Opini

Quarter life Crisis Penghambat Masa Depanmu

Illustrasi: Naufal Mahardika

Narasi: Irhamsyah Inta Arega*

Bacaekon – Menteri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan Indonesia diperkirakan akan menghadapi bonus demografi  pada tahun 2030. Pada tahun tersebut jumlah penduduk usia produktif di Indonesia lebih tinggi dibandingkan usia non-produktif. Hal ini menjadi momentum penduduk usia produktif indonesia untuk menyiapkan diri menghadapi bonus demografi. Bonus demografi ini membuka peluang untuk penduduk usia produktif untuk mendapatkan pekerjaan dan identitas diri sehingga diharapkan menjadi manusia yang produktif kedepannya. 

Saat ini, penduduk usia produktif di Indonesia cenderung mengalami quarter life crisis dimana terjadinya krisis emosional dan tidak percaya diri akan masa depan dan kualitas hidup kedepannya. Sangat disayangkan dengan keuntungan bonus demografi tersebut tidak diiringi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang maju.

Fase quarter life crisis biasanya ditandai dengan seseorang yang cenderung tidak memiliki kepercayaan diri, khawatir yang berlebihan, tidak memiliki arah, stress berlebihan dan mudah menyerah mengenai kehidupannya di masa mendatang. Hal ini mengakibatkan seseorang mengalami emotional control dan tindakan yang tidak terkendali. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang mendorong seseorang untuk terus menerus memikirkan hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan dan belum tentu terjadi. 

Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti percintaan, pekerjaan, pendidikan. Namun tidak disertai dengan manajemen kehidupan yang baik dan tidak memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Faktor internal seperti relasi yang  baik kepada teman, hubungan harmonis dengan keluarga, dan lingkungan sosial masyarakat quarter life crisis biasanya dalam istilah generasi milenial ini disebut overthinking/insecure. Pada fase ini akan membuat stigma kepada seseorang bahwa hal yang dilakukannya akan mengalami kegagalan. Sehingga munculnya pikiran yang buruk membuat seseorang tidak berani mencoba dan melangkah ke depan sehingga dalam waktu yang panjang membuat sikap tidak percaya diri akan kemampuan dan potensi yang seseorang miliki.   

Dilansir dari Gramedia Blog survei yang dilakukan oleh LinkedIn dalam menganalisis fenomena quarter life crisis menyebutkan bahwa 75% orang berusia 25-33 tahun mengalami quarter life crisis. Angka yang sangat besar 75% orang mengalami quarter life crisis ini menandakan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada sekarang mengalami ketidakstabilan mental dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk masa depan yang akan datang. Bagaimana suatu SDM atau negara bisa maju sedangkan 75% orang usia 25-33 tahun mengalami ketidakstabilan mental.

Kita sering menjumpai seseorang yang memiliki potensial dan bakat namun tidak berani menunjukkannya dan mengaplikasikannya di dalam kehidupannya. Hal itu disebabkan seseorang tersebut mengalami quarter life crisis, jika hal ini  dibiarkan saja maka akan membentuk pribadi yang tertutup dan lebih suka menyendiri. Hal ini sangat merugikan diri sendiri bahkan juga merugikan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia kedepannya.

Beberapa contoh seseorang mengalami quarter life crisis yang bisa kita temui di lingkungan masyarakat. Di lingkungan kampus, kita akan menemui problem-problem yang tidak terduga dan tidak sesuai rencana. Jika tidak memiliki kendali dan arah dalam mengatasi permasalahan tersebut mengakibatkan kekhawatiran yang berlebihan. Sehingga, memicu seseorang mengalami quarter life crisis. 

Dalam dunia pekerjaan, dimana kita mendapat tuntutan dan tekanan yang berarti, serta problem keuangan yang sering datang bersamaan. Hal ini semakin membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri untuk menghadapi problem yang begitu banyak dan akhirnya berpikir tidak akan mampu menghadapi masalah tersebut dan kedepannya akan memberikan efek traumatic yang menganggap bahwa kejadian seperti itu akan terulang kembali.

Perlu kita ketahui lebih lanjut bahwa quarter life crisis in bukan hal yang harus ditakutkan. Karena wajar di usia tersebut kita mengalami yang namanya kehilangan arah, problem yang banyak, dan ketidakstabilan mental. Hal ini pasti dilalui seseorang karena fase tersebut bisa dikatakan fase transisi menuju fase masa depan yang lebih baik. Dimana fase ini merupakan titik penentu bagi seseorang untuk melangkah kedepan. Hal yang ditakutkan yaitu ketika kita tidak bisa keluar dari zona quarter life tersebut. Sehingga kita terkurung dalam pemikiran dan kegelisahan suatu hal yang belum tentu terjadi.  Perlu tekad dan keyakinan bahwa apa yang terjadi sekarang akan menemukan titik terang yang lebih baik kedepannya.

Setiap orang melalui fase quarter life crisis dengan cara yang berbeda-beda. Salah satunya yaitu keinginan untuk berubah menjadi lebih baik atau tetap ingin terpuruk dan terjebak di dalam zona tersebut. Hal terpenting jika ingin melalui fase ini adalah komunikasi. Sebaiknya komunikasikan hal atau problem yang tidak bisa kalian selesaikan sendiri kepada keluarga, teman, pacar atau psikolog untuk membantu menghilangkan pikiran buruk dan problem yang ada agar mendapatkan solusi dan jalan keluar bagaimana kamu melangkah selanjutnya. 

Biasanya quarter life crisis ini mengganggu psikologis dan mental seseorang. Dikarenakan tidak mudah untuk menyembuhkan gangguan psikologis seseorang, masalah ini tidak bisa disepelekan karena bisa menyebabkan perubahan kepribadian dan gangguan mental. Perlu tekad dan keyakinan dari masing-masing individu bahwa apa yang terjadi sekarang akan menemukan titik terang yang lebih baik kedepannya. 

Editor: Nelva Qablina

*Penulis adalah magang LPM Ekonomika

206 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *