Opini

Remedial Pengurangan Sampah Plastik

Oleh : Salwa Nida’ul Mufidah

Foto : Hikmah Nurul Qamar

Bacaekon.com-Setiap harinya manusia pastilah menghasilkan berbagai macam sampah, salah satunya adalah plastik. Sampah plastik, sudah bukan lagi menjadi isu belaka, melainkan menjadi permasalahan mengemuka di Indonesia. Bagaimana tidak? Jika kita mau membuka mata terhadap kasus sampah plastik, Indonesia berada di urutan kedua sebagai negara openyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah China.

Dikutip dari Bisnis.com Indonesia mengeluarkan 64 juta ton sampah per tahun, atau sama dengan 175.000 ton per hari. Dengan asumsi sampah yang dihasilkan per orang adalah 0,7 Kg per hari. Untuk daerah pesisir, Indonesia memiliki populasi sebesar 187,2 juta yang setiap tahunya menghasilkan sekitar 3,22 ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Di samping itu dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh para peneliti dari Universitas Georgia, dipimpin oleh Jenna Jambeck, diperkirakan sebanyak 4,8-12,7 juta ton sampah plastik dari seluruh dunia masuk ke lautan lepas.

Dahulu pada tahun 1959 kantong plastik dibuat oleh Sten Gustaf Tuhlin untuk mengganti penggunaan kantong kertas. Tujuannya adalah untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan. Sebab dalam pembuatan kantong kertas membutuhkan bahan baku yang berasal dari pohon. Jika penggunaan kantong kertas dilakukan secara terus-menerus maka akan banyak pohon yang ditebang, apalagi kantong kertas hanya bisa digunakan untuk beberapa kali pemakaian. 

Tetapi ternyata setelah beberapa puluh tahun penggunaan kantong plastik, kini hal tersebut malah menjadi bencana besar di dunia. Hal ini didasarkan pada banyaknya sampah plastik yang langsung dibuang tanpa melewati proses pengelolaan dengan baik. Terlebih pada negara perairan seperti Indonesia yang masih memiliki pengelolaan sampah yang cukup buruk. Jarak hulu sungai yang relatif pendek dengan muara, akan memudahkan sampah plastik yang masuk ke sungai terbawa menuju laut. Khususnya di pulau Jawa, Bali, dan pulau-pulau kecil lainya.

Pada tahun 2013 Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai paling tercemar di dunia oleh Blacksmith Institute, sebuah nirlaba bidang lingkungan di New York. Sungai yang memiliki panjang 300 kilometer yang diawali di Gunung Wayang (tenggara kota Bandung) ini melewati pertanian, pemukiman, perikanan, kawasan industri, dan berakhir di Muara Bendera. Aliran ini akan terus menuju ke Laut Utara Jawa. Maka dari itu, semakin banyak sampah yang dibuang di Sungai Citarum, berbanding lurus dengan kerusakan ekosistem laut. Hewan-hewan laut akan mengira bahwa plastik tersebut adalah makananya. Kita sudah tidak asing mendengar berita bahwa ada beberapa hewan mati akibat sampah plastik. Sebagai contohnya pada tahun 2018, ada berita seekor paus sperma ditemukan mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus ini menelan hampir 6 Kg plastik dan sandal jepit. Hal ini telah diselidiki oleh World Wide Fund for Nature (WWF).

Penanganan sampah di Indonesia

Pemerintah Indonesia menargetkan bahwa pada tahun 2025 jumlah sampah (terutama sampah plastik) akan berkurang. Hal ini diperkuat dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang pada salah satu ayatnya berisi  “Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga adalah Sampah Rumah Tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.” Sampah di darat harus lebih utama ditangani untuk mencegah sampah berakhir di lautan. 

Kemudian untuk penanganan sampah di laut, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 tahun 2018. Arah kebijakan tersebut adalah pengurangan dan penanganan sampah dengan target 70% sampah laut pada 2025. Selain itu, pemerintah juga seharusnya memperhatikan industri makanan dan minuman. Karena 6,5% konsumsi plastik berasal dari kemasan. Sebanyak 60% dari keseluruhan permintaan plastik kemasan tersebut dibuat oleh industri makanan dan minuman.

Dikutip dari Mongabay.co.id, perusahaan-perusahaan bisa mengurangi jumlah plastik sekali pakai yang mereka produksi dengan mencari cara alternatif dalam mengemas dan mengirimkan produk mereka. Misalnya dengan menggunakan kemasan yang bisa diisi ulang. Memperbanyak industri daur ulang juga bisa dijadikan solusi untuk permasalahan plastik di Indonesia.

Dengan kurun waktu kurang lebih dari 5 tahun, mungkinkah pemerintah sanggup memenuhi target tersebut? Melihat kondisi dan penanganan sampah yang relatif lambat, waktu tersebut mungkin tidaklah cukup untuk menangani sampah plastik, khususnya di laut. Penanganan sampah di darat khususnya rumah tangga juga belum terlaksana dengan baik. Masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat untuk sadar bagaimana pentingnya memilah sampah organik dan anorganik agar bisa di daur ulang. Selain itu pemerintah juga perlu mendorong industri makanan dan minuman sebagai pemasok plastik terbesar untuk mencari alternatif kemasan yang ramah lingkungan dan mendaur ulang kemasan. 

Sebagai konsumen, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah plastik. Pertama, memilah sampah organik dan anorganik. Karena dengan hal ini kita bisa memudahkan pihak yang bertugas untuk mendaur ulang sampah. Mereka tidak perlu repot-repot untuk memilah kembali mana sampah yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak. Kedua, membawa tas belanjaan sendiri ketika berbelanja. Penggunaan kantong plastik sekali pakai jika tidak didaur ulang maka akan mencemari lingkungan. Dengan membawa tas belanjaan sendiri kita bisa meminimalisir penggunaan kantong plastik sekali pakai. Lalu, yang ketiga membatasi pemakaian sedotan plastik. Sedotan plastik memang sudah menjadi kebutuhan yang lumrah, tetapi benda ini menjadi salah satu sampah plastik yang sulit untuk didaur ulang. Jika memang harus menggunakan sedotan, kita bisa menggantinya dengan sedotan stainless steel yang bisa digunakan berulang-ulang.

Penanganan sampah plastik membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan lebih bersih, sehat, dan bebas dari sampah plastik. Jadi, bagaimana penanganan sampah yang ada di lingkunganmu?

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

388 Total Views 13 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *