Berita Yogyakarta

PPKM Darurat, Jeruji Kaki Lima Malioboro

Foto : Dokumentasi pribadi masa aksi

Narasi : Wira Anantama Putra

Bacaekon.com-Masih menjadi dilema di tengah masyarakat Indonesia terutama pemerintah, apakah akan lebih memprioritaskan sektor kesehatan atau ekonomi dalam masa pandemi Covid-19. Beberapa kebijakan telah diambil untuk memerangi Covid-19. Salah satunya adalah Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi kesehatan.

Sektor ekonomi menjadi korban dari kebijakan PPKM Darurat tersebut. Lantas bagaimana dengan rakyat kecil yang tidak dapat mengais rezeki untuk mengobati perihnya asam lambung di hari itu?

Pemerintah pusat saat ini menerapkan kebijakan untuk menekan tingginya lonjakan positif Covid-19 yang dipicu oleh varian Delta. Dilansir dari CNN (25/07/2021), varian yang pertama kali terindikasi di Kent, Inggris, ini lebih cepat nenular sekitar 55% dari varian sebelumnya yang terindikasi pertama kali di China, pada akhir 2019. Hal tersebut disetujui oleh pakar kesehatan di seluruh dunia.

Ketika varian Delta menginfeksi di Indonesia, lonjakan kasus positif Covid-19 meningkat secara drastis. Pemerintah bereaksi dengan memberlakukan PPKM Darurat di pulau Jawa dan Bali. Kebijakan tersebut dilakukan selama dua minggu pada 3-20 Juli, dan telah resmi diperpanjang hingga 26 Juli dan kemudian berlanjut sampai 2 Agustus 2021.

PPKM Darurat ini diterapkan lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Berikut poin penting dalam prosedur PPKM Darurat :

  1. Restoran/warung makan hanya delivery dan tidak terima makan di tempat.
  2. Supermarket, pasar tradisional, swalayan, dan toko kelontong hanya buka hingga pukul 20.00 dan kapasitas maksimal 50%. Hal tersebut sangat memukul perekonomian masyarakat kecil.

Kebijakan PPKM Darurat lantas menuai protes dari berbagai kalangan masyarakat, utamanya para pekerja harian. Seperti di Yogyakarta, protes tersebut dilanggengkan dalam aksi pada 24 Juli lalu.

Orasi pun diserukan oleh mahasiswa yang diikuti pula oleh masyarakat umum. “Kemarin teman saya (kaki lima) jalan ke arah 0Km, saya tanyai ‘mau ke mana?’ katanya mau ikut demo di 0Km tolak PPKM,” ucap Suraji Gatot, salah satu tukang becak di Malioboro.

Salah satu lokasi aksi gabungan mahasiswa dan masyarakat umum tersebut dilakukan di titik 0 KM, Kota Yogyakarta. Aksi yang bertitik awal di Asrama Kamasan hingga titik 0 Km tersebut berjalan lancar, aman, dan damai tanpa adanya kerusuhan baik antara mahasiswa, masyarakat, dan petugas keamanan. Tidak lupa pula menjaga protokol kesehatan dengan ketat.

“Gerakan tersebut dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat umum dengan menggunakan konsep gerakan non identitas. Aksi berjalan dengan tanpa adanya protes dari masyarakat setempat,” ujar salah satu peserta aksi, Stephan (nama disamarkan).

Aksi tersebut merupakan ekspresi penolakan perpanjangan PPKM Darurat. “Tujuan utama dalam aksi tersebut adalah penolakan terhadap perpanjangan PPKM Darurat yang kurang efektif dan mengorbankan masyarakat kecil. Kami menuntut pemerintah untuk menjamin kehidupan seluruh lapisan masyarakat tanpa syarat selama PPKM Darurat berlangsung,” ujar Stephan.

Stephan dan masa aksi lainnya kecewa terhadap penerapan PPKM Darurat, sebab tidak dibarengi dengan kucuran bantuan yang masif. “Banyak masyarakat yang tidak terjamin hidupnya dan tidak mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah yang seharusnya mereka dapatkan, pemulihan ekonomi, dan distribusi vaksin yang belum masif,” Stephan menambahkan.

Tidak hanya membantu menyalurkan suara rakyat kecil dan buruh, para masa aksi juga membantu untuk melariskan dagangan kaki lima di sekitar Malioboro. Mengingat bahwasanya kebijakan PPKM Darurat ini sangatlah berdampak negatif terhadap perekonomian tingkat bawah di Indonesia.

Pedagang kaki lima di area Malioboro tidak memiliki pilihan lain selain berdiam. Selama PPKM Darurat akses Malioboro ditutup dan tidak ada pelancong yang datang. Tentu pedagang kaki lima dan buruh sangat terpukul oleh kebijakan tersebut.

“Pedagang kaki lima itu udah tutup dari tanggal 3 Juli, nggak ada pemasukan, seumpama kaki lima itu minta kelonggara kan wajar-wajar saja. Malioboro ini sepi sekali kalau semua akses ke Malioboro ditutup. Itu sangat berat bagi orang yang pemasukannya harian,” ucap Suraji Gatot.

Menurut pengakuan Suraji, sebelumnya sudah ada bantuan beberapa sembako bagi para kaki lima di Malioboro. Tetapi tidak banyak sehingga dirinya dan banyak pedagang lainnya tidak kebagian. “Kemarin-kemarin sih, kita dapat bantuan beras, tapi cuma beberapa orang saja,” tutur Suraji.

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwasanya PPKM yang berlangsung sekitar dua minggu ini melumpuhkan ekonomi rakyat kecil. Mereka terpaksa tidak berjualan demi mematuhi peraturan. Dampaknya, orang-orang dengan pemasukan harian tidak memiliki pemasukan untuk kehidupan sehari-hari. Hal tersebut masih menggunakan parameter wilayah yang sempit. Bagaimana dengan kondisi ekonomi kelas bawah secara makro?

Menurut Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) memperkirakan lebih dari 60% UMKM akan bangkrut selama PPKM Darurat. Pengurangan omset yang dialami UMKM memaksa mereka untuk mengurangi biaya dan jumlah produksi. Dampaknya adalah UMKM terpaksa mengurangi gaji bahkan merumahkan pekerja. Sebagai tambahan, pekerja tersebut adalah buruh yang mengandalkan pemasukan harian.

Para pedagang kaki lima dan buruh harian di Malioboro tidak ingin PPKM Darurat ini diperpanjang. PPKM Darurat cukup membuat masyarakat kecil menderita. Bantuan hanya diberikan dalam jumlah kecil dan tidak semua rakyat tersebut mendapatkannya.

*Penulis adalah magang LPM Ekonomika

Reporter : Wira Anantama P., Amellya Candra, dan Ikrar Aruming Wilujeng

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

177 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *