Berita Kampus

Rasa dan Karsa dalam Urban fotografi

Foto : Mohammad Abinaya H

Narasi : Adi Rizky Ramadhan*

Bacaekon.com-Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekonomika FBE UII baru saja melaksanakan acara Main Kamera (MAKAR). Acara ini berlangsung sepanjang 15 Oktober hingga 6 November. Rangkaian acara tersebut dilakukan secara daring menggunakan platform Zoom dengan mengusung tema “Art and Photojournalism”. Acara MAKAR ini terdiri dari dua acara yaitu, lomba fotografi dan webinar.

Acara diawali dengan pendaftaran dan pengumpulan karya fotografi pada 15 Oktober hingga 4 November. Pada lomba ini mengangkat tema “Urban Photography”. Lomba tersebut diikuti oleh umum dan pemenang diumumkan di akhir sesi webinar. Rangkaian acara MAKAR ditutup dengan webinar dengan tema yang sama (6/11). Pembicara dalam webinar ini adalah Arbain Rambey, jurnalis fotografi.

Urban fotografi dikenal sebagai konsep yang mempresentasikan visual dan pemandangan wilayah urban  yang menggabungkan genre fotografi arsitektur, dokumenter, portrait, dan juga fine-art. ”Urban sendiri itu ialah hunian atau rural, jadi urban fotografi itu foto yang berpenghuni dengan segala dinamikanya,” ucap Arbain.

Menurut Arbain, beberapa sisi dalam urban fotografi membutuhkan akurasi tertentu agar tidak terjadi distorsi. Rasa dari foto adalah emosi yang dibangkitkan dari ruang cakup, pemotretan, warna, dan adegan. Hal ini dapat dicapai jika konsisten serta memanfaatkan teknologi dan alat yang memadai. 

Arbain menuturkan rekaman foto sebuah pojok kota merupakan sebuah rekaman sejarah. Dengan terjadinya globalisasi dan pembangunan, foto yang diambil beberapa tahun yang lalu cukup untuk menceritakan kejadian pada masa itu. Arbain juga menyatakan dalam etika fotografi, lingkup ruang publik akan tetap menjadi milik publik apabila objek yang ditangkap menjadi isu atau kontroversi. Dan yang tak kalah penting foto sendiri objek yang ditangkap pun bisa menjadi simbol atau peringatan akan peristiwa bersejarah.

Arbain sendiri menjelaskan bahwa ada 3 cara agar urban fotografi sendiri jadi menarik yang pertama adalah kombinasikan unsur lingkungan untuk memperkuat info dalam foto. Kedua adalah waktu yang tepat atau menunggu moment. Kemudian yang ketiga adalah mencari angle terbaik dalam memotret objek. Karena suatu objek dapat diambil dari beberapa angle diperlukan tujuan fotografer tersebut mengenai tujuannya. “Kalau anda mau memotret, anda harus tau tujuannya apa dulu. Mau ngomongin apa, entah warnanya putih, bentuknya unik, atau karena posisinya di tengah kota. Itu mempengaruhi angle anda memotret,” tutur Arbain.

Arbain menyatakan urban photography sekarang banyak didongkrak oleh pemotretan melalui drone. “Karena drone itu bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh manusia. Terutama pohon rimbun itu membuat kita memotret dari bawah itu susah, ketutupan,” ujar Arbain. Selain itu, Arbain juga menceritakan pengalamannya memotret menggunakan drone di daerah UI Depok. Dalam foto tersebut baru disadari bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara lingkungan UI yang masih hijau dan lingkungan sekitarnya yang sudah dipenuhi bangunan. “Foto ini hanya bisa didapat menggunakan drone, dari bawah tidak akan tergambar realita seperti ini,” ungkap Arbain.

Reporter: Adi Rizky Ramadhan

Editor: Retno Puspito S

*Penulis merupakan Magang LPM Ekonomika

409 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *