Berita Kampus

Penggunaan Dana di Balik Primadona Pesta UII 2019

Foto : Azizah

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

 

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Pesona Ta’aruf (Pesta) untuk menyambut mahasiswa/i baru pada tanggal 14-16 Agustus 2019. Yang selalu disoroti dari Pesta UII setiap tahunnya, selain esensi acara itu sendiri adalah penggunaan dana yang berangka besar. Berdasarkan pemaparan Bhima Rizky Ananda, selaku ketua Steering Committee saat ditemui seusai acara, Pesta UII 2019 memakan dana berkisar 600-700 juta. Jumlah ini berasal dari beberapa sumber, salah satunya adalah dana kemahasiswaan. “kan tahun ini 275 ribu tiap mahasiswa, kemudian dibagi lagi untuk fakultas dan univ,” Ucap Bhima. 

Selain dana kemahasiswaan, sumber dana juga berasal dari sponsorship. “Kalo dari sponsor itu kita ada beragam. Ada yang pemotongan harga, dan lain-lain, jujur kita dapat anggaran juga dari rektorat,” ucap Cahyo Rahadi, selaku Koordinator Komisi C . Pemotongan harga dialokasikan untuk kebutuhan perangkat Divisi Publikasi dan Dokumentasi. “Itu kalo saya nggak salah ingat potongannya 40% dari total penyewaannya,” tambah Cahyo. Selain itu ada pihak sponsor yang memberikan fresh money dan produk yang dibagikan kepada mahasiswa baru dan panitia saat kegiatan Pesta berlangsung, dengan feedback berupa barang bawaan yang wajib dibawa oleh peserta saat kegiatan Pesta.

Namun, untuk pemilihan sponsorship makanan dan minuman, panitia memperhatikan multiplier effect yang didapatkan, bukan hanya sekedar nominal. “itu sebenernya, madu dan lain lain, itu kan gini, kemarin kita kesehatan melihat bahwa bukan karena nilai nominalnya ya yang kami kejar, karena dari madu itu kan mengandung glukosanya, jadi ketika maba lelah nah itu bagus untuk kesehatan. Karena kebutuhan dari kesehatan juga,” jelas Cahyo. Dari keseluruhan dana yang telah terkumpul, Bhima, Ketua SC memaparkan bahwa dana terbesar teralokasi untuk Komisi A, lebih tepatnya pada video mapping. Video mapping memang menjadi primadona pada pagelaran Pesta UII tahun ini.

 

Latar Belakang dan Penggunaan Dana Video Mapping

Ada yang berbeda dengan Pesta UII tahun ini, yaitu adanya pemutaran video mapping. Video mapping adalah ilusi optik pada objek, biasanya pada gedung. Pada Pesta UII 2019, video mapping diproyeksikan di gedung Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) dan Fakultas Kedokteran (FK) UII. Latar belakang utama dari pemilihan video mapping sebagai konten dalam Pesta UII 2019 adalah keinginan pelibatan era 4.0. Alasan lainnya, video mapping merupakan pengganti dari koreografi. “Kalo untuk video mapping sendiri kami sebagai alih dari adanya koreografi,” ucap Helmi, staf Komisi A.

Koreografi seperti tahun kemarin dinilai kurang efektif dan meninggalkan banyak sampah, tentu bertolak belakang dengan tema Pesta UII 2019, Retour A La Nature. “Kalau koreografi kemaren kan terlalu banyak kertas ya, kalau ini terhitung lebih sedikit daripada kertas tahun lalu yang dibutuhkan untuk koreo,” ucap Dian, staf Komisi A.

Selain latar belakang tersebut, video mapping juga memiliki tujuan untuk branding universitas. “Pertama kalau pake koreo itu kan capek, kedua ga ada lapangannya tahun ini, kemudian secara langsung untuk branding kampus, dan belum ada kampus di Jogja yang pake video mapping itu. Kalau kita lihat kan koreo sama video mapping itu kan branding universitas,” jelas Bhima, selaku Ketua SC Pesta UII 2019. Pihak panitia Pesta UII 2019 bermitra dengan Mozza Production Indonesia sebagai penyedia alat, dan menggandeng pihak luar sebagai pembuat konten. Namun hubungan ketiganya tetap melalui satu pintu antara Panitia Pesta UII 2019 dengan Mozza Production Indonesia. Selain alat dan pembuatan konten, video mapping juga membutuhkan pemasangan kertas sebagai media proyeksi di gedung FPSB UII. 

Terkait alokasi dana video mapping, secara keseluruhan memakan dana sebesar 77 juta rupiah. “pas nya itu 77 mas, 77 juta itu 7 juta untuk pemasangan kertasnya, karena mahasiswa ga ada yang berani masang itu, Mapala yo ra wani mas, jadi kita nyewa pemasangan instalasi kertasnya ini dari Klaten,” jelas Bhima. Menurut pemaparan Bhima, dana terbesar dalam video mapping ada pada konten dan proses pembuatan, memakan dana lebih dari 40 juta rupiah. Video mapping memang memakan dana yang tidak sedikit. Namun menurut Bhima, angka 77 juta cukup worth it untuk menghargai sebuah seni proyeksi cahaya ini.

 

Reporter : Azizah, Gilang, Ikrar, Taufan, Adis

Editor : Azizah

 

535 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *