nasional, pada skala yang lebih kecil juga banyak suporter sepak bola yang militan. Bahkan rivalitas suporter masih terjadi di luar lapangan.

Sepak bola bisa menggerakan hati untuk melakukan sesuatu. Ikal rela berjalan 10 Km untuk menghemat biaya agar ia dapat membelikan jersey Real Madrid untuk ayahnya. Ia rela menghemat mati-matian agar jersey Real Madrid dengan tanda tangan Luis Figo dapat terbeli.

Membaca Sebelas Patriot menjadi salah satu cara yang asik untuk berkenalan dengan sepak bola. Gaya penulisannya sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Alur yang disajikan Andrea Hirata  begitu hidup, mengalir, seakan ia sedang menceritakan pengalamannya sendiri. Buku ini cukup ringan untuk dibaca siapapun, terlebih hanya setebal 114 halaman. Di samping itu, juga membahas suasana politik Indonesia saat era penjajahan Belanda. Betapa sepak bola dapat mengumpulkan massa, kadang dianggapnya hal tersebut menjadi sesuatu yang berbahaya.

Menang atau kalah, kata Adriana, cinta kepada sepak bola itu tidak akan hilang. Memang benar, cinta kepada sepak bola itu tulus. Buktinya, mau berapa kali MU kalah, pendukungnya akan tetap menerima dengan apa adanya.

Editor : Retno Puspito Sari

145 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *