Berita Ekonomi Kampus

Pemulihan Bisnis di Indonesia dan Malaysia dalam Diskusi International Program Forum

Foto : IPF/Fajar Rizkiansyah

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Bacaekon.com-Salah satu penopang perekonomian sebuah negara adalah sektor bisnis. Gempuran pandemi Coronavirus Disease (Covid-19)  berhasil meluluhlantakkan sektor bisnis di Indonesia, yang berhasil  menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia berkontraksi sebesar 5,23% pada kuartal II 2020. Angka ini merupakan prestasi terburuk sejak krisis 1998. Namun tidak hanya Indonesia yang mengalami kontraksi besar-besaran. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan perekonomian global akan berkontraksi sampai 4,9% dalam World Economic Outlook (WEO) pada 2020. Dalam proyeksi tersebut juga diprediksi bahwa negara-negara maju akan berkontraksi sampai 8%, dan negara berkembang berkontraksi sebesar 3%.

Negara tetangga, Malaysia, juga berkontraksi cukup besar yakni 17,1% pada kuartal II 2020. Angka tersebut sah membawa Malaysia masuk ke dalam jurang resesi. Hal ini cukup masuk akal mengingat Malaysia memberlakukan lockdown untuk menekan penyebaran Covid-19. Penurunan permintaan agregat mengakibatkan kemampuan produksi ikut turun secara nasional. Pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan berupa Economic Stimulus Package  (ESP) dalam merespon hal ini. Sebagaimana dikutip oleh Straits Times, Malaysia mengeluarkan kebijakan tersebut secara bertahap. ESP berisi kebijakan antara lain Wage Subsidy Program, Moratorium on Loan Repayment, Tax Payment and Filings, Rental Waivers, Other Discounts,  dan Employees’ Provident Fund. Secara keseluruhan, pemerintah Malaysia akan menggelontorkan dana sebesar RM250 miliar. 

Tidak jauh berbeda dengan Malaysia, pemerintah Indonesia pun juga mengeluarkan kebijakan dengan tujuan yang serupa untuk pemulihan ekonomi. Kedua negara tersebut menguatkan sektor bisnis melalui berbagai stimulus dan insentif yang dikeluarkan. 

Strategi pemulihan bisnis di saat pandemi merupakan topik yang diangkat pada diskusi International Program Forum (IPF) Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII) di acara International Week. Dengan tema bertajuk “Strategy for Business Recovery during Pandemic” IPF menggandeng 2 universitas asal Malaysia, yaitu Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan Universiti Putra Malaysia (UPM).

Diskusi diawali dengan presentasi dari ketiga universitas atas topik dan isu yang diangkat. “Ternyata hal-hal negatif yang kita rasakan di sini juga dirasakan oleh mereka (USIM dan UPM) di sana (Malaysia),” ucap Fajar Rizkiansyah, anggota divisi Public Relation dan sekaligus Penanggung Jawab dari acara diskusi. Presentasi tersebut juga berisi strategi untuk merespon permasalahan yang muncul di saat pandemi. “Sekarang ini kan kita lagi di masa pandemi, jadi pengen tahu aja sebenarnya bagaimana sih Malaysia itu untuk business recovery-nya, apakah ada perbedaan atau mungkin ada the same way dari mereka untuk solve the problem sama seperti kita di Indonesia,” ujar Fajar. Dari hasil diskusi tersebut, ditemukan bahwa terdapat banyak persamaan antara kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia, hanya saja berbeda dalam penyebutannya. 

Diskusi International Week IPF dirasa perlu sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa International Program (IP) FBE UII. Media ini dijadikan sebagai ajang belajar mengenai strategi pemulihan bisnis di kedua negara. Selain itu, diskusi tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan internasional FBE UII ke USIM dan UPM di Malaysia (selengkapnya baca http://bacaekon.com/upaya-peningkatan-mobilitas-mahasiswa-fe-uii-bertandang-ke-malaysia/ ). “Tujuannya lebih untuk belajar dari mereka (UPM dan USIM), tentang bagaimana sih perbedaan strategi bisnis antara Indonesia dan Malaysia, terus juga untuk follow up kunjungan internasional ke Malaysia, kita maunya tidak hanya berhenti di situ,” jelas Shofiya Yusri Salma, Ketua IPF UII.

Salah satu strategi pemulihan bisnis yang menarik untuk diterapkan di Indonesia adalah strategi untuk adaptasi dan negosiasi pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). “Di kondisi ini kita harus adaptasi dan bernegosiasi sebagai owner bisnis. Itu sih yang dijelaskan oleh UPM yang menurutku menarik. Sebagai owner bisnis kita harus bisa adaptasi dan juga selalu bisa bernegosiasi supaya kita bisa melewati problem yang terjadi di perusahaan kita,” jelas Fajar.

Suatu perusahaan umumnya melakukan pivot untuk mempertahankan atau mengembangkan bisnisnya. Dalam buku The Lean Startup, pivot adalah koreksi terstruktur yang dirancang untuk menguji hipotesis fundamental baru tentang produk, strategi, dan mesin pertumbuhan. Perubahan yang dilakukan dalam pivot tetap berorientasi pada visi yang sama dengan sebelumnya. Selama pandemi Covid-19, banyak perusahaan yang melakukan pivot agar produknya dapat tetap diterima oleh masyarakat. Namun dengan adaptasi dan negosiasi yang dijelaskan oleh UPM, perusahaan kecil tidak perlu melakukan pivot untuk mempertahankan bisnisnya.

“Kenapa kita harus bernegosiasi dan beradaptasi adalah untuk keep business on track. Ternyata bisnisnya tidak perlu pivot. Sepengetahuanku sebelumnya, perusahaan yang diprediksi the fall (mengalami penurunan tren) harus pivot. Justru UMKM malah akan keberatan jika melakukan pivot. Yang melakukan pivot memang perusahaan besar, jadi mereka memang ada dana untuk pivot,” jelas Shofiya. UMKM dirasa cenderung sulit jika harus mengubah produk, target pasar, dan perubahan mendasar lainnya.

Hadirnya diskusi internasional ini harapannya dapat menjadi pemantik perhatian mahasiswa IP FBE UII terhadap isu-isu internasional. “Dengan diskusi ini harapannya kami (IPF) dapat semakin aware atas international issues, kan kita juga international students. Ini kali pertamanya mengadakan acara seperti ini, belum ada kerja sama dengan foreign students. Harapannya ini menjadi pintu pembuka agar IPF makin internasional. Harapannya juga dapat memantik anak-anak IPF agar semakin aware dengan international issues,” jelas Shofiya.

Reporter : Ikrar Aruming Wilujeng

Editor : Retno Puspito Sari

152 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *