Berita Yogyakarta

Merawat Ingatan dan Melawan Impunitas bersama Aksi Diam Kamisan

Foto : Instagram Social Movement Institute

Oleh : Khairul Raziq

Puluhan orang berkumpul mengitari Tugu Yogyakarta, Kamis (5/9) sore, untuk menggelar Aksi Diam Kamisan. Zippo Surya Anggara Putra, salah satu anggota dari Social Movement Institute, menjelaskan bahwa Kamisan kali ini mengangkat isu Hak Asasi Manusia (HAM) yang berfokus pada terbunuhnya Munir, yang hampir 15 tahun kematiannya masih menyimpan sebuah misteri. Meskipun kematian Munir telah diusut, isu tersebut cenderung tidak pernah tuntas, masih menyisakan pelanggaran-pelanggaran HAM di dalamnya

Melihat antusiasme kalangan anak muda untuk turut berpartisipasi dalam Kamisan kali ini, Zippo mengaku senang. “Untuk Kamisan sekarang orang yang datang itu lebih banyak dari biasanya, biasanya kelihatannya itu cuma satu baris 5-7 orang, hari ini perkiraan lebih dari 35-40 orang itu udah luar biasa banget bisa memenuhi Tugu,” tambah Zippo. Ramainya partisipan yang datang diperkirakan karena tema yang diangkat cukup banyak dibicarakan dan diikuti oleh masyarakat. Selain itu, terlihat banyak mahasiswa baru yang turut serta dalam Kamisan beberapa minggu terakhir.

Rahmat Ramadhan, salah satu mahasiswa FE-UII yang juga turut serta melakukan Kamisan pada hari itu, menyatakan bahwa kegiatan ini cukup bermanfaat bagi mahasiswa untuk lebih memperhatikan kondisi sosial di masyarakat, “dengan adanya aksi Kamisan ini setidaknya tuh kita bisa mengetahui isu-isu sosial serta isu-isu pelanggaran HAM yang terjadi di negeri ini,” jelas Rahmat. 

Rahmat juga mengungkapkan bahwa Kamisan merupakan aksi yang istimewa. Dia mengaku mengikuti Aksi Kamisan ini ingin menumbuhkan rasa kepedulian dalam diri sendiri dan agar lebih terbuka terhadap pemikiran dan pendapat orang lain.

Menjelang waktu maghrib, aksi ini diakhiri dengan mimbar terbuka di pinggiran jalan dekat Tugu Yogyakarta. Ditutup dengan sepatah-dua kata dari beberapa orang yang mempunyai peran penting di balik diadakannya Aksi Diam Kamisan itu.

Aksi Diam Kamisan Yogyakarta

Aksi Diam Kamisan adalah sebuah aksi damai yang berlangsung pertama kali di Jakarta, 18 Januari 2007. Aksi tersebut dilakukan oleh para korban dan/atau keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia. 

Terkhusus di Yogyakarta, Kamisan diprakarsai oleh Social Movement Institute (SMI). Didominasi oleh kaum millennial yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka berdiri tegap, dan beberapa yang membawa payung hitam, gagah beraksi dengan membentangkan beberapa poster berisi kata-kata yang menentang ketidakadilan atas hak manusia. 

Ada yang unik dari aksi Kamisan ini, jika biasanya orang-orang beraksi dengan berteriak lantang, Kamisan yang ada di Yogyakarta justru memilih untuk lebih banyak diam. Sebenarnya aksi Kamisan ini bukan hanya sekadar aksi diam, namun ada pula orasi dari partisipan, hanya saja lebih banyak diam, sebab diam bukan berarti bungkam. Kamisan adalah aksi yang terbuka, berbagai kalangan boleh turut serta dalam aksi tersebut.

Zippo mengutarakan pengangkatan isu pada Aksi Kamisan bukan hanya berkutat pada pelanggaran HAM, tetapi lebih condong ke ranah ketidakadilan yang diterima masyarakat. Zippo menambahkan, bahwa Kamisan yang ada di Yogyakarta ini berbeda dengan yang ada di Jakarta. Aksi yang berada di Yogyakarta terkesan lebih fleksibel dan cenderung mengikuti isu-isu sektoral. Aksi ini juga tidak hanya terpaku pada isu-isu ketidakadilan, tetapi kerap kali juga dilakukan sebagai tindakan solidaritas, “yang terkena bencana bisa juga disalurkan di Aksi Kamisan,” pungkas Zippo.

Sampai saat ini Aksi Diam Kamisan di Yogyakarta masih tetap eksis menyuarakan isu yang melenceng dan merugikan masyarakat, utamanya pada perampasan hak-hak manusia. Bagi siapa saja yang ingin mengikuti Aksi Diam Kamisan, bisa langsung datang di Tugu Yogyakarta setiap hari Kamis pada sore hari. Panjang umur perjuangan! 

Reporter : Azizah, Arul, Ikrar

Editor : Ikrar

136 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *