Penyimpangan Paham Syi’ah Tentang Hukum Nikah Mut’ah

Penyimpangan Paham Syi’ah Tentang Hukum Nikah Mut’ah

(sumber foto : www.islampos.com)

Oleh : Chassanah Novambar Andiyansari

Bacaekon.com-Oase. Sudah menjadi kodrat alam, manusia hidup secara sosial dan berpasang–pasangan. Begitu juga dengan pernikahan yang sudah digariskan oleh Allah SWT bahwa manusia akan memiliki jodoh. Namun pernikahan yang diidam–idamkan akan sakral dan berlangsung secara hikmat tidak selamanya berjalan sebagaimana mestinya, apa lagi di zaman modernisasi ini bisa dijumpai fenomena di masyarakat yang menghalalkan segala cara untuk menyalurkan hasratnya yaitu untuk Nikah Mut’ah ( kawin kontrak ).

Menurut ajaran Syi’ah, Nikah Mut’ah boleh dilakukan bahkan akan mendapat pahala yang besar. Ulama Syi’ah menyatakan bahwa nikah mut’ah ( kawin kontrak ) tidak perlu memperdulikan apakah calon mempelai wanita mempunyai suami atau tidak dan membolehkan nikah mut’ah dengan pelacur. Selain itu juga dijelaskan bahwa dalam nikah mut’ah boleh dengan wanita bersuami asal dia mengaku tidak punya suami. Ulama besar Syi’ah, al-Khaumaini, menjelaskan bahwa boleh melakukan praktek seks anak dengan istri. Bahkan menurut Khumaini, nikah mut’ah boleh dilakukan dengan bayi yang masih menyusui. Dalam publikasi syi’ah ditulis, “Nikah mut’ah disyariatkan dalam al Qur’an dan Sunnah. Semua ulama – apapun madzhabnya- sepakat bahwa nikah muat’ah pernah dihalalkan zaman Nabi. Mereka berikhtilaf tentang pelarangan nikah mut’ah. Syi’ah berpegang kepada yang disepakati dan meninggalkan yang dipertentangankan.”(sumber: Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia, hal 78, oleh Tim Penulis MUI Pusat,10 September 2013  ).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sudah menetapkan bahwa aliran kepercayaan Syi’ah itu aliran sesat dan perlu diwaspadai keberadaannya seolah menjadi peringatan penting bagi masyarakat. Akan tetapi bagi masyarakat awam yang belum mengenal Syi’ah bahkan tidak terlalu paham tentang ajaran agama Islam yang benar menganggap hal itu sudah menjadi biasa. Hal tersebut ternyata sudah diterapkan oleh oknum untuk melakukan nikah mut’ah seperti dalam berita online vemale.com yang berjudul “Kawin Kontrak Ternyata Marak Terjadi Di Indonesia”  yang memaparkan, “Di sini laki-laki Arab kalau mau nikahin wanita itu harus izin suaminya dulu. Kalau suami oke nanti tanda tangan kontrak pakai materai. Kalau enggak setuju ya enggak bisa,” kata Rudi, warga setempat, kepada merdeka.com, di Desa Batu Layang, Cianjur, Jawa Barat, Senin (19/2).

Hal tersebut seakan menjadi biasa ketika mereka sudah melakukan transaksi di atas kertas. Tanpa mereka sadari melegalkan kawin kontrak sama halnya mengikuti aliran Syi’ah yang menghalalkan segala cara untuk menikah dan bahkan dengan melakukannya akan mendapat pahala. Jelas benar hal ini sangat berdosa juga menyalahi ajaran agama Islam yang benar, yang dijelaskan dalam Al Qur’an yang artinya “Dan orang–orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” ( QS. Al-Mukminun : 5-6). Ayat itu menjelaskan bahwa hubungan suami istri hanya dibenarkan kepada wanita yang berkedudukan sebagai istri atau jariah. Sedangkan wanita yang dinikahi dengan cara mut’ah tidak berkedudukan sebagai istri. Karena Akad Mut’ah bukan Akad Nikah. Tidak menutup kemungkinan bahwa Nikah Mut’ah menjadi penyakit masyarakat yang meresahkan warga. Maka dari itu terbukalah terhadap pengetahuan agama yang berkembang saat ini terutama aliran-aliran yang dianggap sesat menurut MUI karena bisa saja mereka menyebarkan agama dengan cara-cara yang kita anggap biasa.

2404 Total Views 1 Views Today

Related Post

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

(Foto : Islampos.com) Oleh : Nabila Ramadhani “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *