PEJALANAN  PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

PEJALANAN  PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

(Sumber Foto : www.syariahcenter.com)

Oleh: Pradita Maharani Hayuningtyas

Bacaekon.com-Opini. Indonesia adalah salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, walaupun sebenarnya Indonesia bukanlah sebuah negara Islam. Sistem pemerintahan Indonesia menganut sistem Presidensial. Dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya seperti Dubai (Uni Emirat Arab), Arab Saudi, Brunei Darussalam, dan Malaysia, jumlah masyrakat muslim di Indonesia jauh lebih banyak dari negara-negara tersebut.

Sejarah munculnya perbankan syariah di Indonesia sendiri dimulai pada tahun 1980. Saat itu muncul ide dari diskusi konseptual dari para ulama dan pakar syariah yaitu A. Perwataatmadja, M. Dawan Rahardjo, A.M Saefudin, M.Aziz, dan lain-lain, untuk mendorong pemerintah agar memberi kesempatan mendirikan bank syariah.  Beberapa tahun kemudian pada tahun 1992 tercetuslah UU No.7/1992, tentang diperbolehkannya perbankan untuk melakukan usaha dengan sistem bagi hasil dan pada tahun itu pula sistem perbankan ganda diterapkan (dual banking system konvensional dan syariah). (Sumber:www.tipsserbaserbi.blogspot.co.id)

Namun penerapan sistem tersebut baru berjalan pada tahun 1998, kemudian pada tahun 1999, Bank Indonesia (BI) membentuk tim untuk pengawasan perbankan syariah. Setahun kemudian pada tahun 2000, BI mengeluarkan kebijakan untuk perbankan syariah dan memperkenalkan Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS). Pada tahun 2003, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah haram hukumnya. Akhirnya pada tahun 2004, Bank Indonesia membuat beberapa peraturan tentang standarisasi akad yang kita kenal sekarang di perbankan syariah. Akad-akad tersebut seperti akad jual beli yaitu Murabahah, Salam, Istisna, dan akad untuk investasi yaitu Mudharabah dan Musyarakah serta akad pembiayaan dan lainnya.

Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, nyatanya Indonesia dalam praktik perbankan masih didominasi oleh perbankan konvensional. Perbankan Syariah di Indonesia mulai terdengar keberadaannya sekitar tahun 1991 dengan munculnya Bank Syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat.

Berdirinya Bank Muamalat sendiri diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah yang mendapat dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Saat krisis moneter yang terjadi pada akhir tahun 1990, bank ini mengalami kesulitan sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal. Islamic Development Bank (IDB) atau Bank Pembangunan Islami,  kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba. IDB merupakan lembaga keuangan multilateral yang didirikan pada tahun 1975 (1392 H) oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi negara anggota dan masyarakat muslim di negara bukan anggota berlandaskan prinsip-prinsip Islami/Syariah (Sumber: http://abahanom-kng.blogspot.co.id). Perlu diketahui bahwa Bank Muamalat, sebenarnya adalah bank yang berasal dari Malaysia.

Jika dibandingkan dengan Malaysia perkembangan perbankan syariah di Indonesia masih kalah dengan negara tetangga itu. Malaysia sendiri sudah mempunyai badan khusus untuk mengelola perbankan syariah yaitu MIFC (Malaysia International Islamic Financial Centre). Sementara Perbankan syariah di Indonesia masih berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perbankan Syariah di Indonesia

Data Bank Indonesia mencatat bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 22 bank Syariah dengan jumlah kantor yang tersebar di Indonesia sebanyak 2.891 unit, sedangkan jumlah masyarakat Indonesia yang sudah membuka rekening syariah sekitar 18.441.876 jiwa (www.bi.go.id/id/publikasi/perbankan-dan-stabilitas/arsitektur). Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Itu berarti jika dihitung dari total penduduk Indonesia baru sekitar 15% yang menggunakan perbankan syariah di Indonesia.

Sementara itu dikutip dari www.beritasatu.com (13/09/15), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan saat ini, total nasabah perbankan syariah mencapai sekitar 15 juta jiwa. Sedangkan, nasabah perbankan konvensional menyentuh angka sekitar 80 juta orang. Dibandingkan dengan bank konvensional, total nasabah bank syariah baru mencapai 18,75%.

Padahal perbankan syariah sendiri jika dilihat dari prospeknya ke depan, cukup bagus apalagi tren Economics Rabbani atau Ekonomi Islam yang sedang berkembang dengan baik, ditambah dengan banyaknya masyarakat muslim di Indonesia. Tidak memungkinkan suatu saat, perbankan Syariah dapat mengunguli perbankan konvensional. Namun saya pikir kurangnya sosialisasi dan pengenalan perbankan syariah secara lebih kepada masyarakat umum dari perbankan syariah sendiri dan pemerintah membuat perbankan syariah kurang terkenal di masyarakat.

Memang tidak semua masyarakat Indonesia beragama Islam, namun dari segi profit nasabah dan masyarakat lebih diuntungkan dengan menggunakan perbankan syariah, selain tidak adanya bunga, sistem bagi hasil atau nisbah dalam perbankan syariah dibuat sesuai dengan akad dan kesepakatan anatara bank dan nasabah. Tak jarang masih banyak masyarakat yang mengira perbankan syariah sama seperti perbankan konvensional padahal dari segi tata cara saja sudah berbeda. Ini karena kurangnya perbankan syariah memperkenalkan produknya dan menjelaskan bagaimana sisitem kerja perbankan syariah.

Perbankan syariah di Indonesia perlu banyak berbenah diri dan memperbaiki kualitas serta memperbanyak cabang-cabangnya di daerah khususnya daerah pedalaman. Ditambahkan dengan adanya Layanan Keuangan Digital (LKD) yaitu sarana simpanan dan transaksi keuangan non tunai di mana nomor ponsel seseorang menjadi rekening tempat menyimpan dana. Dengan adanya LKD, masyarakat tidak lagi dibatasi oleh keberadaan bank atau Anjungan Tunai Mandiri (ATM) secara fisik. Seharusnya perbankan syariah bisa melihat dan memanfaatkan LKD tersebut untuk mempermudah akses layanan perbankan syariah di daerah-daerah khususnya.

 

5193 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *