Berita Kampus

Problematika Kuliah Daring dan Keamanan Privasi Aplikasi Zoom

Foto: flexjobs.com

Oleh: Adisti Nugraheni

Pandemi Covid-19 membuat semua tatanan sosial masyarakat berubah, tak terkecuali sektor pendidikan. Perubahan metode belajar mengajar pun perlu disesuaikan kembali. Metode daring menjadi sebuah kewajiban. Berbagai aplikasi mulai dari Google Classroom, Zoom, Google Form, atau Google meet menjadi salah satu pilihan.

Di UII sendiri tidak ada kebijakan khusus terkait penggunaan aplikasi belajar online yang digunakan oleh dosen. Seperti yang diungkapkan oleh Arief Rahman, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Bisnis dan Ekonomika, pengumuman belajar dari rumah ini cukup mendadak sehingga semua pihak harus mencari sistem pembelajaran online yang tepat. Setelah berjalan beberapa saat aplikasi Zoom dinilai paling mudah dan lengkap fiturnya sehingga banyak dosen yang memilih menggunakan aplikasi Zoom. “Dosen-dosen banyak menggunakan Zoom itu, termasuk juga untuk kantor. Jadi kami rapat online juga sering pakai Zoom,” tambah Arief. Aditya Pandu, Dosen Akuntansi FBE UII, juga membenarkan bahwa penggunaan Zoom dinilai lebih nyaman dan baik. Sebelumnya Pandu mengaku mencoba menggunakan aplikasi pertemuan daring lainnya namun dinilai kurang baik. “Lalu UII membeli Zoom, waktu dicoba lebih baik menggunakan Zoom,” ungkapnya.

Sayangnya beberapa waktu terakhir Zoom diterpa isu tidak mengenakkan. Data-data pengguna aplikasi Zoom diberitakan dibagikan secara bebas bahkan banyak dijual melalui Darkweb. Hal ini pun telah ditanggapi oleh CEO Zoom, Eric Yuan, melalui CNN Indonesia, yang  mengakui bahwa aplikasi Zoom memiliki masalah privasi dan keamanan. Yuan mengungkapkan “kami bergerak terlalu cepat dan kami salah langkah.”

Berita ini tentu membuat mahasiswa maupun dosen pengguna Zoom lainnya gempar. Salah satunya Indri, mahasiswa manajemen angkatan 2017, ia aktif menggunakan Zoom baik untuk kelas dan kerja kelompok. Indri mengaku menggunakan aplikasi Zoom melalui handphone maupun laptop. Ia merasa sedikit ketakutan jika menggunakan Zoom melalui handphonenya. “Karena kan ya hp ini tuh namanya smartphone jadi tuh banyak yang kita gunakan untuk hal-hal penting tuh,” tuturnya.

Setelah berita ini beredar Arief mengungkapkan tidak ada kebijakan khusus yang dibuat dalam penggunaan Zoom di UII hingga saat ini. Dalam mengatasi masalah ini sendiri, Arief menyarankan penggunaan Single Sign On (SSO) yang dikeluarkan UII untuk kegiatan perkuliahan. “Sebenarnya untuk kegiatan perkuliahan relatif tidak ada yang rahasia ya disana ya ndak masalah. Yang jadi masalah itu kalo user dan pass yang digunakan Sign on di Zoom itu digunakan juga untuk misalnya internet banking dan sebagainya.”

Sementara itu, Pandu masih merasa kasus ini bukan merupakan ancaman. Meskipun begitu, dalam perkuliahan Pandu mengaku cukup fleksibel apabila mahasiswa merasa kurang nyaman dengan penggunaan Zoom. “Saya bukan mania untuk menggunakan Zoom atau Meet, jadi tergantung mahasiswa saja. Jika lebih nyaman menggunakan Zoom ya pakai Zoom, jika Meet ya menggunakan Meet.”

Masalah yang dialami Zoom tidak hanya mengenai kebocoran data. Merebak juga isu Zoombombing. Zoombombing merupakan serangan dari hacker berupa gangguan video dari luar konferensi untuk menyebarkan gambar, video tidak senonoh atau ujaran kebencian. Dalam mengatasi Zoombombing, Arief mengatakan dapat dicegah dengan menggunakan SSO agar identitas mahasiswa bisa dikenali. Namun hal ini juga masih memiliki resiko, karena jika dosen mengatur kelas terbuka tidak hanya untuk email dengan kredensial UII maka siapapun masih bisa masuk. “Sebenarnya anda pakai UII atau tidak asal dosennya sudah membagi linknya tautannya. Di situ anda bisa masuk dari mana saja.” Pandu tidak ambil pusing dengan hal-hal semacam ini. “Jika nanti ada yang masuk secara tiba tiba, itu juga dapat dikick,” tutur Pandu.

Dilansir dari CNN Indonesia, pihak Zoom sendiri dikabarkan telah melakukan perbaikan mengenai keamanan dan privasi, bekerjasama dengan mantan Kepala Keamanan Facebook, Alex Stamos, sebagai konsultan pada sektor keamanan dan privasi. “Zoom memiliki beberapa pekerjaan rumah penting yang mesti diperbaiki, misalnya desain kriptografi dan keamanan infrastrukturnya,” ungkap Stamos. Yuan juga menambahkan akan fokus mengatasi masalah privasi dan keamanan. Dan akan menghentikan pengembangan hingga 90 hari kerja.

kalo ada kebocoran keamanan dan pihak pengembang sendiri akan memperbaiki. Kalo sudah ada update ya diupdate,” tutur Arief.  Menurutnya pembaruan selalu dilakukan terus untuk memperbaiki sistem pada internal zoom. Sementara Pandu menambahkan untuk tetap tenang dan santai “Mahasiswa santai aja, jangan terlalu khawatir. Karena saat penggunaan Zoom tidak ada hal penting yang diomongkan. Jadi jika kita sudah tahu jika nantinya ada pelanggaran privacy maka jangan membicarakan rahasia via Zoom,” tutup Pandu.

Editor: Retno

407 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *