MODEL UNITED NATION: MELATIH MAHASISWA BERPIKIR “MENDUNIA”

MODEL UNITED NATION: MELATIH MAHASISWA BERPIKIR “MENDUNIA”

(Foto : www.munika.kit.edu)

Oleh : Idznila Shabrina

            BACAEKON.COM-OPINI. Mahasiswa sebagai salah satu aset bangsa tentu sadar bahwa medan perang sesungguhnya bagi mereka bukanlah sekedar ujian komprehensif mahasiswa, sidang skripsi, atau kompetisi mendapat beasiswa LPDP atau IDP untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, tapi kehidupan di era global di masa depan. Mahasiswa saat ini tentu harus mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi berbagai macam tantangan ditengah-tengah zaman dengan ciri persaingan ketat, perubahan cepat, dan ketidakpastian sangat tinggi. Mahasiswa perlu melatih keterampilan-keterampilan khusus (soft-skill) mereka agar memiliki keunggulan bersaing. Salah satu amunisi terampuh bagi mahasiswa dalam mempersiapkan bekal masa depannya adalah dengan berorganisasigar tahu bagaimana cara memanajemen sumber daya yang tersedia, mengikuti konferensi untuk saling bertukar pikir, dan berkarya demi mencapai eksistensi diri.

            Banyak wadah yang tersedia bagi mahasiswa untuk mengembangkan pola pikir serta karakternya selama menjalani studi di perguruan tinggi. Kesempatan-kesempatan untuk bergabung dengan organisasi-organisasi tingkat fakultas maupun universitas terbuka luas. Tak hanya organisasi, seminar atau konferensi serta workshop bisa juga mereka ikuti. Selain menambah relasi dan membangun jaringan, mengikuti seminar, konferensi atau workshop tentu dapat mengasah berbagai kemampuan yang dimiliki oleh para mahasiswa. Salah satu ajang popular yang juga memberi manfaat besar bagi mahasiswa, serta merupakan lading menggali ilmu adalah konferensi Model United Nation. Model United Nation (MUN) sendiri adalah sebuah konferensi simulasi sidang PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang seringkali diselenggarakan oleh banyak universitas di dalam maupun luar negeri. Konferensi MUN ini ada yang berskala nasional maupun internsional. Beberapa contoh MUN skala internasional yang rutin diselenggarakan adalah HNMUN (Harvard National MUN), TEIMUN (The European International MUN), LIMUN (London International MUN), OXIMUN (Oxford International MUN) (Sumber: http://bit.ly/2nswhjw). Di Indonesia sendiri, tentu juga ada universitas-universitas yang menyelenggarakan MUN, seperti Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat; Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Universitas Brawijaya di Malang, bahkan Universitas Islam Indonesia sendiri pun telah menyelenggarakan sebanyak dua kali simulasi sidang PBB ini di tahun 2014 dan 2015, serta akan menyelenggarakan konferensi ketiga Mei 2017 mendatang ujuan dari diselenggarakannya konferensi-konferensi ini adalah untuk mengasah kemampuan diplomasi mahasiswa yang di dalamnya mencakup kemampuan berbahasa asing (Inggris), kemampuan verbal dalam hal public speaking, kemampuan menganalisa suatu kasus, serta melatih mahasiswa untuk mau tahu mengenai isu-isu internasional serta solusi yang dapat mereka tawarkan, serta mempertajam kemampuan mahasiswa dalam bernegosiasi untuk mencapai sebuah resolusi.

            Dalam simulasi sidang PBB ini, mahasiswa dari seluruh dunia yang ikut serta sebagai peserta disebut dengan delegasi. Para delegasi tersebut nantinya akan mewakili negara-negara tertentu dan seolah-seolah menjabat sebagai salah satu staf council atau dewan PBB. Selama acara berlangsung, delegasi akan diberikan sebuah isu internasional dan bersama-sama bertukar pikiran mengenai bagaimana isu tersebut akan diselesaikan dengan baik. Tak hanya pengalaman bertukar pikiran, delegasi juga berkompetisi baik dalam tim maupun individu untuk mendapat awards atau penghargaan-penghargaan tertentu dalam sidang MUN tersebut, salah satu penghargaan yang dapat diperebutkan delegasi adalah diplomacy awards atau penghargaan diplomasi yang akan diberikan kepada delegasi dengan kemampuan berdiplomasi terbaik.

            Selain simulasi sidang PBB, ada banyak kegiatan yang berlangsung dan termasuk dalam rangkaian acara MUN, namun, tidak semua penyelenggara MUN memfasilitasi peserta atau delegasi dengan kegiatan lain selain simulasi sidang. Salah satu kegiatan menarik yang hampir selalu ditawarkan penyelenggara MUN adalah city tour atau rekreasi dalam kota. Tujuannya adalah mengenalkan budaya negara atau kota tempat berlangsungnya MUN tersebut. Untuk biaya yang harus dikeluarkan oleh setiap delegasi yang akan mengikuti MUN tentu tergantung pada lokasi MUN yang akan diikuti, jika lokasinya berada di Eropa tentu akan lebih mahal dibandingkan dengan MUN yang diselenggarakan di Indonesia atau Asia, tergantung juga pada kurs mata uang saat itu. Sebagai gambaran, LIMUN yang diselenggarakan tahun lalu di London Imperial College merogoh kocek hingga 70 Pound Sterling (GBP) atau setara dengan Rp 1.141.000,- sekarang (kurs mata uang per 10 Maret 2017) hanya untuk mengikuti konferensi atau simulasi sidangnya saja. Dengan harga tersebut, tiap delegasi mendapat fasilitas berupa dua kali makan siang selama simulasi sidang berlangsung. Sedangkan salah satu contoh biaya konferensi MUN di Indonesia adalah sebesar Rp 150.000,- untuk UII-MUN dengan skala nasional pada tahun 2015 (Sumber: https://limun.org.uk/terms).

            Generasi mahasiswa sekarang yang nantinya dituntut untuk memajukan bangsa Indonesia dari segala sektor tentu sebaiknya bisa ikut andil dalam simulasi sidang PBB ini. Apalagi, jika delegasi dari Indonesia dapat meraih penghargaan-penghargaan, semakin menunjukkan eksistensi negara berkembang ini di dunia internasional. Meski acara ini tergolong tidak murah, namun dapat berpartisipasi dalam ajang model united nation tentu memberi dampak besar bagi para mahasiswa serta lingkungannya.. Selain pengalaman, mahasiswa juga dapat semakin sadar akan isu-isu internasional terhangat dan dapat berkontribusi secara nyata untuk memberi solusi cerdas atas isu-isu tersebut.

27793 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *