Berita Yogyakarta

Nostalgia Anak Tahun 90-an di Pasar Kangen Yogyakarta

Foto : Gilang

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Silakan datang ke Pasar Kangen, rasakan makanan lawas, biar semakin mengerti apa itu Indonesia. –Ale, Panitia Penyelenggara Pasar Kangen

Tahun 90-an merupakan tahun yang banyak dibicarakan dan dirindukan. Pasar Kangen menyuguhkan suasana pada masa 90-an selama Sembilan hari sejak dibuka pada 12 Juli 2019 sampai 20 Juli 2019 mendatang. Acara ini diadakan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta di Halaman Taman Budaya Jl. Sriwedari No. 1 Yogyakarta.

Pasar Kangen merupakan agenda tahunan Yogyakarta yang sudah berjalan selama 14 tahun. Berangkat dari berkumpulnya para kolektor dan pedagang barang antik, hingga sekarang berkembang menggandeng para pengusaha makanan tradisional dan para pengrajin seni kriya. Dengan menghadirkan 90 tenant kerajinan dan barang antik serta 150 tenant kuliner yang keduanya telah melalui proses seleksi. Antusiasme para pedagang terbilang cukup tinggi, dibuktikan dengan jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 1000 pengusaha. Panitia memberlakukan seleksi pada pedagang yang ingin berkontribusi dengan beberapa kriteria. Kriteria barang lama adalah barang yang maksimal masuk tahun 1990. Kriteria kerajinan adalah kriya yang tidak memakai alat, maksudnya hasil dari buatan tangan, seperti goni, kanvas, dll. Kriteria kuliner adalah yang murni makanan lama, bukan hasil pengembangan. Khusus kuliner panitia menetapkan harga maksimal penjualan Rp 10.000, untuk memastikan makanan yang dijual dapat terjangkau oleh semua pengunjung.

Tidak hanya menghadirkan suasana zaman dulu, Pasar Kangen juga berniat untuk memperkenalkan kuliner, barang-barang, serta kebudayaan zaman dulu kepada para generasi muda, “kalo anak kecil sekarang udah main gadget kita memperkenalkan ada workshop bikin gerabah, ada juga melukis, perahu-perahuan, banyak lagi,” ucap Ale, selaku panitia penyelenggara. Tujuan jangka panjang yang ingin diraih adalah untuk mengingatkan masyarakat pada budaya Indonesia sendiri. “Biar masyarakat masih mempertahankan nilai-nilai kebudayaan, kita bisa seperti sekarang ini karena hal-hal seperti ini (barang-barang lama –red), makanan bisa seperti sekarang karena ada makanan-makanan sederhana seperti ini gitu (makanan-makanan lama –red),” pungkas Ale.

Antusiasme masyarakat terbilang tinggi, menurut Ale setiap harinya ada sekitar 10-15 ribu pengunjung yang datang, pada Hari Sabtu dan Minggu bisa mencapai 20 ribu pengunjung. Antusiasme masyarakat terhadap keberadaan Pasar Kangen juga dirasakan oleh para penjual. Seperti menurut Eko Kuswanto, kolektor dan penjual barang-barang lama, “Dulu tidak seramai ini, hanya beberapa pedagang saja. Sekarang pengunjungnya banyak, responnya juga bagus. Menurut saya berhasil lah acaranya.” Adanya Pasar Kangen berhasil mempertemukan para penjual barang-barang lama dengan kolektor, sehingga dapat menaikkan keuntungan, “barang seperti ini kalau di rumah belum tentu laku, kalau disini kan mengundang pengunjung, jadi pasti laku,” tambah Eko. Pasar Kangen juga menjadi ajang bagi kolektor untuk mengupgrade koleksinya. “Senang kalo senang tok ya nggak berputar kan.  Jadi upgrade barang-barang baru,” Pungkas Eko.

Banyak dampak positif yang ditimbulkan oleh event ini, salah satunya adalah memperbaiki perekonomian pedagang, utamanya bagi anak muda yang memiliki bisnis. Sesuai dengan pernyataan Dewa, pemilik Kedai Kopi Lotsee, “Dengan adanya Pasar Kangen temen-temen yang punya produk dan punya karya bisa bergabung, membantu perekonomian sih, apalagi untuk pedagang kuliner. Sama temen-temen seniman sekalian bisa pameran dan jualan.” Menurut pengakuan Dewa, ia bisa mendapat keuntungan omset sebesar 100-300% (laba kotor) dari hari-hari biasa. Proses penyeleksian objektif memilih para pedagang yang sesuai dengan esensi Pasar Kangen, “Yang bisa lolos seleksi karena emang kuliner yang nyeleneh, bukan yang kekinian,” tambah Dewa. Untuk berjualan di Pasar Kangen juga tidak dipungut biaya sama sekali. Seluruh rangkaian acara selama Sembilan hari didanai oleh Dana Keistimewaan 2019 dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut Dewa, Pasar Kangen adalah momentum yang pas untuk mengenang masa kecil, “orang-orang kesini karena kangen, kayak aku nih kelahiran 90an, cari barang-barang lama semua ada disini.” Pasar kangen berhasil mengemas suasana zaman dulu menjadi satu frame di Halaman Taman Budaya. Banyak kuliner tradisional yang bisa dicoba dengan harga terjangkau, juga sekadar melihat-lihat barang-barang lama, diiringi dengan pertunjukan seni tradisional sempurna membawa pengunjung bernostalgia dengan masa kecilnya. “Bagus sih memperkenalkan budaya, ada memperkenalkan makanan jadul, ada pameran, ada jual barang vintage, pameran seni, ada ketoprak, bagus sih,” ucap Pita mendukung, seorang pengunjung Pasar kangen.

Kondisi Pasar  Kangen yang ramai pengunjung juga menyisakan masalah, yaitu perihal sampah. “sampahnya luar biasa banget dimana-mana, himbauan buat masyarakat buat sampahnya lebih digiatkan lagi,” saran Pita. Bungkus-bungkus makanan banyak terlihat di lokasi Pasar Kangen. Alangkah lebih baik apabila suksesnya acara Pasar Kangen juga menjadi sebuah rekreasi yang bersih dari sampah.

Reporter : Ikrar, Gilang

Editor : Azizah

201 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *