Berita

Napas Perjuangan Wadon Wadas dalam Balutan Anyaman Besek

Foto : Kevin Ahmad Anandy

Narasi : Khairul Raziq

Selain itu, dirinya juga menyayangkan proses pengambilan batuan andesit yang dilakukan melalui cara yang tidak pantas. “Mereka mengambil yang di Wadas itu berkali-kali lipat. Cara yang digunakan itu harus dibom. Itu kan dekat rumah saya, kalau dibom itu sak-RT hancur, bagaimana? Itu tempat saya!” keras Urip. 

Bacaekon.com-Senin (09/08) di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Wadon Wadas mengawal berjalannya sidang ketiga yang dilayangkan kepada Ganjar Pranowo. Sekitar puluhan kaum puan tersebut hadir memadati lapangan parkir PTUN Semarang. Wadon Wadas adalah sekelompok orang yang merepresentasikan perempuan yang berkedudukan serta berkehidupan di Desa Wadas. “Merupakan bagian dari Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa). Di situ tidak ada struktural, bergeraknya bareng-bareng atas dasar kesadaran masing-masing,” tutur Arifah yang merupakan bagian dari Wadon Wadas. 

Eksistensi mereka dalam agenda sidang ketiga yang berlangsung bukan tanpa sebab. Digelarnya aksi teatrikal dengan membuat besek (kantong dari anyaman bambu) di halaman PTUN merupakan simbol perlawanan atas lokasi tambang kuari yang dipergunakan untuk pembangunan Bendungan Bener. “Ini sebagai simbol kedekatan perempuan dengan kekayaan alam yang ada. Dari tradisi, sosial, dan budaya yang ada itu kita sudah menyatu sejak leluhur,” jelas Arifah.

Teriknya cuaca tak sedikitpun menyurutkan semangat mereka dalam menolak proyek rencana pertambangan andesit di Desa Wadas. “Itu setiap hari kita buat besek untuk cari uang,” tutur Urip, seorang ibu dengan usia 45 tahun. Keseharian Urip adalah berprofesi sebagai petani dan mengolah pohon kayu menjadi anyaman besek. Tercetusnya perpanjangan Izin Penetapan Lokasi (IPL) dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 590/20 Tahun 2021 tentang Pembaruan Atas Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Wonosobo membuat Urip bersedih hati dan kebingungan. “Lah, kalau digusur mau makan dari mana? Semuanya hasil alam itu ada dari tanah itu,” ujarnya. 

Urip menceritakan perasaannya. Sedari awal ia dan semuanya sudah tidak mau menerima rencana tersebut. “Dari awalkan saya sudah menolak, sampai kapanpun saya tetap menolak!” tegasnya. Selain itu, dirinya juga menyayangkan proses pengambilan batuan andesit yang dilakukan melalui cara yang tidak pantas. “Mereka mengambil yang di Wadas itu berkali lipat. Cara yang digunakan itu harus dibom. Itu kan deket rumah saya, kalau dibom itu sak-RT hancur bagaimana? Itu tempat saya!” keras Urip. 

Dalam aksi yang berlangsung, sayup terdengar lantunan lagu Ibu Pertiwi dari mini konser oleh peserta aksi yang semakin menambah khidmat Wadon Wadas dalam menganyam. Besek yang telah dianyam tentu tidak dibiarkan kosong. Lentik jari kreativitas Ibu-Ibu Wadas juga mencoba untuk memadukannya dengan hasil alam yang diolah menjadi makanan jadi lalu diisi ke dalam besek yang akan dibagikan ke masyarakat sebanyak 234 buah di sekitar PTUN Semarang. 

Kuantitas makanan yang dibagikan juga tidak hanya berupa angka. Filosofi angka 234 itu diketahui sebagai simbol pengingat peristiwa represifitas dan kekerasan aparat polisi di Desa Wadas pada 23 April 2021. Yang mana agenda tersebut berhasil menimbulkan aksi saling dorong antar pihak aparat dan warga yang menolak. “Didorong-dorong teman saya sampai ada yang dipukuli sampai berdarah, sampai nangis saya,” pungkas Urip.

Menyambung Urip, Yani menjelaskan lebih jauh mengenai urgensi diadakannya aksi teatrikal tersebut. Berdirinya pohon bambu sebagai salah satu lumbung pencaharian Ibu-Ibu Wadas, tidak bisa dipungkiri akan memberikan dampak yang signifikan jika penambangan berlangsung. Pasalnya, “karena itu (besek) pekerjaan kami di Wadas, ya. Di situ kita jadikan ladang pekerjaan. Menganyam besek itu sudah dari dulu, nenek moyang kita juga membuatnya,” jelas Yani. Penghasilan yang diperoleh juga digambarkan olehnya. “Satu batang itu biasanya dapat memberikan nilai tambah Rp50.000 dibanding langsung dijual. Lima kali lipat nilai jualnya per batang jika tidak diolah,” ucapnya.

Lebih lanjut, Yani menggambarkan dampak yang akan dirasakan olehnya serta warga lainnya. Menurutnya, dirinya dan juga seluruh penduduk Wadas akan kehilangan semuanya. “Ibarat rumah, kita itu akan hancur semua. Kita tidak tahu mau tinggal di mana,” ungkapnya. Ketika ditanyai mengenai insentif pemerintah, Yani tidak mengindahkan hal tersebut. “Yang jelas kita ga mau membicarakan ganti rugi atau ganti untung. Kita tetap menolak. Bumi harus diselamatkan, dijaga, dan dilestarikan untuk anak cucu nanti,” tegasnya. 

Terakhir, Yani berpesan kepada semua Warga Wadas untuk terus selalu semangat dalam mengawal berjalannya kasus hingga selesai. Urip juga menyampaikan hal yang serupa. Pasalnya hal itu (penambangan) menurutnya tidak akan hanya menimbulkan kerusakan di Wadas, tetapi juga akan merambah ke daerah sekitar. Terakhir, dirinya berpesan kepada pihak pemerintah “Cabut IPL di Wadas!” pungkas Urip. 

Reporter : Khairul Raziq dan Aulia Hibatullah

Editor : Retno Puspito Sari

238 Total Views 5 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *