Ekspresi

Pertemuan Singkat dengan Mr. William

Ilustrasi: Azizah

Oleh: Andi Nur Azizah Hafsah

“My name is William,” begitu dia menyebutkan namanya saat menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri.

 “Oh ya, William, my name is Azizah,” jawabku menyambut jabat tangannya.

Kira-kira seperti itu awal dari perkenalan singkatku dengan Mr. William, di salah satu bank umum di Yogyakarta. Akhir bulan Maret 2018, aku cukup dibuat pusing dengan jadwal pesantrenisasi yang mewajibkan seluruh mahasiswa menginap di rusunawa untuk mengikuti pembekalan tentang keislaman. Tambah pening jadinya, ketika aku memasuki bilik Anjungan Tunai Mandiri (ATM), bukannya uang yang keluar, malah tulisan “mohon maaf, kartu anda sudah diblokir”. Kalau sudah berurusan dengan uang, rasanya pincang jika tidak cepat diselesaikan. 

Karena merasa harus segera ditangani, aku memutuskan untuk datang ke kantor cabang bank rakyat terdekat dari kampus. Aku tiba sekitar pukul 13.30 WIB. Ternyata pemblokiran ini massal dilakukan karena banyak rekening yang dibobol oleh oknum yang merugikan, jadi banyak juga yang datang untuk mengaktifkan kembali kartu ATM nya. Aku mendapat nomor antri 30-an, siap-siap bosan dibunuh waktu, apalagi kuota internet habis dan tidak bisa beli karena uangnya di ATM, apes lah!

Sekitar 15 menit aku larut dalam antrean, tiba-tiba dari pintu masuk bank ada sedikit kegaduhan. Entah kenapa orang Indonesia selalu heboh kalau yang bersangkutan adalah warga negara asing. Bapakku, yang berumur 65 tahun langsung terefleksi pada bule (sebutan untuk orang luar negeri di Indonesia-red) yang sedang berbicara dengan satpam bank di hadapan pintu masuk, entah kenapa bisa semirip itu. 

Aku melihat satpam itu mulai kebingungan, mencoba meminta bantuan pada orang-orang di sekitarnya yang juga saling tunjuk menunjuk dan menggeleng. Untuk kesekian kali, naluri sosial manusia selalu membawaku masuk ke dalam permasalahan seperti ini, -aku kerap beberapa kali membantu bule yang kebingungan di bandara- Aku menghampiri satpam dan orang asing itu, yang lain mencibir sayup-sayup, tak peduli. 

Aku mulai masuk ke dalam obrolan itu, menanyakan perihal tujuan ia datang ke bank dan menjelaskan kalau antriannya cukup panjang karena ada perbaikan kartu ATM yang terblokir massal. Ia pun menyanggupi untuk menunggu. “My name is William,” begitu dia menyebutkan namanya saat menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri. “Oh ya, William, my name is Azizah,” jawabku menyambut jabat tangannya, dan tak sadar sudah menjadi tontonan nasabah lain yang juga sedang menunggu. 

Nomor antrianku dan William terpaut enam angka, aku dipanggil terlebih dahulu. Kumasuki ruangan customer service yang berisikan tiga meja kerja, aku duduk di meja yang paling dekat dengan pintu. Di sela mengaktifkan kembali kartu ATM ku, dua customer service wanita di meja lain berdebat soal siapa yang akan melayani Mr. William nanti. Selain aku dan para customer service, ada seorang satpam yang sekarang sudah berdiri di belakang kursi yang kutempati. 

“Mbak Azizah saja yang bantuin terjemahkan, tadi dia ngobrol sama Mr. William di luar,” usul satpam bank tersebut menimpali perdebatan kedua customer service itu.

“Waduh, maaf, pak, kalau percakapan biasa saya mungkin bisa, tetapi kalau masalah perbankan istilahnya takut tidak paham,” jawabku, mencoba untuk tidak terlibat lebih jauh.

“Ya nggak masalah, sih, mbak, sebagai penyambung lidah saja, takutnya kita salah paham maksud dari Mr. William,” customer service yang tadi membantuku mengaktifkan kembali kartu ATM ikut meyakinkanku.

“Oke deh, gapapa, saya bantu sebisa saya ya mbak, mas,” aku menyerah menghindar, toh aku juga masih punya waktu satu jam lagi sebelum kembali ke rusunawa. Aku harus tiba jam lima sore, sedangkan perjalanan ke rusunawa memakan waktu sekitar 20 menit.

Setelah urusan kartu ATM selesai aku kembali ke ruang tunggu. Karena Mr. William belum dipanggil, akhirnya kami menunggu sambil mengobrol. Ia bercerita bahwa dirinya baru satu minggu tiba di Indonesia, ada urusan bisnis ekspor ikan asin Lele ke Eropa dan Cina, katanya. Mr. William warga negara Prancis, namun keturunan Cina, hal ini membuat dia memiliki dua kewarganegaraan. 

Nomor urut Mr. William dipanggil oleh customer service, aku mengikuti ia masuk. Pembuatan rekening baru Mr. William tidak serumit yang aku bayangkan, prosesnya tergolong cepat sekitar 10 sampai 15 menit. Di akhir pertemuan kami, ia mengajakku untuk makan sushi. Tapi aku harus menolaknya, bukan karena aku takut atau tidak menghargai ajakannya, tetapi harus kembali ke rusunawa (sungguh mahasiswa tingkat awal yang sangat taat, mungkin kalau kejadian ini terjadi sekarang keputusannya berbeda, hehe).

Langkahku berayun meninggalkan bank tersebut, seiring dengan satpam yang membukakan pintu untukku, aku berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar.

“Makasih ya pak,” ucapku tersenyum. 

Alih-alih menjawab ucapanku, ia malah mengeluarkan gawainya.

“Mbak, aku mau minta nomer WA-nya mbak dong, siapa tahu kalau mbak lagi kosong bisa ajarin saya bahasa inggris. Biar gak malu e kalo ketemu bule lagi,” ucapnya dengan ekspresi yang sangat sulit ku terjemahkan artinya. Aku pun menuliskan nomor teleponku di gawainya, lalu keluar dari bank tersebut untuk kembali ke rusunawa

Aku tidak begitu pandai bahasa asing, cuma modal nekat dan jiwa kemanusiaan yang tidak tega melihat orang-orang asing itu kebingungan. Alhasil, aku lumayan sering terlibat dengan percakapan-percakapan seperti yang terjadi di bandara dan di bank itu. Aku sangat mengapresiasi pak satpam yang berani mengakui kelemahannya dan memiliki kemauan untuk belajar. Sungguh menyayangkan kenapa orang-orang yang bekerja di tempat publik masih banyak yang tidak menguasai bahasa asing, paling tidak sekadar percakapan sesuai konteks pekerjaannya. 

Editor : Ikrar

 

507 Total Views 4 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *