Berita Yogyakarta

Pencegahan Papua Merdeka: BEM DIY Serukan Stop Rasisme

Foto : Gilang

Oleh : Vina Hesti Fahrani

Isu rasisme yang terjadi di Indonesia belum benar-benar selesai dengan damai. Masih banyak kejadian rasis di sekitar kita baik yang tidak disadari maupun peristiwa besar yang tengah terjadi, seperti konflik Papua dengan Surabaya. Oleh karena itu, untuk meredam isu rasisme tersebut Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar seruan aksi pada hari Kamis 05 September 2019 pukul 11.30 WIB. Seruan aksi Forum BEM DIY ini diadakan di Tugu Yogyakarta yang sebelumnya direncanakan di titik KM 0 Yogyakarta namun tidak dilakukan. Seperti yang dijelaskan oleh Amrin Esarey (Aman), mahasiswa STMIK Akakom Yogyakarta, selaku koordinator utama aksi tersebut, pemindahan tempat dilakukan agar tidak terjadi dualisme pikiran yang tidak diinginkan akibat adanya aliansi lain yang menempati titik KM 0 Yogyakarta. 

Aksi berfokus untuk mendesak Presiden Republik Indonesia agar menyatakan sikap atas kejadian tersebut (konflik Papua dan Surabaya –red). Serta memberikan penguatan kepada masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dengan memegang nilai-nilai perbedaan berdasarkan UU RI Nomor 40 Tahun 2008. Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) turut didesak untuk mencegah dan menindaklanjuti kasus rasisme di Indonesia. “Sebenarnya tujuan aksi ini kan bermula daripada kasus rasisme yang terjadi kepada saudara-saudara kita dari Papua, ini merupakan bentuk respon kami dimana hari ini kita menyuarakan karena lewat media saja tidak cukup,” tutur Aman.

Selain konflik papua terdapat fokus lain dalam aksi tersebut seperti pencegahan tindakan aksi rasisme di lingkungan sekitar masyarakat. Dimana terdapat kost-kost yang hanya menerima orang-orang tertentu seperti kost-kost muslimah, serta penghinaan terhadap pemakaian bahasa ngapak oleh orang dari daerah tertentu. Hal ini tentu saja merupakan bibit-bibit rasisme yang tidak disadari oleh masyarakat sendiri, serta merupakan tanda bahwa rasisme belum sepenuhnya hilang di Indonesia.

Pencetusan ide aksi ini sendiri berpatokan pada diskusi-diskusi yang dipelopori oleh Mahasiswa-mahasiswa UII, sebagaimana penuturan Aman bahwa diskusi-diskusi dari Mahasiswa UII bersifat akademis dan terstruktur, akademis sendiri dalam arti valid dan dapat dipercaya,  sehingga aksi ini tidak mungkin dilatarbelakangi hal-hal sembarangan. Senada dengan penuturan Aman, Muhammad Ikhwan, selaku Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa UII, serta koordinator lapangan aksi tersebut menuturkan bahwa kajian awal dari seruan aksi sebenarnya berasal dari UII dan UGM. Namun karena satu dan lain hal kajian dari dua universitas tersebut tidak jadi dilaksanakan, sehingga sesuai kesepakatan aksi tersebut didasarkan kajian-kajian oleh LEM UII.

“Harapan dari aksi ini kepada media dan masyarakat bahwa kita harus mengedepankan persatuan dan kesatuan untuk NKRI, dan tidak mau Papua terlepas seperti wilayah-wilayah timur,” tutur Aman. Oleh karena itu aksi ini penting untuk pernyataan sikap atas konflik Papua serta pencegahan isu rasisme lain secara general. Tentunya aksi ini  digelar tidak berdasarkan momentum tertentu saja, akan tetapi menyorot rasisme secara keseluruhan di Indonesia. Kekritisan masyarakat terhadap pemberitaan media turut diharapkan Aman agar isu rasisme dapat diredam. “Media juga berperan dalam terjadinya chaos nasional, oleh karena itu masyarakat jangan hanya melihat dari satu media. Seperti contoh ada orang-orang Maluku dalam tanda kutip mau menyerang asrama papua, nah itu kan hoax,” jelas Aman.

Reporter : Azizah, Gilang, Vina

Editor : Oliv

 

90 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *