Berita Kampus

Ospek Daring, Gaung Ormawa Kurang Nyaring

Foto : Amellya Candra

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Bacaekon.com-Pengalihan kegiatan perkuliahan menjadi daring membuat kegiatan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) cukup banyak beradaptasi. Menyikapi pengalihan menuju Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), banyak mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang pulang ke kampung halamannya. Hal tersebut yang membuat Ormawa terpaksa mengalihkan kegiatannya menjadi daring. Ada beberapa Ormawa yang mampu beradaptasi dengan keadaan pandemi. Namun ada juga Ormawa yang terpaksa kembali beraktivitas hingga pandemi mereda. Di UII terdapat beberapa jenis Ormawa, antara lain Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Study Club, dan lembaga. 

Proses Adaptasi Organisasi Mahasiswa di UII

Berdasarkan hasil reportase pada beberapa Ormawa tingkat universitas dan fakultas di UII, mahasiswa pun cukup sulit untuk menyesuaikan program kerja di sistem daring. Seperti yang telah dimuat oleh LPM Ekonomika beberapa bulan lalu (selengkapnya baca di sini), beberapa event di Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII juga terpaksa digelar secara daring, bahkan ada yang gagal diadakan. Salah satu acara yang berhasil digelar secara daring adalah Indonesia Business Carnival (IBC). IBC merupakan program kerja milik salah satu study club di FBE UII, yaitu Entrepreneur Community (EC). “IBC, kalau offline kan terasa banget event-nya, setelah jadi online nggak dapat gitu vibes event-nya,” ucap Muhammad Fadhli, Ketua Umum EC.

Koperasi Mahasiswa (Kopma) FBE UII juga mengalami kendala yang signifikan di masa pandemi. Kopma melakukan beberapa perubahan pada kegiatannya. “Untuk usahanya sendiri, kita juga lagi cari usaha yang berbasis online. Padahal dulu kita juga ada plan lain di kampus selain mengembangkan toko. Tetapi ya karena Covid ini jadinya kita cari usaha lain lagi,” ucap Fauzan Rasendriya, Ketua Umum Kopma FBE UII.

Begitu juga dengan seluruh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di FBE UII. Salah satu program kerja rutin HMJ adalah Malam Keakraban (Makrab). Tentu Makrab tahun ini cukup berbeda dengan tahun sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Bagus Hardianto, Ketua Umum HMJ Akuntansi (HMJA), “insyaaallah (Magenta –Makrab HMJA) tetap ada, cuman ya walaupun online tetap diadakan. Untuk pendekatannya baru di grup Line saja. Maksudnya untuk interaksi dengan mahasiswa baru melalui daring sebelum dilaksanakan.”

Shubhi Abdul Ghaffar, Ketua Umum HMJ Manajemen (HMJM), mengatakan bahwa Magnificent –Makrab HMJM, akan tetap diadakan. Tetapi untuk kemasan acara serta waktunya masih menjadi diskusi oleh HMJM dan panitia. “Dalam arti, Magnificent adalah sebuah wadah untuk saling mengenal, tetapi kita ada inisiatif selain Magnificent. Kita juga ada solusi lain kalau memang Makrabnya tidak bisa dilakukan,” ucapnya.

Beralih ke kegiatan tingkat universitas, Mahasiswa Pecinta Alam UII (Mapala Unisi), salah satu Lembaga Khusus (LK), cukup sulit untuk menyesuaikan dengan keadaan pandemi. “Dari Mapala sendiri ini kan objeknya kepetualangan dan kepencinta alaman. Sekarang kalau dari Peraturan Rektor dilarang berkumpul dan melibatkan orang banyak masih belum diijinkan,” ucap Arief, Ketua Mapala Unisi. Begitu juga dengan UKM Futsal UII. “Dari kemarin kuliah online sampai sekarang kita benar-benar vakum, tidak latihan sama sekali,” ucap Ardhi Oktavian, Ketua Umum UKM Futsal UII. 

Sedikit berbeda dengan UKM Futsal, Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia (KAHAM) UII lebih mengalami kendala teknis saat berkegiatan selama pandemi. “Kita nggak ada Zoom premium, Google Meet premium, kendalanya hanya di teknis. Sejauh ini kendala-kendala itu masih bisa ditangani dengan tepat,” kata Yusril, Ketua Umum KAHAM UII. 

Beberapa organisasi eksternal juga ikut serta dalam kontestasi Ormawa di UII.  Adithya Dwi Prawiranto, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO UII), menjelaskan bahwa terdapat beberapa kendala dalam kegiatannya. “Ada beberapa kegiatan yang tidak bisa berlangsung secara tatap muka. Artinya kita memang memanfaatkan media,” tutur Adithya. Saat ini HMI tengah membahas kurikulum yang tepat untuk kegiatan HMI selama pandemi. “Selalu ada terobosan baru dan tidak hanya mentok pada diskusi-diskusi online,” ujarnya.

Menyikapi keadaan kuliah yang dialihkan kepada daring, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) langsung beradaptasi dengan menggunakan media. Melalui Najah Shufi, Ketua Umum PMII UII, mengungkapkan “alhamdulillah lancar, sesuai jadwal yang telah disusun, dan kendalanya hanya jaringan di masing-masing daerah kader.”

Pengenalan Organisasi Mahasiswa di Tingkat Universitas

Namun nampaknya bukan hanya adaptasi program kerja saja yang menjadi persoalan bagi Ormawa. Perihal regenerasi organisasi pun menjadi tantangan tersendiri, mengingat setiap Ormawa juga membutuhkan kaderisasi untuk menjaga roda organisasinya. Menjelang semester ganjil, biasanya para pengurus di setiap Ormawa mulai sibuk mempersiapkan perkenalan dengan mahasiswa baru. Rangkaian orientasi mahasiswa baru, baik tingkat universitas maupun fakultas, menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk mengenal berbagai Ormawa. 

Mengingat tahun ini orientasi mahasiswa baru dilakukan secara daring, maka ada sebagian hal yang direduksi dalam pengenalan Ormawa. Pengenalan Ormawa tingkat universitas telah dimanifestasikan di Pesta UII. Biasanya panitia menggelar showcase Ormawa tingkat universitas di boulevard UII. Para mahasiswa baru dapat secara langsung mengunjungi showcase serta dapat melakukan interaksi secara langsung dengan Ormawa.

Namun berbeda dengan tahun ini, panitia Pesta UII 2020 menyediakan booklet yang berisi seluruh UKM. Dalam booklet tersebut berisikan deskripsi, visi dan misi, prestasi, dokumen foto, dan sebagainya. Panitia juga memutarkan video profil organisasi internal saat Pesta UII 2020 berlangsung. Tak lupa juga mengadakan sesi webinar bertajuk Perkenalan Lembaga dan Manajemen Aksi Pesona Ta’aruf 2020. Webinar tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa tingkat universitas (LPM Himmah) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM UII). 

Akbar Daffa Raharja yang biasa disapa Jaja, Ketua Steering Committee (SC) Pesta UII 2020, menyadari bahwa pengenalan organisasi dirasa belum berjalan efektif. “Kalau kita ngomong efisien atau efektifnya, kita panitia juga merasa nggak efisien dan efektif,” ujar Jaja. Ada banyak faktor yang melatar belakangi kekurangan itu. Salah satunya adalah kendala dari masing-masing UKM itu sendiri. “Terlebih kondisi UKM yang ketika kita ajak untuk bantu bikin konten gitu mereka banyak kendala, seperti tidak ada di Jogja atau tidak punya editor video, dan sebagainya,” kata Jaja.

Selain itu, absennya interaksi secara langsung antara organisasi dan mahasiswa baru juga menjadi faktor kurangnya efektifitas pengenalan organisasi. Jaja mengatakan “kalau tahun ini kita menyediakan booklet UKM, jadi teman-teman maba bisa melihat dari booklet UKM, nanti mengunjungi instagram masing-masing. Tetapi untuk interaksi pengurus UKM dengan maba itu belum ada.”

Sebagai tindak lanjut untuk lebih mendekatkan mahasiswa baru dengan kegiatan mahasiswa, juga diadakan Zona Interaksi oleh panitia Pesta UII 2020. “Kita ada juga tuh perkenalan video dari kelembagaan, nah teman-teman maba kan bisa melihat itu karena itu masuk ke dalam Zona Interaksi antara jamaah dan juga wali jamaah. Mereka membahas terkait hal itu (Ormawa -red),” ucap M. Raditya Adhyaksa, Ketua Organizing Committee (OC) Pesta UII 2020.

Panitia Pesta UII 2020 telah menghubungi pengurus dari masing-masing organisasi tingkat universitas untuk pengumpulan video profil. “Untuk pembuatan video sih kemarin dari Kepala Bidang II ada kabar memang ada dari pihak DPM minta video untuk pengenalan dari Mapala. Sebatas itu saja,” ucap Arief.  Perihal kaderisasi menjadi masalah tersendiri bagi Mapala selama pandemi. Terlebih pergantian kepengurusan juga belum dapat dijalankan mengingat pendidikan kaderisasi yang belum terlaksana. “Mungkin bisa juga melalui pendidikan dasar lewat daring, itupun belum terpikirkan bagaimana mekanismenya,” ucap Arief.

Berbeda dengan Mapala yang mengaku telah dihubungi terkait pembuatan video profil. KAHAM UII, melalui Yusril, mengaku belum dilibatkan dalam pengenalan UKM di Pesta UII 2020. “Mungkin dari pihak LEM sudah ada koordinasi, tetapi jika KAHAM ditanya itu tidak ada. Tidak dihubungi secara resmi,” ucap Yusril. Yusril juga mengatakan mungkin ada miskomunikasi dari pihak internal. Ia juga menyayangkan hal ini. Kurangnya interaksi UKM dengan mahasiswa baru disikapi oleh KAHAM UII dengan pengenalan secara masif melalui media sosial. “Kami tidak mengejar kuantitas, akan tetapi kami menitikberatkan pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kepedulian terhadap isu Hak Asasi Manusia (HAM) di masyarakat,” ucap Yusril.

Beralih ke UKM Futsal UII, melalui Ardhi, UKM Futsal telah dihubungi oleh panitia Pesta UII 2020. Namun dari pihak UKM Futsal memutuskan untuk tidak mengirimkan video, mereka hanya menyerahkan media sosial dan kontak narahubung saja. “Buat apa kita tidak ada kegiatan tetapi bikin video. Mungkin bisa tetapi nunggu Rektorat ngijinin kita masuk kuliah dulu. Mungkin kita baru geraknya (memperkenalkan UKM Futsal UII) di situ,” ujar Ardhi. Selama pandemi ini UKM Futsal tidak melakukan rekrutmen anggota. “Kita bisa oprec ketika kuliah offline dijalankan,” kata Ardhi.

Selaku ketua SC Pesta UII 2020, Jaja pun juga menyadari bahwa pengenalan organisasi melalui Pesta UII 2020 masih terdapat banyak kekurangan. “Tentunya pasti ada minusnya dari pelaksanaan ini. Dan itu sudah kami pikirkan bagaimana solusinya. Interaksinya juga minim karena nggak ada pengurus UKM yang langsung datang. Pertama teknis, kita belum menemukan teknis yang nyaman untuk kedua belah pihak,” kata Jaja.

Pengenalan Organisasi Mahasiswa di Tingkat Fakultas

Mengingat regenerasi Ormawa begitu penting, pengenalan organisasi juga dituangkan dalam rangkaian acara Semata UII 2020. Mula-mula panitia Semata UII 2020 menghubungi setiap perwakilan dari tiap organisasi. Kemudian panitia memberikan opsi apakah organisasi tersebut melakukan pembuatan video secara mandiri atau juga dapat melakukan pembuatan video dibantu oleh Divisi PDD. Durasi video ditentukan maksimal 7 menit, dengan isi konten yang sepenuhnya dilimpahkan kepada masing-masing organisasi. Dari seluruh video yang diputarkan umumnya berisi struktur, fungsi, program kerja, dan lain-lain yang berhubungan dengan organisasinya.

Reporter kami telah menghubungi beberapa lembaga dan study club di FBE UII. Antara lain HMJIE, HMJA, HMJM, Kopma, dan EC. Seluruhnya mengaku telah dihubungi oleh panitia dan dilibatkan pada pembuatan video profil. Mereka pun turut mengapresiasi ketanggapan panitia dalam membantu pengenalan organisasi. “Lumayan bagus dalam taraf koordinasinya. Ketika mereka tidak paham struktur dari video kita seperti apa itu mereka tanya ke kita,” ucap Try Anugrah, Ketua Umum HMJIE. 

Namun ada satu hal yang menjadi evaluasi. Kurangnya interaksi mahasiswa baru dengan pengurus organisasi menjadi persoalan tersendiri. “Walaupun online, kita berharap banget sebenernya bisa berinteraksi dengan maba secara langsung melalui kegiatan online. Jadi kita bisa berinteraksi secara langsung, bisa wawancara,” ucap Try. HMJIE juga berupaya untuk memperkenalkan pendidikan serta objek pembelajaran di jurusan Ilmu Ekonomi kepada mahasiswa baru.

“Ya menurut saya itu (video profil –red) kurang ya. Karena timbal balik atau tanya jawab itu tidak ada. Karena orang baru pasti ada yang penasaran, otomatis tidak ada interaksi langsung. Udah nggak dapat feel-nya. Seharusnya diadakan bareng-bareng itu live streaming,” ucap Ketua Umum Kopma FBE UII. Terlebih ketika pemutaran video profil oleh Kopma sempat terjadi kendala. “Kenyataannya tadi juga pas Kopma itu sempat terputus di tengah-tengah. Padahal video itu sangat penting untuk promosi lembaga kita. Saya pribadi sangat menyesalkan, sih,” ucap Jaisya Dafa, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kopma FBE UII.

Sementara itu HMJM juga mengungkapkan hal yang sama. “Soalnya, sejauh pandangan saya dari video itu masih agak ragu. Kenapa nggak langsung turun (live streaming –red) gitu, loh. Kami aja yang nyampein. Soalnya kalo dari video pastinya kurang luaslah untuk menyampaikan,” ucap Ketua Umum HMJM. Di samping itu, HMJM juga sibuk melakukan branding untuk himpunannya di media sosial.

“Buat lembaga seharusnya itu ada sesinya, ya. Walaupun entah itu 15 atau berapa menit. Itu pasti beda secara disampaikan melalui video dan interaksi langsung. Harapannya juga ya bisa ada sesi bener-bener gitu, loh,” ucap ketua HMJA. Untuk mendekatkan diri kepada mahasiswa baru, HMJA mencoba secara aktif melakukan komunikasi melalui media daring seperti Zoom dan Google Meet.

Sedikit berbeda dengan pendapat-pendapat di atas, Fadhli, Ketua Umum EC cukup memberikan apresiasi kepada panitia Semata UII 2020. “Menurut saya dengan ditampilkan videonya itu sudah optimal. Mungkin kalau kita ada perwakilan untuk live streaming itu pasti ada resikonya. Tetapi kalau kita optimalkan di video itu mungkin bisa mencapai sasaran kita. tergantung kita mengemasnya kayak gimana,” tutur Fadhli. Selama masa pandemi ini EC sibuk memproyeksikan program kerjanya selama 1 periode ke depan, dengan menimbang kondisi yang terbatas pada sistem daring.

“Untuk pengenalan lembaga itu di awal sebenernya mau secara sinkron atau live, cuma ya seiring berjalannya waktu, banyak masukan jadi kita memutuskan pengenalan lembaga kita adakan secara asinkron dengan take video sebelumnya. Itu juga sudah usulan dari Dekanat sih untuk pengenalan lembaga dan UKM secara itu,” ujar Nanda Anata, Ketua OC Semata UII 2020.

Namun untuk memaksimalkan pengenalan lembaga, Nanda mengatakan juga akan dilakukan acara pasca Semata. Acara tersebut berbentuk live streaming menggunakan platform daring yang melibatkan pengurus organisasi secara langsung. Maka dari itu harapannya dapat memperbaiki interaksi pada pengenalan organisasi mahasiswa kepada mahasiswa baru. “Nah itu kan sudah sempat saya bilang, di pasca tadi rencananya akan dikenalkan lembaga, itu mengadakan live atau talkshow tiap lembaga,” ucap Nanda. Tetapi sampai berita ini diterbitkan (04/10) belum ada kegiatan Pasca Semata yang dimaksudkan di kanal media sosial Semata UII 2020.

Pengenalan Organisasi Eksternal

Masih seperti tahun sebelumnya, panitia mengaku tidak memberikan ruang bagi organisasi eksternal untuk unjuk gigi di perhelatan Pesta UII 2020. “Tetapi untuk eksternal, sejauh ini kita nggak ada kaderisasi ke sana sih, Mbak. Sebagai ketua SC saya tidak ke sana,” ucap Jaja. Namun ada sedikit perbedaan dengan tahun lalu. Jika tahun lalu pada Pesta UII 2019 terdapat aturan legalitas yang cukup kuat, di Pesta UII 2020 tidak ada legalitas yang mengatur. Misalnya di tahun kemarin terdapat aturan bahwa organisasi eksternal hanya boleh membuka stand, namun tidak diperbolehkan memasang atribut dan menyebar brosur (selengkapnya baca di sini). Di tahun ini tidak ada aturan yang seperti itu. “Tetapi kalau untuk larangan aturan sampai kepada wilayah harus begini, seperti ini, saya pikir tidak kita masukkan,” ucap Pancar Setiabudi, Ketua Umum LEM UII.

Meskipun secara kegiatan disebutkan bahwa tidak ada pengenalan organisasi eksternal, pengenalan HMI secara historis juga ikut dipaparkan oleh Febrian Ramadhani, Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM UII) pada sambutannya. Menurut Pancar itu bukanlah suatu masalah, “artinya itu merupakan penyampaian secara sederhana atas dasar historis yang terjadi di UII. Jadi kalau semua kebebasan berbicara itu diatur ya makanya kita tidak akan menjadi manusia yang merdeka,” katanya.

Menyikapi tidak adanya ruang bagi organisasi eksternal pada pengenalan organisasi di UII, maka dari itu PMII UII dan HMI UII memiliki strategi sendiri untuk memperkenalkan organisasinya kepada mahasiswa baru. “Kami mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui teman-teman alumni dari sekolah yang sama, atau daerah yang sama, kemudian kami jaring yang nantinya kami masukkan ke grup pra pendaftaran PMII,” ucap Shufi. PMII merasa perlu untuk menghidupkan kembali akun media sosial PMII UII, terutama PMII rayon FBE UII.

Di samping itu, Adithya juga memaparkan strategi HMI untuk mendekatkan diri dengan mahasiswa baru. “Saya pikir bukan hanya organisasi HMI saja yang menjemput bola, dan memang kita memanfaatkan media sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada maba,” ucap Adithya. 

Reporter : Abinaya, Ikrar, Arul, Retno, Salwa, dan Utami.

Editor : Retno

163 Total Views 2 Views Today

1 thought on “Ospek Daring, Gaung Ormawa Kurang Nyaring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *