Pengguna Internet Belia Perlu Respon dan Tuntutan dari Orangtua

Pengguna Internet Belia Perlu Respon dan Tuntutan dari Orangtua

(Foto : ismart.edu.vn)

Oleh: Hikmah Nurul Qamar

Bacaekon.com-Berita. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia tahun 2017 mencapai 54.86% yakni 143.26 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia sebanyak 262 juta jiwa, dengan persentase 16.68% pengguna internet adalah berusia 13-18 tahun. Penggunaan sosial media bagi kawula muda Indonesia semakin marak, hal ini sejalan dengan bermunculannya berbagai macam sosial media, salah satunya Tik Tok. Tik Tok merupakan platform sosial video pendek yang didukung dengan musik, baik itu musik untuk tarian, gaya, dan lain sebagainya. Para pengguna didorong untuk berimajinasi sebebas-bebasnya dan menyatakan ekspresi mereka.

Belakangan ini, Tik Tok sempat menyita perhatian masyarakat dikarenakan pemblokiran sementara oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dengan alasan banyaknya laporan masyarakan mengenai konten yang beredar pada platform aplikasi TikTok. Berdasarkan tweet dari akun @kemkominfo, hingga Selasa (3/7) pagi tercatat 2.853 laporan masyarakat melalui aduankonten.id, serta sejumlah kanal pengaduan Kementrian Kominfo lainnya. Terdapat beberapa pelanggaran konten seperti pornografi, asusila, dan pelecehan agama. Pemblokiran yang dilakukan Kementrian Kominfo ini, menuai beragam reaksi dari masyarakat.

Orangtua salah satu pengguna Tik Tok yang berusia 7 tahun, beranggapan bahwa aplikasi Tik Tok ini disisi lain juga memiliki sisi positif terhadap perkembangan seorang anak. Ketika penggunaan media sosial masih di kontrol maka akan berdampak positif. Semua bergantung pada penggunanya.

“melatih mental saja biar lebih berani dan percaya diri, dan kita cukup ambil positif nya ya, alhamdulillah anak saya semakin percaya diri berkat aplikasi tersebut” kata ibu salah satu pengguna Tik Tok yang anaknya masih berusia 7 tahun saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII), Ahmad Rusydi mengatakan bahwa segala macam teknologi digital, akan mengakibatkan persoalan adiksi (kecanduan) dan abuse (penyalahgunaan) bagi masyarakat. Hal demikian bisa membentuk mental seseorang terutama anak-anak sehingga orangtua sangat berperan penting dalam memonitor apa yang dilakukan anaknya.

“Teori parenting style adalah bagaimana orangtua diminta dua hal terhadap anak. Pertama adalah dia merespon, dan dia menuntut. Demand and response. Ini teorinya Baumrind,” ujarnya saat ditemui di gedung Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) UII.

Berdasarkan berita yang dipublikasikan kominfo.go.id menyatakan bahwa setelah diblokir, tim Tik Tok dari China langsung mendatangi Kominfo. Pihak Tik Tok langsung bertemu dengan Menteri Kominfo dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP & PA), melakukan pertemuan mengenai komitmen yang harus dilakukan pihak Tik Tok. Pihak Tik Tok diminta untuk membersihkan segala konten-konten yang bersifat negatif dalam platform tersebut serta diminta untuk filter pada konten-konten yang akan datang.

Pihak Tik Tok mengaku akan memenuhi komitmennya untuk memberikan konten yang positif serta ramah anak di platformnya. Permintaan Kementrian Kominfo terhadap pihak Tik Tok juga sudah dipenuhi dan akan didirikan perusahaan perwakilan di Indonesia untuk memonitoring aplikasi Tik Tok Indonesia. Pada selasa (10/7) pemblokiran Tik Tok resmi dibuka kembali.

Reporter : Rahma, Sinta, Ghani, Ilham

10306 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *