Pemilwa UII 2018 : Militansi Kotak Kosong & Meja Mediasi Dekanat

Pemilwa UII 2018 : Militansi Kotak Kosong & Meja Mediasi Dekanat

(Foto : Gilang)

Oleh : Gilang B Putra

“Jangan sampai atas dasar kecewa secara pribadi subjektif itu mengeneralisir secara keseluruhan agenda pemilwa ini tidak adil,” – Syahlevy Lisando

Bacaekon.com, Kampus-24-28 September 2018 adalah awal dari pesta demokrasi Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (KM UII). Hari tersebut pendaftaran calon legislatif dimulai hingga pengumpulan berkas, revisi, dan lain-lain yang termasuk dalam tes tahap 1 calon legislatif (administrasi-red).  Fakultas Ekonomi (FE UII) juga tidak ketinggalan dalam pesta demokrasi ini. 32 nama terdaftar mengajukan diri sebagai bakal calon legislatif (caleg) FE UII. Walaupun terbilang cukup banyak peminat yang mendaftar sebagai bakal caleg FE UII, hanya 9 nama yang tersisa setelah mengikuti tiga tahapan tes serta berkesempatan kampanye kepada mahasiswa FE UII. Handriansyah, Ivan, Feramitha, Febrian, Adnan, Indra, Febina, Lutfhi, dan Ahmad adalah caleg yang bisa melanjutkan kompetisi hingga tahap pemungutan suara oleh mahasiswa FE UII.

Kampanye Mimbar

Rabu (10/10) Masa kampanye pesta demokrasi ini dimulai. Hall Tengah FE UII dijadikan lahan para caleg untuk unjuk gigi dalam pemikiran, visi, misi, serta gagasan. Kondisi lokasi saat itu cukup tenang dan kondusif. Sampai pada caleg nomor urut lima, M. Adnan Pratama mahasiswa Ilmu Ekonomi angkatan 2015 yang tiba-tiba membuat Hall Tengah FE UII menjadi ramai dengan massa pendukungnya.

Keputusan yang mengejutkan dipilih oleh Adnan, bukan gagasan dan pemikiran yang disampaikan, melainkan surat pernyataan pengunduran diri yang keluar dari orasinya. Ketika dimintai keterangan oleh tim Ekonomika, Adnan mengungkapkan bahwa sebenarnya mewakili beberapa temannya untuk menjadi legislatif.

Adnan juga merasa adanya kecurangan dalam proses yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) baik dalam tes administrasi, wawancara, dan tulis. “Nah mungkin sikap saya ketika saya ingin mengajukan banding dan lain sebagainya terhadap apa yang kecurangan yang dilakukan oleh KPU tidak diindahkan oleh temen-temen KPU dan setelah itu ketika tidak diindahkan maka saya mengambil sikap secara personal pribadi saya mengatasnamakan pribadi saya untuk mengundurkan diri dalam pencalonan,” ucap Adnan.

Menurut Gharby Saidi selaku ketua KPU Pemilwa UII 2018 menjelaskan bahwasanya pengunduran diri merupakan hak dan pernyataan sikap dari caleg tersebut. Penyampaian surat pernyataan pengunduran diri yang dibuat tanpa paksaan dan dengan kesadaran penuh serta disampaikan di mimbar bukanlah sesuatu yang dilarang. KPU juga bisa menghargai sikap yang dipilih.

Hal yang menuai polemik saat kampanye mimbar caleg nomor urut lima adalah dalam penggunaan durasi. “Diberikan waktu 7 menit untuk berbicara tapi dia bilang di forum tidak mau dibatasi itu artinya dia mengabil kebebasan orang lain kan gitu logikanya, orang lain punya jatah 7 menit dia juga punya jatah 7 menit dan harusnya selesai dalam waktu 7 menit,” ujar Gharby.

#KOTAKKOSONGFEUII

Nyanyian perlawanan dan seruan “hidup kotak kosong FE UII !” merupakan penutup dari kampanye yang disampaikan oleh Adnan sebagai caleg. Lalu apa sebenarnya Kotak Kosong FE UII dan apa saja yang ada di dalamnya?.

Adnan berperan sebagai inisiator dari Kotak Kosong FE UII. Ketika dimintai keterangan terkait hal ini, dia menjelaskan bahwa alur pertama berawal dari teman-teman lembaga internal yang ada di FE UII berjumlah 12 orang jatuh dalam tahapan tes administrasi dan wawancara. Hanya dirinya seorang yang tersisa menjadi caleg. “Terkait hal ini kenapa bisa terjadi, kita telah mengikutin proses-proses yang ada pada saat banding tapi tidak diindahkan mungkin, jadi ikhtiarnya saat banding berkas tidak bisa lagi diusahakan jadi mutlak kita jatuh pada tahap fomulir. Keadaan makin di isukan seperti #kotakkosong (tagar-red),” tuturnya.

Pemikiran Adnan dan 12 orang temannya yang jatuh dalam tahapan tes caleg, mereka tetap bisa mewakili mahasiswa walaupun tidak sebagai caleg fakultas. “Karena yang kita yakinin perwakilan mahasiswa itu bisa ditolong oleh mahasiswa itu sendiri, bukan ditolong oleh KPU maupun Panwas (Panitia Pengawas),” ungkap caleg nomor urut lima ini.

Alasan kenapa Kotak Kosong FE UII harus diumumkan kepada seluruh warga FE UII dilandasi mereka tidak ingin mengajarkan teman-teman mahasiswa untuk golput dan harus tetap memilih. “Kita akan membentuk petisi dimana petisi itu kita akan mengumpulkan data -data yang akan mendukung Kotak Kosong ini,” tuturnya.

Tanggapan juga disampaikan oleh Gharby terkait kotak kosong FE UII. Gharby menyesalkan adanya gerakan ini. “Seruan kotak kosong ini sama saja dengan seruan pemboikotan kegiatan kemahasiswaan implikasinya akan sangat besar jadi harap untuk hati-hati dalam menyatakan suatu sikap,” ucap Gharby. Dia menambahkan bahwa aksi kotak kosong FE UII ini juga akan menimbulkan masalah kedepannya untuk FE UII sendiri.

Syahlevy Lisando selaku ketua Panwas juga menyayangkan hal ini terjadi. Menurut Sando penyampaian aspirasi sebaiknya dilakukan dengan sikap yang baik. “Cara penyampaian yang baik, pernyataan alasan disampaikan secara konkrit, tuntutannya apa gitu,” ujar Sando.

Dugaan Kecurangan

Dugaan kecurangan tertuduh pada KPU pada tahapan tes yang dilaksanakan. Hal inilah yang menimbulkan rasa kecewa dan menjadi salah satu penyebab adanya kotak kosong FE UII. Kegagalan teman-teman Adnan pada tahap administrasi menimbulkan permintaan transparansi berkas (makalah dan esai) caleg yang dinyatakan lolos kepada KPU. Transparasi yang diminta saat banding bertujuan supaya caleg yang dinyatakan gagal bisa tau apa ukuran berkas ini dinyatakan lolos.

Adnan juga mengungkapkan dugaan kecurangan lain seperti adanya caleg angkatan 2015 yang tidak lulus tes baca tulis Al-Qur’an (BTAQ) dan adanya caleg yang masih menjabat sebagai ketua himpunan mahasiswa. “Yang pertama dalam redaksi yang kami pahami terkait aturan KPU adanya tes BTAQ yang dilakukan teman-teman KPU hanya untuk kawan-kawan mahasiswa yang nilai BTAQ nya belum keluar terkhusus 2016. Tapi ada salah satu calon legislatif ekonomi dia itu BTAQ tidak lulus tahun lalu dan sekarang dia ikut tes BTAQ oleh KPU sedangkan dia (angkatan-red) 2015 dan itu diloloskan,” ungkapnya.

Keresahan yang sama juga disampaikan oleh bakal caleg yang juga tidak lolos tahap awal Iqbal Faturochman. Ia merasa ada kejanggalan yang terjadi pada KPU terhadap caleg lain. Fatur menyampaikan bahwa ada bakal caleg yang masih menjabat sebagai ketua himpunan mahasiswa dan belum selesai masa periode. “Ga mungkin dia menandatanganin surat yang atas nama dia sendiri kan, padahal sekarang periode nya belum habis,” tutur Fatur

Tim Ekonomika mencari klarifikasi kepada KPU yang mendapat tuduhan dugaan kecurangan ini. Gharby mengklarifikasi bahwa transparansi sudah dijelaskan saat banding dilakukan. Terkait makalah, kelengkapan referensi dan catatan kaki dari makalah bakal caleg yang tidak lolos memang tidak sesuai dengan ketentuan.

Selanjutnya, transparansi sudah diberikan melalui penjelasan hal yang menyebabkan bakal caleg tidak lolos. Selain itu transparansi nilai juga sudah ditunjukkan. Terkait BTAQ, Gharby memaparkan  ada 3 fasilitas yang diberikan KPU. “Pertama fasilitas untuk bakal caleg yang sama sekali belum mengikuti tes, kedua yang sudah tes tetapi nilainya belum keluar, ketiga sudah tes namun tidak lulus,” jelas Gharby.

Terkait caleg yang masih menjabat sebagai pejabat struktural dalam KM UII, dia wajib melampirkan surat keterangan non aktif.  “Pejabat KM dia wajib melampirkan surat keterangan non aktif semua yang ada jadi berkas yang masuk ke kami caleg yang sekarang adalah caleg secara struktural yang sudah di SK kan non aktif,” jelas Gharby.

Aksi dan Pemukulan

(18/10) Proses pemungutan suara telah berjalan selama empat hari dengan lancar. Kamis sekitar pukul 13.00 WIB terjadi penempelan spanduk pada dinding lantai atas. Clarte Gagah (Panwas) dan Fakhry Hadiyan (KPU) yang saat itu berada di lokasi, langsung menindak dengan cara melepas spanduk karena dianggap provokatif. Akibat penindakan tersebut, terjadi kekacauan yang disebabkan oleh massa yang tidak terima dengan tindakan yang dilakukan Gagah dan Fakhry tersebut.

Adu mulut dan kontak fisik terjadi antara kedua kubu yang telah tersulut emosi. Kekacauan ini menyebabkan salah satu anggota Panwas, Gagah merasakan adanya pemukulan yang terkena di pipinya. Akibat hal ini juga menimbulkan perselisihan antar dua kubu yang menyebabkan terjadinya kekacauan kedua yang terjadi di kantin FE UII. Total terjadi tiga kekacauan yang cukup membuat gaduh FE UII pada hari itu.

Mediasi

Adanya perselisihan yang terjadi menuntut pejabat KM FE UII melakukan mediasi terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam kekacauan ini. Mediasi pertama dilakukan di ruang sidang FE UII. Hasil akhir dari mediasi tersebut menjelaskan bahwa aksi (pemasangan spanduk) yang dilakukan pegiat kotak kosong tidak mendapat izin. Kedua terkait pemukulan, dikarenakan pelaku belum diketahui, Gagah memilih menyelesaikan dengan memaafkan kejadian ini. Permohonan maaf ini diwakilkan oleh Adnan selaku inisiator aksi, walaupun belum bisa dipastikan pelaku pemukulan adalah massa pegiat kotak kosong.

Kegaduhan yang terjadi juga menyebab pihak Dekanat turun ke lapangan untuk membantu menyelesaikan masalah yang terjadi. Mediasi kedua dilaksanakan di Ruang Dekanat yang dihadiri oleh Jaka Sriyana selaku dekan FE UII, Siti Nursyamsiah dan Arief Rahman selaku wakil dekan FE UII, Ichsan selaku Ketua DPM FE UII, Rafi selaku Ketua LEM FE UII, Sando ketua panwas, dan Fauzan perwakilan KPU, serta Adnan sebagai inisiator Kotak Kosong.

Mediasi kedua membahas seluruh penyebab awal terjadinya kekacauan dalam Pemilwa di FE UII dan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang terjadi. Setelah terjadinya musyawarah yang berjalan kurang lebih selama satu jam, solusi untuk meredam amarah dan membuat kondisi menjadi lebih kondusif adalah pengendalian massa. Adnan selaku inisiator Kotak Kosong diminta mengendalikan massa pegiat Kotak Kosong, dan membubarkan massanya yang berada di kantin, serta menghapuskan tagar Kotak Kosong. Terkait pemukulan, Gagah selaku korban meminta pihak Dekanat untuk menindak pelaku dengan tegas. Pihak dekanat pun bersedia akan menindak mahasiswa yang melanggar disiplin dengan pendekatan peraturan serta pembentukan tim disiplin untuk menelusur kasus tersebut.

Reporter : Ilham, Taufan, Gilang, Tami

17325 Total Views 116 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *