Penjajah Televisi

Penjajah Televisi

(sumber foto : melimove.wordpress.com)

Oleh: Ageng Ramadhanta

Bacaekon.com-Opini. Indonesia, negara yang selain terkenal akan kekayaan sumber daya alamnya juga  menjadi salah satu negara yang memiliki aset sumber daya manusia dengan jumlah yang banyak. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data penduduk Indonesia pada tahun 2010 mencapai 237.641.326 jiwa. Kuantitas jumlah sumber daya manusia yang begitu melimpah, menjadikan Indonesia sebagai sasaran  dari keambisiusan negara-negara lain yang lihai melihat potensi dan celah untuk merauk keuntungan. Tak hanya dikoyak dengan produk-produk konsumtif asal luar negeri, kini bangsa Indonesia mulai terjajah oleh berbagai budaya asing yang hilir mudik merambah melalui industri pertelevisian tanah air. Sulit untuk dinafikkan, televisi menjadi media  paling efektif dalam mentransfer berbagai informasi kepada masyarakat. Keberadaannya yang kini  sangat dekat tidak hanya pada kalangan masyarakat menengah ke atas, tetapi juga untuk kalangan menengah ke bawah. Hal ini yang menjadikan segala informasi dan bentuk suguhan lainnya dari industri pertelevisian sangat masif menjamah masyarakat Indonesia.

Ratusan juta pasang mata masyarakat Indonesia kini sangat akrab dengan keberadaan televisi beserta acara-acara yang disuguhkan setiap harinya. Banyaknya tontonan yang tayang  dari pagi hingga malam hari, tidak menyulitkan masyarakat dalam mengingat  jadwal tayang acara tersebut di televisi. Tak sulit bagi pemirsa di Indonesia dalam mengingat kapan mereka harus duduk di depan televisi, hanya  sekedar untuk menikmati tontonan sembari berkumpul dengan keluarga atau sekedar untuk relaksasi. Sebegitu antusiaskah masyarakat dengan televisi? Apa yang ditonton?

Kita bisa melihat minat masyarakat dalam menonton sebuah tayangan berdasarkan rating yang dimiliki acara atau tontonan tersebut. Semakin tinggi rating sebuah acara, semakin lama acara tersebut bertahan, bahkan dengan durasi tayang yang panjang. Saat ini tren tayangan televisi yang menyuguhkan konten-konten budaya India mungkin sedang digemari sebagian besar masyarakat Indonesia. Besarnya antusiasme masyarakat akan tontonan yang berbau keindia-indiaan membuat sebagian besar stasiun televisi swasta di Indonesia secara serentak latah dalam menyasar target pasar yang sama. Bahkan untuk memenuhi hasrat masyarakat yang sedang tergila-gila dengan konten negeri Bollywood  tersebut, beberapa  industri pertelevisian tanah air tak segan-segan mendatangkan artis asal India untuk mengisi beberapa acara bersama artis lokal Indonesia.

Sebelumnya, budaya Korea Selatan menjadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya tayangan-tayangan televisi yang berbau keKorea-Korean. K-POP dan drama Korea menjadi pemikat masyarakat untuk tetap setia berhadapan dengan televisi. Bahkan ada waktu-waktu khusus yang sengaja disiapkan hanya untuk sekedar menonton  penampilan dari boyband-boyband asal negeri gingseng tersebut. Pemirsa pun rela menyisihkan waktu mereka untuk terhanyut dalam emosi yang tergambar pada drama-drama Korea. Bahkan, penyesalan pun tak dapat dihindari kala pemirsa melewatkan  salah satu episode dari cerita drama Korea tersebut.

Lalu di mana wujud tayangan asli Indonesia? Mengapa Indonesia tak bisa mengeksplor keragaman budaya yang dimilikinya? Perlu disadari bersama, bahwa kondisi semacam ini cepat dan pasti akan menyeret bangsa ini pada budaya orang lain. Kepedulian pada budaya sendiri akan mati. Menjaga warisan budaya seakan hanya mimpi. Sehingga  dikemudian hari anak cucu sebagai pewaris negeri tak lagi mengenal nilai-nilai agung budaya ibu pertiwi. Mengadopsi budaya asing secara berkelanjutan melalui tayangan televisi bukan hal yang remeh-temeh. Beruntunglah bagi negara yang budayanya saat ini menjadi tren dan diadopsi oleh bangsa-bangsa lain. Korea Selatan dengan kekuatan budayanya serta kemampuannya dalam mengemas budaya tersebut menjadi sesuatu yang menarik, menjadikan negara tersebut dikenal di seluruh dunia dan menjadikannya objek tujuan wisatawan. Sudah pasti pendapatan negara tersebut menjadi indikator paling mudah bagi kita untuk melihat seberapa efektif sebuah budaya dalam  memberi kontribusi terhadap bangsanya.

Namun, tak bisa dipersalahkan bagi masyarakat Indonesia yang gemar pada budaya asing melalui tontonan televisi. Industri pertelevisian dalam negeri memiliki andil yang cukup besar dalam memberikan tayangan-tayangan yang berkualitas. Terdapat kepentingan yang lebih besar dari pada sekedar keuntungan yang diperoleh industri pertelevisian. Sudah semestinya pertelevisian Indonesia menjalankan perannya dalam menjadikan masyarakat yang cerdas. Tidak hanya melayani permintaan pasar dengan tayangan-tayangan penuh gimik tak mendidik. Di balik kebanggaan negeri ini yang memiliki banyak remaja dan pemuda yang bakal menjadi penerus bangsa, terselip ironi bahwa aset bangsa ini justru lebih mencintai budaya asing ketimbang budayanya sendiri. Bangsa Indonesia sudah harus sadar bahwa penjajahan klasik tidak lagi berlaku. Model penjajahan saat ini justru sangat mengerikan. Tertawa asyik menyaksikan tayangan televisi, secara tidak langsung kita telah terjajah. Bijak dalam memilih tontonan menjadi salah satu kunci dalam menghindarkan kita dari penjajahan budaya, sekaligus membawa bangsa kita pada kemakmuran dan kemartabatan.

 

1358 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *