PANGGUNG DRAMA ORASI POLITIK

PANGGUNG DRAMA ORASI POLITIK

(Sumber foto: merdeka.com)

Oleh: Restin Septiana

Bacaekon.com-Opini. Gaung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) senantiasa menarik perhatian khalayak. Sepak terjang lembaga independen ini dalam upaya memberantas korupsi di Indonesia membuat setiap orang tersentuh mendukungnya. Oh, mungkin tidak semuanya. Drama Revisi Undang-Undang KPK (RUU KPK) senyatanya sudah timbul tenggelam belakangan ini. Tidak saja itu, orang-orang atau institusi yang dianggap publik menghambat dan memiliki maksud tertentu terkena amarahnya. Muntahan amarah ini misalnya adalah dengan melakukan aksi demonstrasi di jalanan maupun kantor pemerintahan. Tidak luput dari momentum itu, mahasiswa pun nampak tidak mau ketinggalan dalam seruan aksi itu. Namun apa jadinya apabila aksi yang barangkali murni dan tulus, barangkali, yang dilakukan oleh mahasiswa justru dengan suka cita disambut oleh elit politik dengan“menyenangkan”?

Menyenangkan, ya menyenangkan, barangkali bukanlah kata yang paling tepat untuk mendeskripsikannya. Bagaimana tidak, waktu itu, Rabu 24 Februari 2016, massa aksi yang berasal dari Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (KM UII) turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya, yakni menolak RUU KPK. Selayaknya aksi pada umumnya yang kerap kali dihelat di Yogyakarta, rute bekennya adalah melewati jalan Malioboro dan di situ, ya kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, kerap dijadikan massa aksi sebagai panggung orasi.

Kebetulan bukan main, seperti dilansir Bacaekon.com, bahwa massa aksi dari KM UII tersebut dengan mudahnya ditemui langsung oleh salah satu wakil ketua DPRD DIY, Dharma Setyawan. Begini penggalan orasinya, “Tentu sebagai anggota DPRD, saya tidak boleh mengatasnamakan DPRD. Karena DPRD terdiri dari tujuh fraksi yang berbeda-beda. Tetapi dengan tegas sebagai pimpinan partai Gerindra, saya akan perjuangkan terus ini. Ini janji saya,” tegasnya sepakat dengan pernyataan sikap massa aksi dari KM UII.

Menyenangkan bukan, bahwa masih kita dengar elit politik yang sepakat dengan massa aksi dan terang-terangan mendukungnya pula. Orasinya yang menggebu bahkan disampaikan hingga tiga kali. Kata-kata yang tegas dan menenangkan hingga hampir-hampir membuat terlena. Ya, sebagai penonton saya hampir-hampir lupa, siapa sesungguhnya pemilik panggung orasi itu.Selamat, katanya ia akan berjuang terus, semoga menghasilkan buah yang manis dan semoga saja kami tidak perlu membayar untuk buah itu.

Tidak saja mahasiswa sebagai massa aksi dan Bapak pimpinan DPRD DIY itu saja yang berorasi. Ada Wakil Rektor III (Warek III) UII dan alumni Fakultas Hukum UII (FH UII) yang turut bersuara. Bang Daris, sebutan akrab alumni FH UII itu dengan sedikit mengeluarkan gelak tawa memulai orasinya, “Saya mau bicara atas nama siapa, alumni boleh, forum Jogja boleh, LBH Kahmi boleh, banyak jabatan yang melekat, atas nama yang mana.” Hingga akhirnya ia memilih mengatasnamakan diri sebagai alumni FH UII bukan IKA UII. Sekretaris Jenderal (Sekjend) Dewan Mahasiswa UII era ’78 ini berpesan, “Tolong sampaikan kepada Bapak wakil DPRD, tidak ada kekuasaan yang tidak bisa dilawan oleh gerakan mahasiswa. Jadi jangan takut, yang paling penting saudara-saudara tidak larut kalau dibawa makan di istana, tidak larut kalau dikasih beasiswa S2 atau S3. Artinya gerakan mahasiswa tidak boleh dekat dengan kekuasaan tapi dia harus dekat dengan rakyat, ingat itu.”

Para alumni kampus itu semestinya sudah mulai khawatir. Ketika aksi yang semestinya sebagai media bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasinya, kini telah diselami dengan panggung orasi elit politik. Luar biasa, justru pesan itulah yang terbawa pulang sebagai oleh-oleh. Andai saja seorang kawan bertanya dari mana saja saya sore itu, maka jawaban yang terlintas adalah, “Menonton panggung drama pertunjukan orasi politik.”

 

913 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *