NONSENSE

NONSENSE

(Sumber foto: Riwayatkata.com)

Oleh: Restin Septiana

“Heh Lu, denger kagak dosen tadi ngomong apa, tadi lho yang sebelum kelas selesai.

“Apa memang? Tak denger aku, sibuk japri agenda rapat nanti malem.”

“Katanya, ah apalah mahasiswa sekarang ni, cuma bisa teriak-teriak tentang idealisme. Tapi lihat saja nanti kalau sudah lulus, hilang sudah semua omongannya itu.”

Bacaekon.com-Opini. Idealisme memang tidak saja lekat dengan mahasiswa, tapi ia juga dekat dengan setiap insan manusia. Apalagi kalau sudah menyangkut cita-cita atau pikiran yang dianggap benar sehingga dijadikannya sebagai acuan sempurna. Lantas begitulah mereka akan membela idealismenya dan berusaha mewujudkannya, maka barangkali itu pula yang akan menuntunnya pada langkah yang amat mulia demi mendekati patokan sempurna itu. Hingga boleh jadi tidak segan pula ia akan menjadikan kawan sebagai lawan atau lawan sebagai kawan. Selamat mencoba.

Kau tahu, dahulu seorang temanku pernah berkata, “Kenikmatan tertinggi mahasiswa adalah idealismenya.”

Ya sah-sah saja, karena rasanya memang nikmat, seperti makan popcorn kala nonton. Berbicara tentang idealisme, cita-cita keumatan (eh, umat apa dan siapa maksudnya? Entahlah), berorasi sana sini, berdiskusi kemana-mana, mulia sekali memang yang dilakukan untuk mencapai idealisme itu. Tapi kuliahmu gimana? Tugas kuliah sudah dikerjakan? Loh, kok malah jadi ngomongin akademik. Apa tidak bisa dipisahkan saja, antara idealisme di bidang akademik dengan segudang aktivitas kampus lainnya? Yang mengejar akademik ya silahkan, yang suka dengan bidang-bidang lainnya ya silahkan, apa begitu saja enaknya?

Seorang senior yang tidak pernah menjadi senior itu berkata, “Dek, kamu bisa melakukan apa saja untuk mencapai idealismemu, tapi ingat kuliah juga untuk mewujudkan idealisme, KKN juga untuk mewujudkan idealisme, menyelesaikan skripsi juga idealismu.”

Nah, bagaimana ini, kalau yang meneriakan idealisme saja lebih memilih bolos kelas saat kuliah atau titip absen atau titip jari untuk finger print (astaghfirullah, rasanya tidak mungkin), atau menyontek saat ujian, atau yang suka mengumbar janji di depan khalayak, atau dan atau yang lainnya? Eh, apa tidak ada jalan menyeimbangkan semuanya, orang bilang sih itu konsekuensi. Seperti yang di stiker-stiker itu, katanya resiko ditanggung penumpang. Tapi apa tidak malu, kalau ia yang memiliki keinginan mulia ingin membantu orang lain ini, malah belum tentu adil pada dirinya sendiri, kedua orang tuangnya, atau siapalah. Kau ingat, ketika ada acara Inspiring Beauty itu, pembicaranya waktu itu adalah Hanum Rais, seorang penulis, ia mengatakan bahwa kalau kau memiliki kemampuan atau potensi yang bermanfaat bagi orang lain, jangan lupa lakukan itu untuk memberi manfaat kepada dirimu sendiri terlebih dahulu. Agar dirimu juga merasakan haknya.

Barangkali kau ingat pula pada salah satu kalimat dari seorang Pramoedya Ananta Toer, “Seorang Terpelajar Harus Sudah Berbuat Adil Sejak dalam Pikiran, Apalagi dalam Perbuatan.” Seorang terpelajar loh, masa adilnya hanya pada wacananya saja atau pada golongannya yang sana-sini itu? Masalah perbuatan belakanganlah. Loh, yang penting bukankah sudah niat untuk berbuat kebaikan, entah itu untuk siapa. Seperti yang diungkapkan oleh filsuf Barat, Immanuel Kant, ”Sesuatu yang mutlak baik adalah tindakan yang ingin dilakukan di dunia ini.” Namun kok menurut Fazlur Rahman, seorang sarjana muslim, dalam bukunya, “Islam Modern : Tantangan Pembaruan Islam”, yang dicetak pertama kali pada tahun 1987 ini, mengungkapkan bahwa memang menurut Islam, keinginan yang baik atau kehendak untuk berbuat baik adalah baik. Namun Islam jauh lebih menghargai perbuatan baik yang telah dilakukan.

Rumit juga ya, pertama kita punya idealisme, kemudian dengan segala daya upaya pun terbesit keinginan untuk mencapai tahap idealisme itu, lantas ada adil yang enggan untuk dinomor duakan, apa harus ada yang tersakiti karena cita-cita terhadap kebenaran yang di anut masing-masing?

Sedikit enggan memang kini, terlalu sering mendengar buai cita-cita indah yang diidam-idamkan oleh para orator ulung penakluk hati itu. Meski entah apa kerjanya, yang penting terlihat dululah. Hah memang, era jagoan bicara telah berakhir, kini jagoan itu hanya akan dihormati kalau mereka punya karya, punya langkah, begitulah yang diungkapkan oleh Rhenald Kasali di bukunya, “30 Paspor di Kelas Sang Profesor.”

 

 

614 Total Views 3 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *