Berita Kampus

Rocky Gerung : Kampus adalah Tempat Menggelengkan Kepala

Foto : Azizah

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Ijazah itu hanya tanda anda pernah sekolah, bukan tanda anda pernah berpikir, -Rocky Gerung

Intelektualitas seorang mahasiswa perlu terus ditingkatkan, terlebih pada mahasiswa baru yang memasuki gerbang perkuliahan. Pada tanggal 15 Agustus 2019 tempo hari, Pesona Taaruf Universitas Islam Indonesia 2019 (Pesta UII 2019) menggelar Stadium General dengan pembicara seorang pengamat politik serta filsuf kondang, Rocky Gerung. Dalam kesempatan itu ia mengangkat beberapa topik pembahasan dalam upaya menumbuhkan sikap berpikir kritis kepada seluruh mahasiswa baru. Para peserta menyambut kedatangan Rocky Gerung dengan antusias, dan mengikuti jalannya Stadium General dengan fokus.

Menurut Rocky Gerung, plagiarisme adalah dosa terbesar seorang akademisi. Orisinalitas adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar. Dewasa ini ada banyak kasus mengenai tindakan plagiasi. Bisa demikian karena dunia telah mempermudah plagiasi melalui internet. Mengambil karya orang lain merupakan tindakan yang tidak bisa ditoleransi, tindakan ini mencerminkan sebuah kedangkalan berpikir, sekaligus jauh dari cerminan seorang cendekiawan muslim, sehingga dikatakan tidak progresif dan tidak profetik.  Plagiarisme merupakan korupsi intelektual, dimana sebuah hasil tidak melalui proses berpikir di dalam otak, dengan demikian juga dikatakan sebagai tindakan membohongi diri sendiri. “Ini adalah kedunguan,” Rocky Gerung mengakhiri pembahasan tentang plagiarisme.

Belajar di Universitas tidak bisa disamakan dengan ketika belajar agama. Menurut Rocky Gerung, Universitas adalah tempat mahasiswa untuk menggeleng kepala, dalam artian mendebat pemikiran terdahulu, bukan mengangguk setuju dan membenarkan seluruh yang dikatakan dosen. Menjadi mahasiswa artinya memilih jalan untuk  mendebat dan ingin membatalkan teori. Mengapa demikian? “Ilmu itu harus dimungkinkan untuk dinyatakan keliru, karena sudah ada yang menggeleng terhadap uraian dosen, itu pentingnya argumentasi,” Ucap Rocky meyakinkan.

Stadium General tempo hari memboyong sentimen ke ruang publik. Belajar adalah menggelengkan kepala, bukan manggut-manggut yang tidak mempersoalkan masalah akademis. Kebenaran akademis adalah kondisi falibilis, artinya semua pengetahuan memiliki kemungkinan untuk bisa salah. “Artinya dalam keadaan salah, artinya dimungkinkan diperiksa argumentasinya. Skripsi itu kan diuji, disertasi itu kan diuji karena ada kondisi falibilis,” ucap Rocky. Tidak hanya itu, adanya dialektikan juga merupakan output dari adanya falibilis, sehingga debat argumentasi dengan siapapun adalah sah-sah saja.

Berbicara tentang pendapat dan argumentasi, tentu tidak bisa dipisahkan dengan dialektika. Di dalam universitas terdapat banyak forum dialektika, di dalam kelas pun juga merupakan sarana yang bagus. Untuk memiliki keruncingan berpikir, otak harus dilatih untuk menghadapi pendapat orang lain yang lebih tajam. Rocky menganjurkan agar mahasiswa mencari lawan debat yang lebih pintar, minimal setara. Takut kalah debat bukanlah alasan untuk membahas sesuatu yang recehan. Mahasiswa harus sedini mungkin mengasah otak untuk berbicara berdasarkan data dan analogi yang relevan.

Dengan menumbuhkan kemampuan berpikir tajam dan kemampuan berdialektika, upaya tersebut mengerucut pada perbaikan infrastruktur akal. Menurut Rocky, infrastruktur akal, utamanya pada mahasiswa, perlu ditumbuhkan untuk memajukan negeri tercinta ini. Infrastruktur akal juga merupakan ujian argumentasi, dimana dalil teori harus mendahului emosi. Tidak seperti yang biasa terlihat di televisi, “orang-orang partai emosinya mendahului otaknya, jadi mulutnya menjadi lebih lebar daripada otaknya,” ucap Rocky yang membuat Gor UII riuh dengan tepuk tangan.

Namun sikap membenarkan teori dosen yang salah dianggap kurang sopan di negeri ini. Menurut Rocky hal itu bisa terjadi karena feodalisme di universitas. “Karena keangkuhan terhadap lebih dulu masuk, lebih dulu belajar, lebih dulu mengerti, lebih dulu pintar. Feodalisme hanya akan berjalan apabila saudara berniat untuk mempertanyakan pemahaman dosen dengan argumen,” jelas Rocky. Meski begitu, keberanian untuk mengungkapkan pendapat tetap dibutuhkan untuk menyela teori dosen, tentu dengan kesopanan dalam beragumen.

Mental mahasiswa yang berani mendebat dosen dapat memunculkan kualitas bangsa menurut Rocky. Keberanian itu akan mencetak mahasiswa yang radikal dalam berpikir. Radikal berarti mempertanyakan sesuatu sampai ke akar-akarnya, sampai ke radiksnya. Namun yang sekarang berkembang, pemerintah menilai radikalisme itu sebagai sesuatu yang negatif dengan merilis data yang menjabarkan universitas-universitas yang diduga terpapar radikalisme. Menurut Rocky kampus memang harus radikal, supaya terus mempertanyakan job out. “Kampus bukan gereja, bukan masjid, bukan vihara, dimana kitab suci tidak boleh dipertanyakan. Kampus adalah buku terbuka yang harus dipertanyakan isinya oleh setiap civitas akademika,” Ucap Rocky mengundang tepuk tangan peserta.

Selain kualitas otak yang diperhitungkan, kemandirian serta kecerdasan dalam pengelolaan hidup perlu juga dimiliki oleh seorang mahasiswa. Menjadi mahasiswa merupakan inisiasi yang mengawali hidup remaja yang bergantung pada orangtua menjadi tidak bergantung pada siapapun. “Datang ke kampus artinya lepas dari tuntutan orang lain. Karena itu, menjadi mahasiswa, menjadi merdeka,” ucap Rocky. Ketika seseorang merdeka dibebani oleh tanggung jawab yang besar atas diri sendiri, itu bertanda keadaan juang yang cengeng pergi ke keadaan yang kuat dan matang. “Nah, penerapan itu dimulai hari ini. Itu yang dinamakan proses belajar,” ucap Rocky.

Rocky Gerung menutup pembicaraan dengan menekankan mahasiswa untuk terus berpikir. “Niat anda belajar di UII menunjukan niat anda untuk mengunggah negeri ini. Maka jadilah mahasiswa yang progresif, maju artinya ingin merubah. Bukan ijazah yang menentukan kapasitas anda. Karena itu pastikanlah sejak semester awal anda akan ikut kuliah dengan motif berpikir, bukan motif ijazah,” ucap Rocky Gerung menutup Stadium General.

Reporter : Azizah, Ikrar.

Editor : Azizah

226 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *