RAHASIA HIDUP

RAHASIA HIDUP

(Sumber foto: goodreads.com)

Oleh: Immellita Budiarti

Judul buku          : Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Pengarang          : Tere Liye

Penerbit              : Republika

Tahun terbit       : 2009

Tebal buku          : 428 halaman

ISBN                      : 978-979-2202-46-9

Bacaekon.com-Rekomendasi. Rehan Raujana alias Ray adalah tokoh paling beruntung dalam novel ini. Di usianya yang sekitar 60 tahunan, Tuhan memberikan kesempatan hebat berupa mampu kembali ke masa lalunya sekaligus menjawab lima pertanyaan tentang rahasia hidup yang dia tanyakan sepanjang hidupnya. Lima pertanyaannya adalah mengapa ia tinggal di panti asuhan menyebalkan itu? Apakah hidup ini adil? Kenapa langit tega mengambil istri dan bayinya? Mengapa hidup ini terasa hampa dan kosong padahal kita memiliki kekayaan yang kita inginkan? Mengapa sakit ini berkepanjangan dan mengungkung?

Cerita Ray dimulai di sebuah panti asuhan dengan pemiliknya yang menyebalkan. Pemilik panti asuhan yang terobsesi untuk bisa pergi haji, sehingga berbuat apapun agar bisa berangkat haji, termasuk tega mengambil dana panti asuhan yang seharusnya menjadi hak anak-anak panti tersebut. Ray tak pernah tinggal diam, dia selalu berulah walaupun berkali-kali pemilik panti menghukumnya. Hingga suatu hari dia pergi membawa uang panti dan hidup sebagai anak jalanan. Ia pun menjadi bandar judi untuk memenuhi kehidupannya. Ray selalu beruntung. Dia menang besar untuk judi pertamanya, kemudian kalah karena lawannya melakukan kecurangan dan berhasil menang di permainan lainnya. Lawannya geram dan tak terima Ray menang banyak, lalu menyuruh anak buahnya untuk menghabisinya dan mengambil uangnya kembali. Ray beruntung. Luka tusukan di badannya membawanya pergi jauh dari kota itu karena Ray harus menjalani operasinya di rumah sakit ibukota.

Setelah operasinya berhasil, ia dibawa ke sebuah rumah singgah. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki kelurga. Ia bebas belajar, bermain, dan bekerja. Keadaan ini jauh berbeda dengan panti asuhan menyebalkan itu. Setelah tiga tahun, ia akhirnya memilih pergi meninggalkan rumah singgah karena terlibat perkelahian hebat yang bertolak belakang dengan ajaran di rumah singgah yang melarang adanya perkelahian di antara anggota ruma singgah. Ray menjadi pengamen jalanan lalu bertemu dengan Plee yang mengajaknya untuk terlibat dalam pencurian berlian yang hebat di lantai 40 sebuah gedung. Aksi hebat itu berhasil namun membuat Plee tertangkap dan harus dieksekusi mati.

Ray kembali ke kota asalnya untuk melupakan kejadian eksekusi mati sahabatnya itu. Ia bekerja sebagai kuli bangunan, lalu lambat laun dia diangkat menjadi mandor karena kerjanya yang bagus hingga akhirnya ia diberi jabatan tinggi yang mengubah hidupnya. Ia pun menikahi gadis yang ditemuinya dalam kereta ketika perjalanan kembali ke kota asalnya. Hidupnya sangat bahagia. Namun tak lama, istrinya keguguran. Beberapa tahun kemudian Tuhan tidak hanya mengambil anaknya untuk kedua kalinya, namun juga mengambil istrinya. Setelah itu, ia pindah ke kota dan bekerja keras menjadi pebisnis imperium yang menggurita untuk melupakan sedihnya. Tak ada yang mengalahkan kehebatannya di bidang itu. Hingga suatu hari ia jatuh sakit berkepanjangan selama enam tahun. Di ujung sakitnya ia akhirnya menemukan jawaban setiap pertanyaanya yang menghantui sepanjang hidupnya.

Dalam novel ini, Tere Liye benar-benar memberikan gambaran sederhana sebuah kehidupan. Tentang arti kesederhaan, keikhlasan, kerja keras, tanggung jawab juga makna kehilangan sekaligus memberi jawaban kepada kebanyakan orang tentang apakah hidup ini adil? Melalui novel ini, pertanyannya itu mampu dijawab dengan cerita sederhana di dalamnya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita baik maupun buruk adalah sangat adil.

Meskipun alur yang digunakan membingungkan bila tidak dicermati karena menggunakan alur maju-mundur (flashback). Namun secara umum, novel sarat makna ini layak dibaca untuk kalangan remaja, dewasa maupun orang tua.

1026 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *