MILEA, SUARA DARI DILAN

MILEA, SUARA DARI DILAN

(Foto : Grobmart.com)

Oleh: Dyah Kartika Putri

Judul : Milea Suara dari Dilan (Dilan)
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Tahun Terbit : 2016
Jenis Buku : Romance, Fiksi
Cetakan : Kesatu, 2016
Jumlah Halaman : 360 Halaman
ISBN : 978-602-0851-56-3

“Teoriku tentang garis lurus gerak lurus menjadi berubah tidak beraturan, apabila gerak lintasannya berubah menjadi gerak tidak lurus. Itu seperti aku yang bergerak mencari kecepatan. Sekarang berapa jarak yang harus aku tempuh? Berapa waktu yang aku butuhkan untuk bisa bertemu denganmu?” ( Dilan. Jarak dan Waktu, hal 357)

BACAEKON.COM-REKOMENDASI. Novel ketiga dari Pidi Baiq ini berjudul “Milea, Suara dari Dilan” yang merupakan lanjutan dari novel pertama berjudul “Dilan : Dia adalah Dilanku 1990” kemudian novel keduanya berjudul “Dilan : Dia adalah Dilanku 1991”. Milea, Suara dari Dilan lebih menceritakan tentang persahabatan, keluarga dan cinta yang lebih terasa lekat dalam perjalanan hidup seorang Dilan.
Novel Dilan yang pertama lebih menceritakan mengenai Dilan versi Milea, dengan segala tingkah Dilan yang konyol semasa SMA dan penuh cerita. Dalam novel itu diceritakan awal kisah cinta Milea dan Dilan, bagaimana Milea pertama berkenalan dengan Dilan, tingkah Dilan yang selalu ada-ada saja, berubah sok-sok jadi peramal dengan nge-ramal Milea, kemudian memberi hadiah Teka-Teki Silang (TTS) yang sudah diisi oleh Dilan, dan juga cerita Dilan dengan geng motornya.
Kemudian dalam novel Dilan yang kedua menceritakan bagaimana kelanjutan kisah percintaan Milea dan Dilan. Bagian awal menceritakan mereka jadian, kemudian ada perkelahian Dilan dengan geng motor lain, mengambarkan betapa cemasnya Milea dengan tingkah Dilan yang selalu membuat dia khawatir akan keselamatannya, kemudian Dilan sempat ditahan di kantor polisi, kemudian putusnya hubungan mereka berdua.
Di novel Dilan yang ketiga berjudul “Milea, suara dari Dilan”, pastilah akan membuat penasaran orang-orang yang telah mengikuti novel Dilan 1 dan 2, ingin mengetahui bangaimana cerita versi Dilan, bagaimana tangapan Dilan tentang cerita Milea selama ini, serta bagaimana perasaan Dilan.
Novel Dilan yang ketiga ini lebih banyak menceritakan orang-orang di sekeliling Dilan di mana merekalah yang sedikit banyak telah memberikan pengaruh pada pribadi Dilan. Pada bagian awal novel Dilan banyak bercerita mengenai keluarga Dilan seperti kedekatan Dilan dengan Ayah dan Bunda yang tentu saja tidak banyak diceritakan oleh Milea, kemudian Dilan juga menceritakan mengenai masa remajanya di mana Dilan dengan sepedanya yang dia beri nama mobil derek bin kontainer, tempat nongkrong Dilan serta teman bahkan sahabat dekatnya Burhan, Akwe, Anhar dan yang lainnya.
Pastilah yang dinanti pada bagian ini, penggambaran Milea oleh Dilan sang Panglima Tempur sewaktu SMA, di sini Dilan menceritakan perasaan setelah pacaran dengan Milea, “Aku senang akhirnya bisa berpacaran dengan Lia. Bagiku Lia adalah perempuan yang memiliki semua yang aku sukai. Aku suka ketika dia ketawa. Aku suka ketika dia tesenyum. Aku suka ketika dia bicara, Aku suka ketika dia memelukku di atas motor. Aku suka ketika dia meladeniku bicara,” Dilan, hlm. 70.
Peristiwa mengenai pengeroyokan, atau balas dendam yang sedikit banyak telah diceitakan Milea dengan ketakutannya, di sini Dilan menceritakan alasan mengapa dia tetap melakukan pembalasan malam itu, kemudian soal tertangkap polisi hingga sempat diamankan polisi juga diceritakan. Namun yang menjadi poin di sini bukan soal berlanjut atau tidaknya hubungan mereka berdua, karena mungkin sebagian yang mengikuti Novel Dilan 1 dan 2 pasti sudah menduga akan seperti apa akhir kisah mereka.
“Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu,” Pidi Baiq.
Di dalam novel ini kita juga akan dibuat campur aduk dengan perasaan Dilan dan Milea yang dipertemukan kembali namun sudah dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Buku ini memberikan pelajaran mengenai kedekatan kita kepada teman, sahabat, bahkan bagaimana menyayangi kedua orang tua, serta bagaimana perlakuan kita terhadap orang lain. Pidi Baiq sangat baik menggambarkan bahwa jodoh memang di tangan Tuhan. Namun sayangnya dibandingkan dengan dua buku terdahulunya, gaya bahasa dalam buku ketiga ini agak kaku dan terjemahan bahasa daerah atau bahasa Sunda yang terlalu banyak. Meskipun begitu ending cerita dari buku ini yang membuat kecewa dan bisa ditebak.

5589 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *