Opini

Ritual Tahunan Panitia PESTA UII

Foto : Amellya 

Oleh : Khairul Raziq

Bacaekon.com-Sudah hampir genap enam bulan Universitas Islam Indonesia (UII) menjalani perkuliahan jarak jauh. Sepanjang rentang waktu itu, belum ada tren penurunan kasus Coronavirus Disease (Covid-19) di Indonesia. Malah yang ada makin meningkat. Oleh sebab itu, sepertinya beberapa kegiatan yang ada di UII masih dilaksanakan secara daring. Pesona Ta’aruf UII (PESTA UII), misalnya. PESTA UII merupakan gerbang pertama masuknya para mahasiswa/i baru ke kampus perjuangan. Harapannya dengan berbagai rangkaian kegiatan yang disusun oleh panitia dapat menjadi bekal bagi mereka untuk menjalani perkuliahan. 

Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi panitia PESTA UII dari tahun ke tahun untuk menyusun peraturan peliputan bagi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tingkat universitas dan fakultas.  Mengingat PESTA UII 2020 dilakukan secara daring, tentu pihak yang berkepentingan sebagai Pers Mahasiswa (Persma) akan bertanya, bagaimana sih teknis peliputannya? Nah, sampai di sini saya secara pribadi ingin mengapresiasi teman-teman panitia yang secara sukarela sudah menyusun teknisnya. Hal itu tertuang di Ketentuan Forum Pers Pesona Ta’aruf 2020 yang telah melewati uji verifikasi oleh pihak terkait. Dalam hal ini adalah Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM). 

Sebelum proses peliputan berlangsung, alangkah bagusnya diadakan terlebih dahulu sosialisasi dari pihak panitia ke rekan Persma se-UII. Mengingat, kita kan ada di kondisi yang tidak biasa-biasa saja. Mana tahu pada ketentuan tersebut ada batasan-batasan yang tidak biasa-biasa saja. Akhirnya sosialisasi pun diadakan pada tanggal 10 September 2020. 

Sosialisasi tersebut dibuka dengan permohonan maaf dari Ketua Steering Committee (SC), Koordinator Komisi B, Ketua Organizing Committee (OC), dan Koordinator Wali Jama’ah PESTA UII 2020. Keterlambatan memasuki forum menyebabkan saya sempat berpikir saya salah room meeting Zoom. Tak kira ini forum halalbihalal. Iya, halalbihalal. Hampir sebagian besar ketentuan yang dipertanyakan dan dilemparkan itu diawali dengan permohonan maaf dan diakhiri dengan “ini sudah diverifikasi, sehingga tidak dapat diubah lagi.” Walaupun pada akhirnya ada beberapa poin yang direvisi. Menarik.

Menyoal Ketentuan

Memberikan ketentuan untuk Persma bermain di area PESTA UII sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin bagi panitia PESTA UII dari tahun ke tahun. Sepengetahuan saya yang masih awam, ketentuan tersebut cenderung sama setiap tahunnya, hanya berbeda diksi aja. Bentuknya pun menjadi begitu beragam menyesuaikan kondisinya. Semisal untuk kuantitas reporter. Reporter tahun lalu dibatasi lima orang. Tahun ini, dikarenakan dilaksanakan secara daring dibatasi cukup dua orang. Mungkin agar tidak memenuhi kapasitas Zoom dan mengakibatkan koneksi terganggu. Bisa saja begitu.

Dalam ketentuan itu juga disebutkan “Setiap Pers hanya diperbolehkan mempublikasikan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk”. Jika digali lebih dalam, ini mirip-mirip seperti Kode Etik Jurnalistik Pasal 1, tetapi ada bagian yang sepertinya di-cut oleh panitia. Ketentuan ini menurut saya rasa-rasanya tidak perlu dituliskan lagi. Hal tersebut sepertinya mubazir jika dijadikan ketentuan, sebab hal itu sudah tertuang di dalam Kode Etik Jurnalistik yang sudah pasti menjadi pegangan rekan-rekan Persma. Lantas, untuk apa sebenarnya panitia mencantumkan hal tersebut? Apakah hanya untuk sekadar menyegarkan ingatan rekan-rekan Persma? Atau ada ketakutan sendiri? Wallahu A’lam.

Dalam pelaksanaan rangkaian acara ospek ini, tentu panitia mengharapkan acara berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Oleh sebab itulah, secara sukarela panitia PESTA UII dari generasi ke generasi menyusun peraturan dan ketentuan peliputan pers. Ketentuan yang dibuat pun sangat detail, saking detailnya malah terkesan kaku dan sok ngatur. Ngaturnya pun menurut saya kebablasan dan saya rasa tidak perlu. Malah sampai masuk ke dalam ranah keredaksian seperti berita apa yang pantas diterbitkan. Tapi itu tersirat, sih.

Kode Etik Jurnalistik adalah sebuah pedoman untuk pers dalam memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar. Di dalam situ telah tertuang secara detail aturan bermain pers dalam menggali informasi, memberitakan, dan memberikan ruang jawab kepada yang diberitakan apabila ada yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Dua puluh satu tahun lalu, Eyang Habibie memberikan legasi ke pers. Dicetuskannya UU. No. 40 Tahun 1999, memberikan ruang yang selebar-lebarnya terhadap pers dan menjamin kebebasan media untuk dapat memproduksi hingga menyiarkan berita kepada masyarakat. Di dalam itu juga sudah tertuang fungsi serta aturan dasar pers untuk bermain.

Berangkat dari hal di atas, menurut saya aturan itu sudah terlampau kuat jika dibandingkan dengan ketentuan yang dibuat panitia. Saya rasa setiap Persma wajib untuk diberi aturan dan mekanisme peliputan yang pas, apalagi dalam kondisi daring ini. Namun, hal tersebut bisa jadi percuma jika ketentuan itu sudah tertuang pada Kode Etik Jurnalistik itu sendiri.  Toh, rekan panitia juga saya pikir masih banyak yang harus dipikirkan; ketimbang membuat ketentuan. Emaneman.

Menurut saya yang harus panitia pikirkan itu adalah pemberian informasi yang akurat dan terpercaya kepada Persma. Bukan mau pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana cara agar Persma tidak memberitakan hal-hal negatif. Toh yang negatif itu tidak selalu buruk menurut saya, asalkan memang bergantung pada realitas yang ada di lapangan. Kalau itu buruk, ya buruk. Kalau baik, ya baik. Khawatir banget!

Saya sendiri menilai Persma itu seperti pers pada umumnya, hanya saja berbeda ranah tergantung dengan orientasi masing-masing LPM. Berbicara mengenai perspektif secara personal terhadap pers, pers sendiri bagi saya adalah sebuah wadah untuk menerima informasi positif atau negatif yang bertebaran di khalayak umum. Lalu, kembali lagi ke masing-masing personal mau menanggapi hal tersebut seperti apa.

Berangkat dari situ, tentu perlahan akan terbangun kepercayaan publik terhadap pers atau Persma. Akan tetapi, semua itu tidak mudah dalam implementasinya. Ada banyak variabel yang menurut saya harus diperhatikan dalam penggalian informasi. Singkatnya, informasi tersebut harus berdasarkan pada realita lapangan yang sudah diobservasi dan diverifikasi.

Ketika saya memposisikan diri sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, terkadang saya ingin mencari tahu isu-isu hangat seputar kampus. Menurut saya, Persma lah wadah yang tepat sebagai sumber untuk menerima informasi tersebut. Akan tetapi ketika wadah yang saya yakini terkesan sulit dalam mendapatkan informasi oleh ketentuan yang seperti membatasi, malang sekali nasib saya beserta rekan-rekan mahasiswa yang sefrekuensi dengan saya.

Secuil Rekomendasi

Perihal kasus ketentuan yang telah diverifikasi terlebih dahulu, menurut saya itu kurang etis. Alangkah baiknya jika dalam pembuatannya ada perwakilan dari setiap Persma yang diikutsertakan. Nanti setelah rembuk bersama barulah disosialisasikan kepada seluruh anggota pers. Namun ya, mungkin karena tidak mau merepotkan Persma, hal tersebut tidak sempat terpikirkan panitia. Tidak ingin merepotkan Persma, atau tidak ingin merepotkan mereka (pembuat ketentuan –red) sendiri ya? Mana saya tahu.

Sebenarnya kalau mau dipikir lebih jauh, ketika hal tersebut dikomunikasikan lebih dahulu tentu tidak akan ada yang repot. Kesadaran dari kedua belah pihak saja, baik itu dari Persma atau jajaran kepanitiaan PESTA UII. Tentu dengan dikomunikasikan lebih dahulu, ketentuan yang dibuat tidak mubazir lagi atau percuma. Saya pikir segala sesuatu yang dilakukan dengan percuma adalah hal yang kurang baik bagi pembentukan framework masing-masing pihak.

Menyinggung tentang pokok ketentuan yang didesain, itu sah-sah saja selama itu tidak mubazir seperti yang saya utarakan di atas. Lagipula, permasalahannya ini sudah menjadi rutinitas panitia PESTA UII dari tahun ke tahun, dan masih berkutat di area yang sama. Membahas ketentuan yang telah diverifikasi lalu disosialisasikan itu menurut saya buang-buang waktu bagi kedua belah pihak. Bayangan terburuk saya malah hanya akan membuat gaduh suasana jika keadaan tersebut diulang secara terus-menerus. 

Lebih jauh dari itu, timbulnya kepercayaan yang semu akan turut ikut menjadi output dari kegiatan yang berulang itu. Jikalau jalan keluarnya ada pada titik revisi aturan pada sesi sosialisasi, itu menurut saya masih kurang ideal. Loh? Lah iya, kurang idealnya ketika hal yang direvisi tidak ditransformasi secara gamblang. Tidak cukup sampai di situ, hal tersebut juga cenderung mempengaruhi kinerja kepanitiaan yang akan datang, walaupun tidak secara signifikan. 

Pada intinya perihal komunikasi menjadi variabel yang begitu penting di sini. Pembentukan komunikasi yang baik akan melahirkan proses dan hasil seperti yang diharapkan. Akan tetapi, kalau pada perihal komunikasi saja telah gagal dibangun, maka proses dan hasil yang akan dituai pun akan beragam hasilnya. Pribadi berpesan ke diri sendiri dan khalayak umum, mari budayakan komunikasi yang baik agar terciptanya hasil pemikiran yang diinginkan!

Editor : Ikrar

168 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *