Berita Kampus

Satuan Kredit Partisipasi, Syarat Baru Tutup Teori dan Kelulusan

Foto : Amellya Candra

Narasi : Khairul Raziq

Artinya, sekalipun mahasiswa sudah melaksanakan kewajiban ujian komprehensif dan skripsi, kalau belum memenuhi minimal SKP, mahasiswa tersebut belum dapat diluluskan.

Bacaekon.com-Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII), melalui Siti Nursyamsiah, Drs., M.M. atau kerap disapa Bu Inung, selaku Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni tengah menggelar sosialisasi pada Rabu, 30 Desember 2020. Sosialisasi tersebut dilakukan kepada perwakilan lembaga FBE UII mengenai penjelasan aturan Satuan Kredit Partisipasi (SKP) dan Aktivitas Kemahasiswaan. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Rektor UII Nomor 24 Tahun 2019. Mengutip dalam aturan, SKP adalah takaran penghargaan terhadap aktivitas non kurikuler yang diikuti oleh mahasiswa dalam upaya memenuhi capaian pembelajaran yang ditunjukkan dengan satuan yang merupakan jumlah kumulatif dari intensitas kegiatan tersebut. 

Di dalam (Peraturan Rektor) juga dijelaskan mengenai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang akan diterbitkan oleh setiap dekan yang berisi informasi tentang capaian pembelajaran dan kualifikasi dari lulusan pendidikan tinggi bergelar. Dalam hal ini, Siti Nursyamsiah menjelaskan SKP akan diakumulasikan dan dinyatakan dalam bentuk SKPI sebagai syarat kelulusan setiap mahasiswa. Lebih lanjut beliau juga memaparkan urgensi adanya hal ini, “agar teman-teman dapat lebih aktif menjalani perkuliahan dan harapannya nanti dapat menjadi bekal untuk ke depannya,” ujarnya. 

Pemberlakuan peraturan SKPI yang akan dilakukan dalam waktu dekat nantinya akan dimulai untuk angkatan 2018, 2019, dan seterusnya. Yang menjadi tolok ukur mulai diberlakukannya ke angkatan 2018 adalah perihal masalah jenjang waktu yang masih ada, sekitar kurang lebih dua tahun, “ya artinya masih punya waktu untuk mengumpulkan aktivitas-aktivitas yang termasuk dalam komponen SKPI,” jelasnya. Kendati demikian Inung mengkonfirmasi ulang perihal penentuan angkatan. Hal itu dinilai masih dalam diskusi dengan jajaran fakultas, “ditunggu saja infonya pertengahan Januari nanti,” tambahnya. 

Di satu sisi, peraturan ini sebenarnya dinilai sudah dapat terlaksana bagi angkatan 2016, “cuma selama ini karena aturan masih dalam proses,” aku Siti Nursyamsiah. Di sisi lain untuk angkatan 2016 dinyatakan tetap mendapatkan SKP namun hanya yang bersifat wajib. 

Komponen Aktivitas SKP dan SKPI

Aktivitas kemahasiswaan yang harus dipenuhi terbagi menjadi dua: Wajib dan Pilihan. Aktivitas Kemahasiswaan Wajib adalah aktivitas pembinaan keagamaan mahasiswa di lingkungan UII. Yaitu Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI), Pengembangan Diri Qurani (PDQ), Pelatihan Pengembangan Diri (PPD), dan Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD). Masing-masing aktivitas tersebut berjumlah 50 SKP untuk mahasiswa program sarjana dan 30 SKP untuk program diploma. 

Sementara itu, aktivitas kemahasiswaan pilihan adalah aktivitas mahasiswa yang wajib dipilih oleh mahasiswa sampai memenuhi bobot SKP tertentu. Untuk kategori Pilihan, pihak universitas mewajibkan untuk memenuhi 10 SKP. Sehingga total yang harus dipenuhi oleh mahasiswa adalah 60 SKP untuk program sarjana dan 40 SKP untuk program diploma. Dalam akumulasinya, terdapat perbedaan antara program sarjana dan diploma. Siti Nursyamsiah mengkonfirmasi, perbedaan itu ada karena memang durasi penyelenggaraan yang lebih pendek antara program diploma dan sarjana.

Pemenuhan aktivitas Pilihan sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Ayat 2 menekankan setidaknya terdiri atas 3 bentuk aktivitas yang berbeda. “Teman-teman mahasiswa bisa jadi khotib, mualim/musrifah, atau misal berpartisipasi sebagai pengurus organisasi intra kampus tingkat univ/fakultas,” jelas Siti Nursyamsiah mengenai bentuk aktivitas yang dapat diikuti. Bentuk aktivitas itu juga tidak terbatas pada apa yang disebutkan sebelumnya. Terdapat 38 bentuk aktivitas yang tertuang dalam aturan rektor tersebut. Masing-masing bentuk itu lalu memiliki output apa yang akan dicapai beserta bobot SKP yang dapat ditempuh oleh mahasiswa. 

Terlepas dari 38 bentuk di atas, Siti Nursyamsiah juga menerangkan bahwa dari pihak fakultas juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama baik secara personal maupun organisasi. Siti Nursyamsiah memberi gambaran bahwa kegiatan yang dapat dilakukan secara personal dapat berupa kegiatan-kegiatan kompetitif baik bersifat akademik dan non-akademik. Sementara itu untuk yang bersifat organisasi, beliau menekankan ada pada bentuk-bentuk yang linear dengan lingkup organisasi serta nilai-nilai yang ada pada Kemahasiswaan FBE UII sendiri. Faaza Fakhrunnas, S.E., M.Sc. yang turut hadir, menilai kemahasiswaan sudah sangat membuka tangan untuk berkolaborasi. Lebih jelas ia juga menerangkan, kerjasama dengan organisasi ini juga dinilai sebagai bentuk hubungan aktivisme yang dapat mendulang keuntungan dari kedua belah pihak; kemahasiswaan dan organisasi terkait.

Akan tetapi dari semua bentuk yang ditawarkan, hanya ada 8 bentuk pilihan kegiatan yang dapat dimasukkan ke dalam SKPI bagi program diploma dan sarjana:

  1. sertifikasi keahlian sesuai dengan bidang keilmuan;
  2. pengurus organisasi intra kampus;
  3. mengikuti pelatihan bahasa asing;
  4. mengikuti pelatihan keterampilan sesuai bidang keilmuan;
  5. melakukan publikasi ilmiah;
  6. mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM);
  7. melaksanakan hibah penelitian; dan
  8. mengikuti kompetisi bidang penalaran sesuai bidang keilmuan.

Menyoal publikasi ilmiah, Faaza Fakhrunnas mengkonfirmasi. Menurutnya, publikasi ilmiah yang dimaksud adalah publikasi yang bersifat artikel ilmiah, contohnya jurnal dan bentuk tulisan opini. Opini di sini dinilainya bukan sekadar opini yang tanpa dasar, “harus didasarkan sumber referensi yang jelas dan diterbitkan oleh lembaga-lembaga kredibel,” tuturnya. 

Perihal Pengisian Data Aktivitas

Pada Bab IV Pasal 14 telah diatur mengenai mekanisme pengisian dan verifikasi data aktivitas. Dalam sosialisasi yang diadakan, dijelaskan pula bahwa pengisian aktivitas mahasiswa terdapat dalam dua bentuk: oleh pihak universitas dan mahasiswa secara individu. 

Pengisian yang dilakukan oleh universitas ialah aktivitas mahasiswa yang bersifat Wajib, “jadi, nanti yang Wajib itu sepertinya DPPAI yang akan mengisi sendiri,” tutur Siti Nursyamsiah. Sementara itu aktivitas Pilihan diisi secara mandiri oleh mahasiswa melalui Portal Gateway UII. Diwajibkan juga bukti-bukti pendukung sebagaimana tertera pada pasal 7, 8, dan 9 pada peraturan rektor. 

Setelah pengisian, nantinya Program Studi (Prodi) akan melakukan proses verifikasi Aktivitas Kemahasiswaan Pilihan. Dalam prosesnya, Prodi akan menyediakan verifikator melalui Keputusan Dekan. Setelah verifikasi dilakukan, maka ditemukan hasil. Hasil tersebut dapat berupa disetujui, disetujui dengan perbaikan, atau ditolak. Syarat pemenuhan SKP ini juga digunakan sebagai persyaratan mahasiswa dapat mengajukan tutup teori. Artinya, sekalipun mahasiswa sudah melaksanakan kewajiban ujian komprehensif dan skripsi, kalau belum memenuhi minimal SKP, mahasiswa tersebut belum dapat diluluskan. 

*Artikel ini telah diedit pada 31/12/2020 pukul 19.32 mengenai penyebutan nama narasumber

Reporter : Ikrar Aruming Wilujeng dan Khairul Raziq

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

905 Total Views 6 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *